Friday 1 May 2015

Serat Gatholoco Lengkap Edisi Jawa dan Terjemahan Bahasa Indonesia: Episode 1-16 (Tamat)

Serat Gatholoco




Terlepas dari segala kontroversinya, buku karangan ini adalah warisan budaya yang menarik untuk dikaji. Mengingat banyak para mahasiswa dan peneliti yang mengalami kesulitan dalam mengakses isi buku ini, semoga sedikit banyak tulisan ini bisa membantu...

Untuk Serat Darmagandhul bisa dilihat di sini: 
Serat Darmagandhul (1)
Serat Darmagandhul (2)
Serat Darmagandhul (3)

Serat Gatholoco merupakan karya sastra Jawa anonim yang muncul pada awal abad 19 di jaman Mataram Surakarta.
Yang menarik  adalah penyampaiannya yang sangat kontroversif dan vulgar. Tokoh Gatholoco dalam buku ini digambarkan sebagai sosok yang sangat buruk dan menjijikkan. Nama Gatholoco saja sudah memiliki arti yang sangat tabu yaitu “kelamin pria yang digosok”.
Gatholoco bukannya anti Islam, melainkan menggugat ketaktuntasan pemahaman terhadap Islam
Salah satu karya sastra jawa yang mengundang kontroversi yang seakan tak berujung adalah Serat Gatholoco, Saking kontroversialnya sehingga pernah dilarang peredarannya. 




SERAT GATHOLOCO (1)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
Purwaka
Pupuh I
Mijil
(Pembukaan, Kumpulan Syair I, Lagu ber-irama Mijil)
1. Prana putêk kapêtêk ngranuhi, wiyoganing batos, raosing tyas karaos kêkêse, têmah bangkit upami nyêlaki, rudah gung prihatin, nalangsa kalangkung.
Oleh sebab sesak yang semakin menjadi-jadi, yang muncul dalam hati, terasa bagai diiris-iris, bangkit semakin tak tertahan lagi, gelisah dan gundah, nelangsa berlebih-lebih.
2. Jroning kingkin sinalamur nulis, sêrat Gatholoco, cipteng nala ngupaya lêjare, tarlen muhung mrih ayêming galih, ywa kalatur sêdhih, minangka panglipur.
Ditengah keresahan sengaja aku menulis untuk menghibur, (menulis) sêrat Gatholoco, maksud hati mencari kejelasan, sehingga bisa menentramkan hati, supaya tidak sedih berlarut-larut, sebagai sarana menghibur diri.
3. Kang kinarya bebukaning rawi, Rêjasari pondhok, wontên Kyai jumênêng Gurune, tiga pisan wasis muruk ilmi, kathah para santri, kapencut maguru.
Sebagai cerita pembuka, (tersebutlah sebuah) pondok (pesantren) Rêjasari, ada Kyai berkedudukan sebagai guru, berjumlah tiga orang sangat pandai mengajarkan ilmu, banyak para santri, terpikat untuk berguru.
4. Bakda subuh wau tiga Kyai, rujuk tyasnya condhong, Guru tiga ngrasuk busanane, arsa linggar sadaya miranti, duk wanci byar enjing, sarêng angkatipun.
Seusai (shalat) Subuh ketiga Kyai (tersebut), sepakat bersama-sama, ketiga Guru berganti busana, hendak melakukan perjalanan semua (santri) telah menanti, tepat ketika pagi menjelang, berangkatlah bersama-sama.
5. Murid nênêm umiring tut wuri, samya anggêgendhong, kang ginendhong kitab sadayane, gunggung kitab kawan likur iji, ciptaning panggalih, tuwi mitranipun.
Diiringi enam orang murid mengikut dibelakang, masing-masing membawa, yang dibawa banyak kitab, jumlah kitab sebanyak dua puluh empat buah, tujuan perjalanan, hendak bertandang ke tempat seorang sahabat.
6. Ingkang ugi dadya Guru santri, ing Cêpêkan pondhok, Kyai Kasan Bêsari namane, wus misuwur yen limpad pribadi, putus sagung ilmi, pra Guru maguru.
Yang juga berkedudukan sebagai seorang Guru dari banyak para santri, di pondok (pesantren) Cêpêkan, bernama Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori), sudah terkenal akan kepandaiannya, menguasai segala macam ilmu, sehingga para Guru-pun berguru (kepadanya).
7. Datan wontên ingkang animbangi, pinunjul kinaot, langkung agêng pondhokan santrine, krana saking kathahipun murid, ujaring pawarti, pintên-pintên atus.
Tak ada yang mampu mengimbangi, terkenal dan dihormati, sangat besar pondok pesantrennya, karena memang muridnya-pun sangat banyak, menurut kabar, beratas-ratus (orang).
8. Amangsuli kang lagya lumaris, sadaya mangulon, sêpi mendhung sumilak langite, saya siyang lampahnya wus têbih, sunaring hyang rawi, sagêt bênteripun.
Kembali menceritakan mereka yang tengah berjalan, bergerak ke barat, tak ada mendung bergelayut sangat terang langit dikala itu, semakin siang perjalanan mereka semakin jauh, sinar hyang rawi (matahari), terasa menyengat panas.
9. Marma reren sapinggiring margi, ngandhap wringin ayom, ayêm samya anyêrêng kacune, tinamakkên ayoming waringin, pan kinarya linggih, jengkeng sêmu timpuh.
Oleh karenanya memutuskan untuk berhenti dipinggir jalan, tepat dibawah pohon beringin yang sejuk, segar terasa semua mengeluarkan sapu tangan ( pada jaman itu sapu tangan yang dipakai kebanyakan berukuran besar, seukuran handuk mini pada jaman sekarang), dibentangkan dibawah beringin, dipakai sebagai alas duduk, berjongkok setengah bersimpuh.
10. Êcisira cinublêskên siti, murid sami lunggoh, munggeng ngarsa ajejer lungguhe, kasiliring samirana ngidid, pating clumik muji, têsbehnya den etung.
Tongkat ditancapkan diatas tanah, para murid telah duduk semua, mengambil posisi duduk didepan ( dan menghadap Kyai Guru) berjajar-jajar, diterpa hembusan angin, bibir (ketiga Kyai Guru) berkomat-kamit melantunkan doa, sembari menghitung tasbih (masing-masing).
11. Murid nênêm ambelani muji, dikir lenggak-lenggok, manggut-manggut sirah gedheg-gedheg, dereng dangu nulya aningali, mring sajuga janmi, lir dandang lumaku.
Keenam murid mengikut berdoa, berdzikir kepalanya melenggak-lenggok, mengangguk-angguk kadang bergeleng-geleng pula, belum begitu lama lantas melihat, seorang manusia, (buruk rupa) bagaikan seekor burung gagak yang tengah berjalan.
Pupuh II
Dandanggula
(Kumpulan Syair II, Lagu ber-irama Dandanggula)
1. Êndhek cilik remane barintik, tur aburik wau rainira, ciri kera ing mripate, alis barungut têpung, irung sunthi cangkême nguplik, waja gingsul tur pêthak, lambe kandêl biru, janggut goleng sêmu nyênthang, pipi klungsur kupingira anjêpiping, gulu panggêl tur cêndhak.
Berpostur pendek dan kecil dengan rambut keriting, kulit wajahnya kasar, bermata kera (arah pandang mata yang tidak normal), alisnya tebal dan bertemu ujung keduanya, hidung pesek mulut maju, gigi gingsul besar berwarna putih, bibirnya tebal berwarna biru, janggut tumpul (tidak runcing) dan melebar jelek, pipinya kempot bentuk daun telinga maju (seperti telinga gajah), sedangkan leher besar dan pendek.
2. Pundhak brojol sêmune angêmpis, punang asta cêndhak tur kuwaga, ting carênthik darijine, alêkik dhadhanipun, wêtêng bekel bokongnya canthik, sêmu ekor dhêngkulnya, lampahipun impur, kulit ambêsisik mangkak, ambêngkerok napasira kêmpas-kêmpis, sayak lêsu kewala.
Pundak turun seperti luruh kebawah, tangannya pendek dan besar, jari jemarinya tidak rapi jelek, dadanya kempis, perut buncit kecil pantat kecil, lututnya kecil, tidak rapi saat berjalan, kulit tubuh seolah bersisik dengan warna gelap, saat bernafas suaranya terdengar dan tersengal-sengal, bagaikan orang yang tengah kelelahan.
3. Bêdudane pring tutul kinisik, apan blorok kuninge sêmu bang, asungsun tiga ponthange, bongkot têngah lan pucuk, timah budhêng ingkang kinardi, cupak irêng tur tuwa, gripis nyênyêpipun, mêlêng-mêlêng sêmu nglênga, labêt saking kenging kukus sabên ari, pangoturik den asta.
Pipa rokok yang dibawa berasal dari pohon bambu berukuran kecil yang digosok, warnanya kuning bersemu merah, diberikan hiasan pada tiga tempat, dibagian pangkal tengah dan ujung, timah hitam yang dipakai hiasan, terlihat jelek berwarna hitam pekat, dibagian untuk menghisap telah gripis (sedikit rusak), berminyak kehitam-hitaman, karena setiap saat terkena asap, walaupun begitu tetap saja dipakai.
4. Kandhutane klelet gangsal glindhing, alon lenggah cakêt Guru tiga, sarwi angempos napase, kapyarsa sênguk-sênguk, gandanira prêngus asangit, tumanduk mring panggenan, santri ingkang lungguh, Gatholoco ngambil sigra, kandhutane têgêsan kang aneng kendhit, gya nitik karya brama.
Bekal yang dibawa adalah candu tiga gelintir, pelan mengambil duduk dekat dengan ketiga Guru, terdengar suara nafasnya, tercium bau badan yang tidak sedap, prengus (istilah Jawa untuk mendefinisikan jenis bau yang mirip dengan bau kambing) sangit (istilah Jawa untuk mendefinisikan bau dari sisa pembakaran), menebar ke sekeliling, ditempat mana para santri tengah duduk, Gatholoco segera mengambil, bekal yang tersimpan dalam buntalan yang terikat dipinggangnya, lantas memantik korek api.
5. Nulya udut kebulnya ngêbuli, para santri kawratan sêdaya, asêngak sanget sangite, murid nênêm tumungkul, mêrgo sarwi atutup rai, sawêneh mithes grana, kang sawêneh watuk, mingsêr saking palênggahan, samya pindhah neng wurine guruneki, nyingkiri punang ganda.
Seketika asap rokok menyebar, semua santri terganggu, sêngak (istilah Jawa untuk mendefinisikan bau dari benda yang kotor) sangat sangit (lihat keterangan di syair: 5 diatas), kontan keenam murid mengalihkan pandangan dari Gatholoco, sembari menutup wajah (karena terganggu asap berbau tidak sedap), seorang lagi memencet hidung, seorang lagi terbatuk-batuk, segera mereka bergeser, duduk dibelakang para guru mereka, menghindari bau yang tak sedap.
6. Guru tiga waspada ningali, mring Wajuja ingkang lagya prapta, kawuryan mêsum ulate, sareng denira nebut, astagapirullah-hal-ngadim, dubillah minas setan, ilaha lallahu, lah iku manusa apa, salawase urip aneng dunya iki, ingsun durung tumingal.
Ketiga guru memperhatikan dengan seksama, kepada Wajuja (diambil dari nama sekelompok makhuk bar-bar pengganggu yang tertulis dalam Al-Qur’an, yaitu Ya’juj wa Ma’juj) yang baru datang ini, terlihat tidak patut tingkahnya, hampir bersamaan mereka berucap, Astaghfirullahal ‘adzim (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), Audzubillahiminassyaithon (Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan), Laillahailallahu (Tiada Tuhan selain Allah), Manusia apakan ini? selama hidupku didunia ini, aku belum pernah menjumpai.
7. Janma ingkang rupane kayeki, sarwi noleh ngandika mring sabat, Padha tingalana kuwe, manusa kurang wuruk, datan wêruh sakehing Nabi, neng dunya wus cilaka, iku durung besuk, siniksa aneng akherat, rikêl sewu siksane neng dunya kuwi, mulane wêkas ingwang.
Manusia yang berwujud seperti ini, sembari menoleh berkatalah kepada para sahabat (para santri), Lihatlah itu, manusia kurang pengajaran, tidak mengenal Para Nabi, didunia sudah celaka, belum kelak, disiksa di akherat, berlipat seribu siksaannya lebih dari siksaan didunianya kini, oleh karenanya aku berpesan.
8. Ingkang pêthel sinauwa ngaji, amrih wêruh sarak Rasulullah, slamêt dunya akherate, sapa kang nêja manut, ing saringat Andika Nabi, mêsthi oleh kamulyan, sapa kang tan manut, bakale nêmu cilaka, Ahmad Ngarip mangkana denira eling, Janma iku sun kira.
Yang rajin dalam mengaji, supaya mengetahui syari’at Rasulullah, akan selamat dunia akhirat, barangsiapa yang berkehendak menurut, kepada syari’at Baginda Nabi, pastilah akan mendapatkan kemuliaan, barangsiapa yang tak menurut, bakal menemukan celaka, begitulah pesan dari Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Manusia itu aku duga.
9. Dudu anak manusa sayêkti, anak Bêlis Setan Brêkasakan, turune Mêmêdi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Bêlis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawêtu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajêbug sigra ingambil, den untal babar pisan.
Bukan anak manusia sesungguhnya, akan tetapi anak Iblis Setan Brêkasakan (makhluk yang tidak karu-karuan hidupnya), keturunan Mêmêdi (makhluk yang menakutkan) atau Wewe (Jin perempuan yang berwujud jelek), Gatholoco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.
10. Pan sakala êndême mratani, mrasuk badan kulit dagingira, ludira otot bayune, balung kalawan sungsum, kêkiyatan sadaya pulih, kawistara njrêbabak, cahyanipun santun, Guru tiga wrin waspada, samya eram tyasnya ngungun tan andugi, pratingkah kang mangkana.
Seketika mabuklah dia, candu merasuk badan kulit dan dagingnya, darah otot dan kekuatannya, tulang dan sumsumnya, seluruh kekuatan terasa pulih, dapat dilihat dari wajahnya yang memerah, cahaya wajahnya kembali, ketiga Guru waspada mengamati, heran hati mereka tak bisa memahami, kelakuan yang seperti itu.
11. Abdul Jabar ngucap mring Mad Ngarip, Lah ta mara age takonana, apa kang den untal kuwe, lan sapa aranipun, sarta manêh wismane ngêndi, apa panggotanira, ing sadinanipun, lan apa tan adus toya, salawase dene awake mbasisik, janma iku sun kira.
Abdul Jabar berkata kepada (Ah)mad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Segeralah kamu tanyai, apa yang dimakannya barusan, dan siapa namanya, dan lagi rumahnya dimana, apa pekerjaannya, pekerjaan sehari-harinya, dan apakah tidak pernah mandi, sehingga kulitnya bersisik, manusia ini aku kira.
12. Ora ngrêti nyarak lawan sirik, najis mêkruh batal lawan karam, mung nganggo sênênge dhewe, sanajan iwak asu, daging celeng utawa babi, anggêr doyan pinangan, ora nduwe gigu, tan pisan wêdi duraka, Ahmad Ngarip mrêpeki gya muwus aris, Wong ala ingsun tannya.
Tidak mengetahui syari’at dan larangannya, najis makruh batal apalagi haram, hanya menuruti kesenangan sendiri, walaupun daging anjing, daging celeng maupun babi, kalau suka pasti dimakannya, tak memiliki rasa jijik, tak takut akan durhaka, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) mendekat dan segera berkata, Hai manusia jelek aku hendak bertanya.
13. Lah ta sapa aranira yêkti, sarta manêh ngêndi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad, Guru tiga ngrungu, sarêng denya latah-latah, Bêdhes buset aran nora lumrah janmi, jênêngmu iku karam.
Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!
14. Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggêguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun gêli, gumun mring jênêngira, Gatholoco muwus, Ing mangka jênêng utama, Gatho iku têgêse Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan.
Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan ( Gathel : Penis ), Loco artinya Dikocok.
15. Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yekti sun sauri bae, têtêlu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lêlima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya.
Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang Kinisik ( Barang yang sering digosok-gosokkan kepada lobang), satunya lagi Barang Panglusan (Barang yang sering dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan), akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.
16. Kyai Guru mangsuli Tan bêcik, jênêngira iku luwih ala, jalaran bangêt sarune, karam najis lan mêkruh, iku jênêng anyilakani, jênêng dadi duraka, jênêng ora patut, wus kasêbut jroning kitab, nyirik karam yen mati munggah suwargi, kang karam manjing nraka.
Kyai Guru menjawab Tidak patut, namamu itu sangat-sangat jelek, karena sangat tabunya, bukah hanya makruh tapi sudah najis bahkan haram! Itu nama yang mencelakakan, nama yang membuat orang menjadi durhaka, nama yang tidak patut, sudah disebutkan didalam kitab, apabila menghindari hal-hal yang haram jika meninggal kelak pasti akan naik ke surga, yang tidak menghindari hal-hal yang haram pasti kelak masuk neraka.
17. Gatholoco menjêp ngiwi-iwi, gya gumujêng nyawang Guru tiga, sarwi mangkana ujare, Sarak-ira kang kliru, sapa bisa angêlus wadi, yêkti janma utama, iku apêsipun, priyayi kang lungguh Dêmang, myang Panewu Wadana Kliwon Bupati, liyane ora bisa.
Gatholoco mencibir memperolok-olok, lantas tertawa memperhatikan ketiga Guru, sembari berkata demikian, Pemahamanmu atas syari’at salah! Siapa saja yang mampu mengerti rahasia (proses penciptaan melalui sexualitas), dialah manusia utama, hal inilah kelemahan, seluruh manusia walaupun berpangkat Dêmang, berpangkat Panêwu berpangkat Wadana berpangkat Kliwon maupun Bupati sekalipun, semuanya tidak ada yang memahami.
________________

SERAT GATHOLOCO (2)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
Yang disimpan oleh :
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
Sebelum melanjutkan ke-Pada (Syair) berikutnya (akan saya posting pada catatan bagian tiga), maka perlulah kiranya kita ulas beberapa Pada (Syair) yang telah saya posting pada catatan bagian pertama. Beberapa Pada (Syair) penting yang patut diulas agar tidak menimbulkan kesalah pemahaman adalah sebagai berikut :
1. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 9 :
Dudu anak manusa sayêkti, anak Bêlis Setan Brêkasakan, turune Mêmêdi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Bêlis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawêtu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajêbug sigra ingambil, den untal babar pisan.
Bukan anak manusia sesungguhnya, akan tetapi anak Iblis Setan Brêkasakan (makhluk yang tidak karu-karuan hidupnya), keturunan Mêmêdi (makhluk yang menakutkan) atau Wewe (Jin perempuan yang berwujud jelek), Gatholoco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.
Penulis Gatholoco tampaknya mengambil pola pikir dari ajaran Shiwa Tantrayana yang sangat populer ditanah Jawa pada masa lampau. Dalam kitab Mahanirvana Tantra jelas disebutkan sebagai berikut :
“Pautvaa pitvaa punah pitvaa yaavat patati bhuutale, Punarutyaaya dyai potvaa punarjanma ga vidhate.”
“Minum, teruslah minum hingga kamu terjerembab ke tanah. Lantas berdirilah kembali dan minum lagi hingga sesudah itu kamu akan terbebas dari punarjanma (kelahiran kembali) dan mencapai kesempurnaan (Moksha).”
Maksud dari sutra ini, tak lain adalah meminum minuman spiritual, bukan minuman berwujud fisik yang mengandung alkhohol. Seseorang yang terus meminum anggur spiritualitas hingga jatuh bangun, dan tetap tidak jera untuk terus mereguknya, maka hanya dengan jalan seperti itu, dapat dipastikan, Kesadaran akan tertempa, terbangun dan terasah.
Meminum anggur spiritualitas sehingga mabuk, atau dalam syair diatas digambarkan memakan CANDU SPIRITUALITAS, sehingga terikat betul dengan Ke-Illahi-an, sehingga KECANDUAN betul dengan Kesempurnaan, adalah prasyarat mutlak bagi siapa saja yang ingin menggapai Kesadaran Purna.
2. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 11 :
Abdul Jabar ngucap mring Mad Ngarip, Lah ta mara age takonana, apa kang den untal kuwe, lan sapa aranipun, sarta maneh wismane ngêndi, apa panggotanira, ing sadinanipun, lan apa tan adus toya, salawase dene awake mbasisik, janma iku sun kira.
Abdul Jabar berkata kepada (Ah)mad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Segeralah kamu tanyai, apa yang dimakannya barusan, dan siapa namanya, dan lagi rumahnya dimana, apa pekerjaannya, pekerjaan sehari-harinya, dan apakah tidak pernah mandi, sehingga kulitnya bersisik, manusia ini aku kira.
Masyarakat awan atau dalam istilah Tassawuf Islam disebut Mukmin ‘Am (seringkali ditulis dengan logat Mukmin Ngam dalam setiap sastra Jawa klasik) atau Walaka dalam istilah Shiwa Buddha, sudah barang tentu akan keheran melihat tingkah laku manusia-manusia aneh yang kecanduan spiritualitas seperti Gatholoco. Mereka akan bertanya-tanya, apa yang di-‘makan’-nya? Apa yang di-‘telan’-nya sehingga demikian ‘gila’-nya itu orang? Fenomena ini digambarkan secara konotatif dalam adegan diatas. Dimana sosok manusia Gatholoco menelan candu didepan para agamawan sehingga membuat keheranan mereka.
Manusia Gatholoco akan membuat logika spiritual orang awam terjungkir-balikkan, bahkan mereka yang mengaku agamawan sekalipun akan dibuat kalang-kabut olehnya. Manusia Gatholoco sangat unik karena benar-benar mabuk oleh candu Illahi. Siapapun yang mabuk candu Illahi, maka Kesadarannnya akan terayun kesegala arah bagai Palu Illahi yang tanpa ampun akan menggedor sekat-sekat sempit pemahaman awam tentang syari’at. Fenomena yang dialami oleh manusia Gatholoco, akan sulit dipahami oleh mereka yang tidak mau menikmati candu yang sama.
3. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 13 :
Lah ta sapa aranira yêkti, sarta maneh ngêndi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad, Guru tiga ngrungu, sarêng denya latah-latah, Bêdhes buset aran nora lumrah janmi, jênêngmu iku karam.
Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!
Manusia Gatholoco akan menyatakan dirinya sebagai Lanang Sujati (Hal ini akan diuraikan dalam syair ke-18 pada bagian tiga) yang bertempat tinggal di TENGAH-TENGAH DUNIA. Tengah-tengah dunia menyiratkan bahwa DIA TIDAK DITIMUR TIDAK DIBARAT TIDAK DIUTARA TIDAK DISELATAN TIDAK PULA DI ATAS, DITENGAH ATAU DIBAWAH. SEMUA ARAH ADALAH TEMPATNYA.
Dualitas duniawi, senang-sedih, panas-dingin, tinggi-rendah, nikmat-sakit, hidup-mati dan sebagainya akan menyeret manusia awam kearah salah satu kutub-nya. Namun bagi manusia Gatholoco, dia telah mampu berpijak ditengah-tengah keduanya. Berpijak dalam keadaan seimbang total! Manusia Gatholoco telah melampaui dualitas duniawi!
Manusia Gatholoco tidak condong ke kanan maupun kekiri. Manusia Gatholoco telah melampaui dualitas duniawi (Rwabhineda) sehingga tepatlah jika dikatakan KEDUDUKAN DIA BERADA DITENGAH-TENGAH JAGAD atau DUNIA!
4. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 14 :
Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggêguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun gêli, gumun mring jênêngira, Gatholoco muwus, Ing mangka jênêng utama, Gatho iku têgêse Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan.
Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan ( Gathel : Penis ), Loco artinya Dikocok.
Inilah pernyataan Gatholoco yang sangat vulgar tentang arti namanya. Gatho atau GATHEL (maaf) dalam bahasa Jawa berarti PENIS, sedangkan LOCO artinya KOCOK. Gatholoco tak lebih berarti KOCOKAN DARI PENIS. Dan akibat dari aktifitas KOCOKAN ini, pada ujungnya memuncak pada fenomena TERPANCARNYA CAIRAN SPERMA. Arti nama Gatholoco sangatlah tabu jika hal ini dikaitkan dengan etika masyarakat pada umumnya. Namun bagaimana-pun juga, manusia yang terdiri dari tiga bentukan badan (sarira) sesuai dengan mantra-mantra yang ada dalam ATMOPANISHAD, yaitu Badan Fisik atau ‘STHULA SARIIRA’, Badan Halus atau ‘SUKSMA SARIIRA’ dan Badan Sejati atau ‘ATMA SARIIRA’, semua memang tercipta dari fenomena ‘PANCARAN’ ini.
Dalam istilah Tassawuf Islam, Badan Fisik (STHULA) disebut ‘JASAD’ dan dalam istilah Islam Kejawen, disebut ‘DHINDHING JALAL ARAN KIJAB (Dinding Agung Yang Disebut Hijab ; Penghalang/Tabir/Tirai)’.
Sedangkan Badan Halus (SUKSMA) dalam istilah Tassawuf Islam disebut ‘NAFS (Pribadi/personil)’ dan dalam Islam Kejawen disebutROH ILAPI (Ruh Idlafi), DAMAR ARAN KANDHIL (Pelita bernama Kandil) dan SESOTYA ARAN DARAH (Cahaya bernama Darah)
Badan Sejati (ATMA) dalam istilah Tassawuf Islam disebut ‘RUH’ dan dalam Islam Kejawen disebut ‘KAYU SAJARATUL YAKIN (Hayyu Syajaratul Yaqin ; Hidup Sebagai Pohon/Akar Keyakinan Utama)’ , NUR MUHAMMAD (Cahaya Terpuji) dan KACA ARAN MIRATULKAYAI (Cermin bernama Mir’atul Haya’; Mir’ah = Cermin, Haya’ = Malu) atau cukup disebut ‘KANG NGURIPI (Yang membuat manusia hidup)’.
Dalam istilah Kristiani, Badan Fisik (STHULA) dan Badan Halus (SUKSMA) , keduanya di sebut tataran ‘DAGING’. Dan Badan Sejati (ATMA) disebut ‘ROH KUDUS’!
Dalam tataran materi (Skala), proses terbentuknya Badan Fisik dan Badan Halus tidak bisa lepas dari fenomena ‘TERPANCARNYA SPERMA KEDALAM RAHIM SEBAGAI PUNCAK DARI SEBUAH AKTIFITAS SEXUAL’. Tak jauh beda pula pada tataran Immateri (Niskala), terciptanya Atma dan seluruh semesta ini tak lepas pula dari fenomena dahsyat ‘PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA APA YANG DINAMAKAN PRAKRTI.
BRAHMAN yang mutlak atau PARAMASHIWA, yaitu SUMBER SEGALA SUMBER HIDUP INI atau HIDUP itu sendiri (Tassawuf Islam menyebutnya ‘ALLAH’, Kejawen menyebutnya ‘URIP’ yang artinya adalah ‘Hidup’, Kristiani menyebutnya ‘ALLAH BAPA’), Yang Melampaui Segalanya, Mengatasi Segalanya, Tidak diketahui apa sesungguhnya Dia, Mengatasi segala pribadi, Sempurna, Yang Murni dan sebagainya, pada suatu saat, berkehendak mempersempit ke-Mutlak-an-Nya.
Proses ini dinamakan DOSHA atau KESALAHAN. Sebuah DOSHA yang memang disengaja oleh-Nya. BRAHMAN atau PARAMASHIWA yang mempersempit ke-Mutlak-an-Nya ini lantas mengenakan sifat MAHA. MAHA ADA, MAHA KUASA, MAHA AGUNG, MAHA SUCI dan sebagainya. Dia lantas dikenal dengan nama PURUSHA yang artinya YANG BERKEHENDAK atau SADASHIWA (Tassawuf Islam menyebutnya ‘NURUN ‘ALA NUURIN’ yang artinya ‘Cahaya Diatas Cahaya’. Kejawen menyebutnya ‘KANG GAWE URIP’ yang artinya ‘Yang Menyebabkan adanya kehidupan material’. Kristiani menyebutnya ‘ALLAH PUTRA’).
Bersamaan proses mempersempit ke-Mutlak-an-Nya tersebut, tercipta bayangan BRAHMAN atau PARAMASHIWA yang disebut PRAKRTI. PRAKRTI inilah cikal-bakal bahan materi seluruh alam semesta. (PRA : Sebelum, KRTI : Membuat). PRAKRTI mengandung unsur negatif dan positif semesta, PRAKRTI inilah yang sesungguhnya dalam tradisi agama timur tengah disebut PENGHULU MALAIKAT dan IBLIS itu sendiri!
Bahan-bahan positif dari PRAKRTI yang kelak membentuk Badan Halus dan Badan Kasar manusia dengan unsur positif-nya, inilah yang disimbolkan sebagai MALAIKAT YANG MENJAGA MANUSIA. Sedangkan bahan-bahan negatif PRAKRTI yang kelak membentuk Badan Halus dan Badan Kasar manusia dengan unsur negatif-nya, inilah yang disimbolkan sebagai SETAN-SETAN YANG MENGGODA MANUSIA!
UNSUR POSITIF ALAM DIDALAM PRAKRTI ITULAH PARA PENGHULU MALAIKAT! UNSUR NEGATIF ALAM DIDALAM PRAKRTI ITULAH IBLIS.
SEGALA HAL YANG TERDAPAT DALAM BADAN HALUS DAN BADAN KASAR ANDA YANG MENUNJANG KEARAH KEBENARAN, ITULAH MALAIKAT PENDAMPING ANDA! SEGALA HAL YANG TERDAPAT DALAM BADAN HALUS MAUPUN BADAN KASAR ANDA YANG SENANTIASA MENGGANGGU ANDA BERJALAN DIJALAN KEBENARAN, ITULAH ANAK-ANAK IBLIS YANG DISEBUT SETAN! BUKALAH KESADARAN ANDA SAAT INI JUGA!
MALAIKAT tercipta dari CAHAYA. IBLIS tercipta dari API. CAHAYA dan API tidak bisa dipisahkan! Mengapa masih juga anda tidak mengerti dengan simbolisasi seperti ini?
Akibat PANCARAN ENERGI DARI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI, maka terperciklah tak terhitung ATMA-ATMA sebagai percikan PURUSHA. Bagai API dengan PERCIKANNYA. Bagai AIR dengan TETESANNYA.
Bahkan dari proses PANCARAN ENERGI ini, tercipta pula bahan-bahan material alam semesta sebagai bakal wadah bagi Atma-Atma.
Dari PURUSHAatau SADASHIWA terciptalah ATMA-ATMA, dan dari bahan-bahan material akibat PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI terciptalah kelak Badan Halus (SUKSMA) dan Badan Fisik (STHULA).
PRAKRTI HANYA SEKEDAR SEBAGAI TEMPAT PENAMPUNGAN SEMUA ITU. PRAKRTI IBARAT RAHIM SEMESTA!
Dan semua proses ini tak lain berawal dari PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI.
Dan proses ini diulang kembali, dalam bentuk aktifitas badaniah antara laki-laki dan wanita yang dinamakan sexualitas. Dimana penis makhluk jantan harus dikocok didalam vagina makhluk wanita (Gatholoco) agar memancarlah sperma yang penuh dengan berjuta-juta bibit kehidupan (Atma) kedalam rahim.
Proses sexualitas, adalah proses pematangan agar Atma benar-benar dibungkus oleh Badan Halus (Suksma) dan Badan Fisik (Sthula) didalam kandungan seorang wanita selama rentang waktu sembilan bulan sepuluh hari.
Nama Gatholoco sangat tabu, tapi dari Gatholoco-lah seluruh kehidupan tercipta. Maka sesungguhnya benar apa yang dikatakan Gatholoco, bahwa nama yang dipakainya adalah nama Rahasia Yang Mulia.
5. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 15 :
Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yêkti sun sauri bae, têtêlu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lêlima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya.
Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang Kinisik ( Barang yang sering digosok-gosokkan kepada lobang), satunya lagi Barang Panglusan (Barang yang sering dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan), akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.
Nama lain GATHOLOCO adalah BARANG KINISIK (Benda yang digosok-gosokkan didalam lobang) dan satunya lagi BARANG PANGLUSAN (Benda yang dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan). Maknanya tiada beda, tak lain adalah PENIS YANG DIKOCOK.
KESADARAN MANUSIA GATHOLOCO MAMPU MEMAHAMI, bahwasanya cikal bakal kehidupan manusia dan beberapa makhluk yang mulai berkembang Kesadaranya, HARUS MELALUI PROSES PANCARAN SPERMA KEDALAM RAHIM.
Lebih tinggi dari itu, KESADARAN MANUSIA GATHOLOCO JUGA MEMAHAMI, bahwa SELURUH SEMESTA RAYA INI TERCIPTA JUGA AKIBAT PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEDALAM KANDUNGAN PRAKRTI!
Proses ini adalah sebuah proses yang SAKRAL dan SUCI. Jadi sangat-sangat tidak patut jika aktifitas sexual hanya dipergunakan untuk sekedar mengejar sensasi kenikmatan belaka!
Manusia-manusia Gatholoco hanya akan MENGKOCOK PENIS MEREKA KEDALAM LIANG VAGINA sekedar untuk memberikan jalan bagi kelahiran kembali para Atma yang hendak melanjutkan proses evolusinya dialam manusia.
Manusia-manusia yang bukan manusia Gatholoco hanya akan melakukan PENGKOCOKAN PENIS MEREKA KEDALAM VAGINA sekedar untuk menikmati sensasi kenikmatannya belaka!
Laki-laki yang memahami hal ini, patut disebut PRIA SEJATI. Begitu juga wanita yang memahami akan hal ini, sepatutnya juga disebut WANITA SEJATI.
ITULAH BEDA MANUSIA GATHOLOCO DAN YANG BUKAN MANUSIA GATHOLOCO! SEMOGA ANDA SEMUA MEMAHAMI MAKSUD PENULIS GATHOLOCO DAN TIDAK SALAH MENGERTI KARENANYA!
_________________

SERAT GATHOLOCO (3)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
18. Rehning ingsun tan dadi priyayi, mung jênêngku jênêng Wadi Mulya, supaya turunku têmbe, dadi priyayi agung, Abdul Jabar angucap bêngis, Dhapurmu kaya luwak, nganggo sira ngaku, lamun Sujatine Lanang, Gatholoco gumujêng alon nauri, Ucapku nora salah.
Walaupun aku bukan priyayi (bangsawan), akan tetapi namaku adalah Rahasia Mulia, supaya kelak para keturunanku, akan menjadi priyayi (bangsawan) besar (maksud Gatholoco, bangsawan spiritualitas), Abdul Jabar berkata bengis, Rupamu saja seperti Luwak (binatang sejenis musang yang berwujud jelek)! Bisa-bisanya mengaku, sebagai Sujatine Lanang (Sejatinya Lelaki), Gatholoco tertawa dan menjawab pelan, Ucapanku tidak salah.
19. Ingsun ngaku wong Lanang Sujati, basa Lanang Sujati têmênan, wadiku apa dhapure, Sujati têgêsipun, ‘ingSUn urip tan nêJA maTI’, Guru tiga angucap, Dhapurmu lir antu, sajêge tan kambon toya, Gatholoco macucu nulya mangsuli, Ewuh kinarya siram.
Aku mengaku sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati), arti dari Lanang Sujati (Lelaki Sejati) sesungguhnya adalah, aku disebut LANANG karena memahami Rahasia Mulia barang (penis)-ku, sedangkan SUJATI (Sejati) artinya ‘ingSUn urip tan nêJA ma TI’ (Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati Selamanya). Ketiga Guru berkata, Rupamu seperti hantu, tak pernah tersentuh air, Gatholoco cemberut lantas menjawab, Aku bingung hendak mandi dengan apa.
20. Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus gênine, jro badan isi latu, yen rêsika sun gosok siti, asline saking lêmah, sun dus-ana lesus, badanku sumbêr maruta, tuduhêna kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga.
Jikalau aku harus mandi menggunakan air, tubuhku sudah penuh dengan unsur air, jikalau harus mandi menggunakan api, didalam badan penuh unsur api, jikalau harus membersihkan diri dengan menggunakan tanah, sudah jelas daging ini berasal dari tanah, aku mandi menggunakan angin leysus, badanku sumber dari angin, beritahu kepadaku apa yang harus aku pakai untuk mandi? Ketiga Guru menjawab.
21. Asal banyu yêkti adus warih, dimen suci iku badanira, Gatholoco sru saure, Sira santri tan urus, yen suciya sarana warih, sun kungkum sangang wulan, ora kulak kawruh, satêmêne bae iya, ingsun adus Tirta Tekad Suci Êning, ing tyas datan kaworan.
Tubuhmu berasal dari cairan (sperma) sudah layak jika mandi menggunakan air, agar suci dirimu itu, Gatholoco lantang menjawab, Kalian santri bodoh! Jikalau bisa suci karena mandi dengan air, aku akan berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu (Ke-Tuhan-an), ketahuilah bahwa sesungguhnya, aku telah mandi Air Tekad Suci yang Jernih, yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh.
22. Bangsa salah kang kalêbu ciri, iya iku adusing manusa, ingkang sabênêr-bênêre, Kyai Guru sumaur, Wong dhapure lir kirik gêring, sapa ingkang pracaya, nduwe pikir jujur, sira iku ingsun duga, ora nduwe batal karam mêkruh najis, wêruhmu amung halal.
Segala macam perbuatan yang salah, itulah mandi yang sesungguhnya bagi manusia, mandi yang sebenar-benarnya mandi, Kyai Guru menyahut, Rupamu saja seperti kirik gêring (anjing penyakitan), siapa yang bakalan mempercayai, jika kamu memiliki kejujuran? Jika tak salah dugaanku, kamu pasti tidak mengenal peraturan tentang batal haram makruh najis, yang kamu ketahui hanya halal saja.
23. Najan arak iwak celeng babi, anggêr doyan mêsthi sira pangan, ora wedi durakane, Gatholoco sumaur, Iku bênêr tan nganggo sisip, kaya pambatangira, najan iwak asu, sun titik asale purwa, lamun bêcik tan dadi sêriking janmi, najan babi celenga.
Walaupun arak daging celeng dan babi, asal kamu doyan pasti kamu makan, tidak takut dosa, Gatholoco menyahut, Benarlah dan tidak salah, semua dugaanmu kepadaku itu, walaupun daging anjing, aku teliti asal usulnya, manakala diperoleh dengan jalan yang tidak menyakiti sesama manusia, begitupun juga walau daging babi dan celeng.
24. Ngingu dhewe awit saking cilik, sapa ingkang wani nggugat mring wang, halal-e ngungkuli cêmpe, sanajan iwak wêdhus, yen asale srana tan bêcik, karam lir iwak sona, najan babi iku, tinilik kawitanira, yen purwane ngingu dhewe awit gênjik, luwih saking maenda.
Apabila didapat dari hasil beternak sendiri (bukan hasil curian), siapa yang bakalan berani melarangku (untuk memakannya)? Halal-nya melebihi daging kambing, walaupun daging kambing, jika diperoleh dengan jalan tidak baik, itu haram melebihi daging anjing, telitilah asal usulnya, jika daging tersebut berasal dari binatang yang kita pelihara sendiri semenjak kecilnya, halal-nya melebihi kambing!
25. Najan wêdhus nanging nggonmu maling, luwih babi iku karam-ira, najan mangan iwak celeng, lamun asale jujur, mburu dhewe marang wanadri, dudu celeng colongan, halal-e kalangkung, sanajan iwak maesa, yen colongan luwih karam saking babi, ujarnya Guru tiga.
Walaupun kambing namun hasil dari mencuri, melebihi babi itu haram-nya, walaupun memakan daging celeng, tapi jika diperoleh dengan cara yang jujur, berburu sendiri dihutan, bukan celeng curian, halal-nya luar biasa, walaupun daging kerbau, namun hasil curian lebih haram dari babi, Ketiga Guru berkata.
26. Luwih halal padune si Bêlis, pantês têmên uripmu cilaka, kamlaratan salawase, tan duwe bêras pantun, sandhangane pating saluwir, kabeh amoh gombalan, sajêge tumuwuh, ora tau mangan enak, ora tau ngrasakake lêgi gurih, kuru tan darbe wisma.
Memang halal menurut Iblis! Pantas jika hidupmu celaka, melarat selamanya, tak memiliki makanan cukup, busana-pun compang camping, semua hanya gombal lusuh, selama hidup, tak pernah memakan makanan enak, tidak pernah menikmati rasa manis dan gurih, makanya kurus kering dan tak memiliki rumah.
27. Gatholoco ngucap anauri, Ingkang sugih sandhang lawan pangan, pirang kêthi momohane, kalawan pirang tumpuk, najis ingkang sira simpêni, Guru tiga duk myarsa, gumuyu angguguk, Sandhangan ingkang wus rusak, awor lêmah najisku kang tibeng bumi, kabeh wus awor kisma.
Gatholoco menjawab, Yang kaya akan busana dan makanan, berapa peti jumlah busananya, berapa tumpuk persediaan makanannya, itu najis jika cuma kamu simpan sendiri, Ketiga Guru begitu mendengar, seketika tertawa geli, Pakaian yang sudah kotor dan jelek, kami jadikan satu ditanah bersama kotoranku, semua sudah kubuang menjadi satu ke tanah! (Lantas mana yang disebut najis dalam hal semua pakaian yg kumiliki?)
28. Gatholoco anauri malih, Yen mangkono isih lumrah janma, ora kinaot arane, beda kalawan Ingsun, kabeh iki isining bumi, sakurêbing akasa, dadi darbek-Ingsun, kang anyar sarwa gumêbyar, Sun kon nganggo marang sanak-sanak mami, Ngong trima nganggo ala.
Gatholoco menyahuti lagi, Jikalau begitu jelas kalian hanya manusia lumrah, bukan manusia pilihan namanya, berbeda dengan-Ku, sesungguhnya semua yang ada dibumi, dan yang ada dibawah langit, adalah milik-Ku, yang baru dan gemerlap, sengaja Aku berikan kepada saudara-saudaraku (semua makhluk hidup), Aku rela memakai yang jelek-jelek saja.
29. Apan Ingsun trima nganggo iki, pêpanganan ingkang enak-enak, kang lêgi gurih rasane, pêdhês asin sadarum, Sun kon mangan mring sagung janmi, ingkang sinipat gêsang, dene Ingsun amung, ngawruhi sadina-dina, Sun tulisi sastrane salikur iji, Sun simpên jroning manah.
Cukuplah Aku memakan yang ini saja, segala makanan yang enak-enak, yang manis gurih rasanya, pedas dan asin semuanya, Aku berikan untuk dimakan oleh seluruh manusia, dan semua makhluk yang bersifat hidup, sedangkan Aku hanyalah, meneliti setiap hari, Ku catat dalam sebuah sastra sebanyak Duapuluh Satu buah (angka Dua melambangkan mereka yang masih terikat Dualitas duniawi, angka Satu melambangkan mereka yang telah lepas dari Dualitas duniawi. Manusia yang Kesadarannya tinggi, mampu meneliti dan mengamati kedua jenis tingkatan kesadaran para manusia tersebut. Inilah makna Sastra Salikur Iji atau Sastra Duapuluh Satu yang dimaksud Gatholoco), dan Aku simpan didalam hati.
30. Ingsun dhewe mangan sabên ari, Ingsun milih ingkang luwih panas, sarta ingkang pait dhewe, najise dadi gunung, kabeh gunung ingkang ka-eksi, mulane kang bawana, padha mêtu kukus, tumuse gêni Sun pangan, ingkang dadi padhas watu lawan curi, klelet ingkang sun pangan.
Yang Ku-makan setiap hari, Ku-pilih yang sangat panas, dan yang terlampau pahit (maksudnya semua unsur-unsur negatif Alam yang terlalu ekstrim), kotoran (batin)-Ku menjadi gunung, seluruh gunung yang terlihat, (maksudnya, semua unsur negatif yang terlalu ekstrim dari Alam, mampu didaur ulang menjadi unsur yang lebih positif melalui olah batin dari manusia-manusia yang berkesadaran tinggi. Dilambangkan dengan keberadaan sebuah gunung yang menyimpan api menakutkan, namun lava dari gunung berapi, sangat bermanfaat menyuburkan tanah, sehingga tanaman apapun akan gampang tumbuh disekeliling gunung berapi. Jelasnya, dari sesuatu yang menakutkan semacam gunung berapi, mampu didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi manusia. Begitu pula proses daur ulang yang secara tidak disadari telah dilakukan oleh manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco kepada semua unsur negatif alam yang terlalu ekstrim), apa sebabnya dunia diliputi asap saja (maksudnya, banyak unsur api terlampau ekstrim yang sesungguhnya melingkupi dunia ini, namun berkat manusia-manusia yang penuh kesadaran semacam Gatholoco, secara tidak sengaja, mereka-mereka ini menyerap unsur api yang terlalu ekstrim tersebut dan didaur ulang menjadi unsur api positif yang lebih bermanfaat. Jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco, dapat dipastikan, meteor-meteor raksasa dan hal-hal ekstrim lainnya, akan menghantam dan mengacaukan bumi tanpa ada penghalang lagi! Sadarilah ini!), sebab api telah Aku makan, kotoran (batin)-Ku menjadi batu cadas (seperti halnya dipilihnya ‘Gunung’ sebagai sebuah perumpamaan proses pendaur ulang-an unsur ektrim Alam agar menjadi lebih bermanfaat, ‘Batu Cadas’ dipilih pula karena identik dengan kekokohan, sesuatu yang kokoh kuat. Maksudnya jelas, unsur ekstrim alam, bisa diubah menjadi sesuatu yang stabil demi keberlangsungan semesta sebagai tempat berevolusi. Berterima kasihlah kepada manusia-manusia berkesadaran tinggi seperti Gatholoco!) Aku cukup memakan candu ini. (maksudnya candu spiritualitas)
31. Sadurunge Ingsun ngising najis, gunung iku yêkti durung ana, benjang bakal sirna maneh, lamun Ingsun wus mantun, ngising tai mêtu têka silit, titenana kewala, iki tutur-Ingsun, Guru tiga duk miyarsa, gya micara astane sarwi nudingi, Layak kuru tan pakra.
Sebelum Aku membuang kotoran (batin), seluruh gunung belumlah tercipta (maksudnya, dunia tidak akan stabil sebagai tempat yang sesuai bagi proses evolusi jiwa jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi yang mampu mendaur ulang unsur-unsur ekstrim Alam seperti Gatholoco), kelak akan sirna kembali, jika Aku sudah tidak lagi, membuang kotoran lewat dubur, nyatakanlah kelak, apa yang Aku katakan ini. (maksudnya jika manusia-manusia yang berkesadaran tinggi hilang dari muka bumi, dapat dipastikan kiamat dunia akan tercipta!). Ketiga Guru begitu mendengar, segera berkata sembari menuding, Makanya kurus kering tidak lumrah manusia (tubuhmu).
32. Gatholoco sigra anauri, Mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jêng Nabi Rasul, sabên ari ingsun turuti, tindak mênyang ngêpaken, awan sore esuk, mundhut candhu lawan madat, dipun dhahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan.
Gatholoco segera menjawab, Tubuhku kurus disebabkan, karena menuruti perintah, Gusti (Kang)jêng Nabi Rasul(lullah), setiap hari aku turuti, bertandang ke tempat madat, siang sore pagi, mengambil candu dan madat, dimakan langsung maupun dibakar lalu dihisap, Allah yang memberikan ijin. (Maksudnya Kangjêng Nabi Rasul dalam kesadaran Gatholoco, bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Ruh-nya sendiri, Atma-nya sendiri. Suara Atma, suara Ruh, yang sering diistilahkan dengan SUARA NURANI, memerintahkan manusia-manusia seperti Gatholoco untuk terus mabuk spiritual, agar terus ke-Candu-an dengan Ke-Illahi-an. Dan Allah-pun me-ridloi!)
33. Kangjêng Rasul yen tan den turuti, muring-muring bangêt nggone duka, sarta bangêt paniksane, ingsun tan bisa turu, Guru tiga samya nauri, Mung lagi tatanira, Kangjêng Nabi Rasul, karsa tindak mring ngêpaken, Kangjêng Rasul pêpundhene wong sabumi, aneng nagara Mekah.
Kangjêng Rasul(lullah) manakala tidak ditaati perintahnya, marah-marah sangat berang, dan kejam menyiksa, membuat aku tak bisa tidur. (Maksud Gatholoco, jika SUARA NURANI-nya yang berasal dari Ruh-nya sendiri, dari Atma-nya sendiri tidak dia dengarkan, dampaknya akan terjadi konflik batin yang berujung pada ketidaknyamanan diri, keresahan diri, sehingga membuat dia tidak bisa tidur!) Ketiga Guru segera menjawab, Ucapan tidak pantas, mengatakan Kangjêng Nabi Rasul(lullah), mengutus agar bertandang ketempat madat! Kangjêng Rasul(lullah) adalah sosok yang diagungkan oleh seluruh manusia, berada di negara Makkah!
34. Gatholoco anauri aris, Rasul Mêkah ingkang sira sêmbah, ora nana ing wujude, wus seda sewu taun, panggonane ing tanah Arbi, lêlakon pitung wulan, tur kadhangan laut, mung kari kubur kewala, sira sêmbah jungkar-jungkir sabên ari, apa bisa tumêka.
Gatholoco menjawab pelan, Rasul yang ada di Mekkah yang kamu agungkan, sudah tidak ada lagi wujudnya (Telah mencapai Kesempurnaan), sudah meninggal seribu tahun yang lalu, makamnya di tanah Arab, perjalanan selama tujuh bulan untuk kesana, harus menyeberangi lautan, sekarang hanya tinggal kuburannya saja, kamu agungkan setiap hari sembari berjungkir balik, tidak mungkin beliau menemuimu? (Nabi Muhammad telah mencapai Kesempurnaan. Sebelum mencapai tingkat ini, beliau telah meninggalkan PETUNJUK bagi para pengikutnya, yaitu Al-Qur’an dan Hadist demi pegangan sebagai acuan peningkatan Kesadaran mereka. Dari kedua petunjuk ini, para pengikut beliau harus mampu meneladani, mengamalkan dan HARUS MANDIRI! SEKALI LAGI, HARUS MANDIRI! KESADARAN TIDAK BISA DIBUAT OLEH ORANG LAIN! MAKA NABI MUHAMMAD TIDAK AKAN MUNGKIN TERUS HADIR MEMBERIKAN PETUNJUK, KARENA APA YANG TELAH BELIAU TINGGALKAN SUDAH CUKUP! BERSIKAPLAH DEWASA! JANGAN KAYAK ANAK KECIL YANG TERUS MEREPOTKAN ORANG TUA! MANDIRILAH! ITU MAKSUD GATHOLOCO! )
35. Sêmbahira dadi tanpa kardi, luwih siya marang raganira, tan nêmbah Rasule dhewe, siya marang uripmu, nêmbah Rasul jabaning dhiri, kabeh sabangsanira, iku nora urus, nêbut Allah siya-siya, pating brêngok Allah ora kober guling, kabrêbêgên suwara.
Pujianmu tiada guna, menyusahkan diri sendiri, tak mengagungkan Rasul (Utusan) sendiri ( Rasul sendiri, maksudnya adalah Atma, Ruh, Percikan Tuhan yang merupakan inti sari setiap makhluk! Ruh kita, Atma kita inilah UTUSAN YANG SESUNGGUHNYA), menyia-nyiakan hidupmu, mengagungkan Rasul diluar diri, semua orang yang sepertimu, tidak memahami yang sebenarnya (Disini sebenarnya sebuah rahasia Sahadat Sejati telah diuraikan oleh Gatholoco, YAITU…………………………………….-maaf saya belum berani menguraikan disini-…………………………………), menyebut nama Allah dengan sia-sia, teriak-teriak membuat Allah tidak sempat tidur, terganggu suara kalian yang sangat berisik (Ungkapan keprihatinan untuk mengkritik kebiasaan mukmin awam yang suka beribadah disertai rasa pamer, riya’. Ibadah tidak perlu ditunjuk-tunjukkan. Lakukan diam-diam. Tidak usah berteriak-teriak! Itu maksud Gatholoco!)
36. Rasulullah seda sewu warsi, sira bêngok saking wisma-nira, bok kongsi modot gulune, masa bisa karungu, tiwas kêsêl tur tanpa kasil, Guru tiga angucap, Ujare cocotmu, layak mêsum ora lumrah, anyampahi pêpundhene wong sabumi, Gatholoco manabda.
Rasulullah telah meninggal seribu tahun yang lalu, kamu teriaki dari rumahmu (dengan harapan ditemui oleh beliau), walaupun sampai melar lehermu, tidak akan berkenan hadir menemuimu? Hanya melelahkan diri sendiri tiada guna ( maksud Gatholoco hanya melelahkan diri sendiri dan tiada guna jika memuji nama beliau dengan harapan agar ditemui dan mendapat tuntunan. Al-Qur’an dan Hadist, itu sudah cukup beliau berikan bagi acuan peningkatan Kesadaran para pengikut beliau!), Ketiga Guru berkata, Ucapan yang keluar dari cocot (bacot)-mu, adalah ucapan orang bingung dan tidak sopan, menghina sesembahan manusia se-dunia! Gatholoco berkata.
37. Bênêr mêsum saking susah mami, kadunungan barang ingkang gêlap, awit cilik têkeng mangke, kewuhan jawab-ingsun, yen konangan ingkang darbeni, supaya bisa luwar, ingsun njaluk rêmbug, kapriye bisane jawab, aywa nganti kêna ukum awak mami, Guru tiga miyarsa.
Memang benar aku bingung disebabkan karena keprihatinanku, karena ketempatan barang yang bukan punyaku, semenjak aku kecil hingga sekarang ini, sulit aku memberikan jawaban, manakala nanti ditanya oleh yang punya, agar aku mampu terlepas dari masalah ini, bisakah aku meminta pendapat kalian, bagaimanakah jawabanku, jangan sampai aku terkena hukuman, Ketiga Guru begitu mendengar ucapan itu.
38. Asru ngucap Nyata sira maling, ora pantês rembugan lan ingwang, sira iku wong munapek, duraka ing Hyang Agung, lamun ingsun gêlêm mulangi, pakartine dursila, mring panjawabipun, ora wurung katularan, najan ingsun datan anglakoni maling, yen gêlêm mulangana.
Keras berkata Ternyata kamu maling! Tidak pantas meminta pendapat kami! Kamu orang munafik! Berdosa kepada Hyang Agung! Jika kami sampai bersedia memberikan pendapat, tidak urung bakal ketularan (dosanya)! Walaupun kami tidak ikut mencuri, manakala bersedia memberikan pendapat.
39. Nalar bangsat paturane maling, yêkti dadi melu kêna siksa, Gatholoco pamuwuse, Yen sireku tan purun, amulangi mring jawab maling, payo padha cangkriman, nanging pamintengsun, badhenên ingkang sanyata, lamun sira têlu pisan tan mangrêti, guru tanpa paedah.
Sama saja menyetujui perbuatan bangsat seorang maling! Pasti akan ikut terkena siksa! Gatholoco berkata, Apabila kalian tidak bersedia, memberikan pemecahan masalah yang dihadapi seorang maling, baiklah mari kita bermain teka-teki, akan tetapi permintaanku, jawablah sungguh-sungguh, jika kalian bertiga tidak mampu menjawab, nyata kalian adalah Guru yang tiada guna!
40. Kyai Guru samya anauri, Mara age saiki pasalna, cangkrimane kaya priye, manira arsa ngrungu, yen wus ngrungu sayêkti bangkit, masa bakal luputa, ucapna den gupuh, angajak cangkriman apa, sun batange dimen padha den sêkseni, santri murid nom noman.
Para Kyai Guru menyetujui, Baiklah sekarang berikan, teka-teki yang seperti apa, kami akan mendengarkan, manakala sudah mendengar pasti akan paham, dan tidak mungkin salah menjawab, cepat ucapkan, mengajak bermain teka-teki yang seperti apa? Akan kami jawab dengan disaksikan, para murid santri yang masih muda-muda (kata muda dlm bahasa Jawa adalah Anom, menandakan syair berikutnya harus dilagukan dengan irama Sinom).

SERAT GATHOLOCO (4)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
Ada beberapa Pada (Syair) yang terdapat pada Pupuh II, Dandanggula, yang harus diulas. Seperti dibawah ini :
1. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 19 :
Ingsun ngaku wong Lanang Sujati, basa Lanang Sujati têmênan, wadiku apa dhapure, Sujati têgêsipun, ‘ingSUn urip tan nêJA maTI’, Guru tiga angucap, Dhapurmu lir antu, sajêge tan kambon toya, Gatholoco macucu nulya mangsuli, Ewuh kinarya siram.
Aku mengaku sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati), arti dari Lanang Sujati (Lelaki Sejati) sesungguhnya adalah, aku disebut LANANG karena memahami Rahasia Mulia barang (penis)-ku, sedangkan SUJATI (Sejati) artinya ‘ingSUn urip tan nêJA ma TI’ (Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati Selamanya). Ketiga Guru berkata, Rupamu seperti hantu, tak pernah tersentuh air, Gatholoco cemberut lantas menjawab, Aku bingung hendak mandi dengan apa.
Gatholoco menyadari bahwa siapapun yang meningkat Kesadarannya, berhak menyandang predikat sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati) atau Wadon Sujati (Wanita Sejati). Pada ‘Pada’ (Syair) diatas, arti kata Lanang Sujati diuraikan oleh Gatholoco. Siapapun Lelaki yang memahami Kemuliaan Proses Penciptaan melalui Penis (Gathel)-nya, sebuah proses vital yang menjadi mata rantai sebuah perjalanan panjang evolusi jiwa, proses yang mampu ‘menarik’ kembali Atma atau Ruh dari ranah ‘kematian’ menuju ‘kehidupan kembali’ atau Reinkarnasi (dalam istilah Sanskerta disebut PUNARBHAWA : Kelahiran Kembali, atau PUNARJANMA : Manusia Yang Kembali hidup dari ranah kematian), proses berkesinambungan untuk menjadi penyebab ‘bangkitnya’ Atma atau Ruh agar kembali berjuang ditengah samudera kehidupan demi untuk melanjutkan peningkatan kembali KESADARAN mereka melalui tempaan badai dualitas duniawi (suka-duka, kaya-miskin, sakit-sehat, dll), maka siapapun mereka, kalau Lelaki berhak menyandang predikat LANANG. Kalau Wanita berhak menyandang predikat WADON! Selama anda belum memahami kemuliaan dan pentingnya proses ini, maka sesungguhnya anda belumlah pantas disebut LANANG atau WADON. Anda hanyalah sekedar spesies makhluk hidup yang melakukan sebuah aktifitas sexual tanpa kesadaran. Anda belumlah MANUSIA.
Kata ‘SUJATI’, Gatholoco mengartikan ‘ingSUn urip tan neJA maTI’ yang artinya ‘Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati’. Siapakah itu? INGSUN (AHAM/AKU). Siapakah INGSUN (AHAM/AKU) tersebut? Tak lain adalah Atma atau Ruh kita!
Atma atau Ruh tidak diciptakan oleh siapapun! Atma atau Ruh adalah Percikan Brahman dalam definisi Weda atau Tiupan/Hembusan Nafas Allah dalam definisi Al-Qur’an atau Pencitraan/Duplicate Allah dalam definisi Injil dan Taurat!
Atma dan Ruh adalah bagian langsung dari BRAHMAN, dari ALLAH, dari BAPA itu sendiri! Tidak ada yang menciptakan Ruh atau Atma. Yang diciptakan adalah Badan Halus (Suksma Sariira/Nafs) dan Badan Kasar (Sthula Sariira/Jasad)! Sadarkah anda sekarang? Telitilah dengan seksama kitab suci anda, adakah firman yang menyatakan Ruh itu diciptakan?
LANANG SUJATI artinya, Manusia yang memahami kemuliaan proses penciptaan melalui penis/vagina-nya, yang merupakan lantaran untuk kelahiran kembali para Atma atau Ruh!
2. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 20 :
Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus gênine, jro badan isi latu, yen rêsika sun gosok siti, asline saking lêmah, sun dus-ana lesus, badanku sumbêr maruta, tuduhêna kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga.
Jikalau aku harus mandi menggunakan air, tubuhku sudah penuh dengan unsur air, jikalau harus mandi menggunakan api, didalam badan penuh unsur api, jikalau harus membersihkan diri dengan menggunakan tanah, sudah jelas daging ini berasal dari tanah, aku mandi menggunakan angin leysus, badanku sumber dari angin, beritahu kepadaku apa yang harus aku pakai untuk mandi? Ketiga Guru menjawab.
Ini adalah jawaban yang merupakan kritik kepada para agamawan yang terlampau mementingkan syari’at. Mereka-mereka yang terpaku pada tata lahir dan procedural belaka. Begitu sudah tunai, mereka merasa sudah cukup dan sempurna! Gatholoco menyengaja memberikan gambaran, bahwa AIR tidaklah cukup untuk mensucikan diri secara menyeluruh. AIR hanya mampu menggelontor kotoran LAHIR semata! Maka Gatholoco menyatakan, apa yang hendak aku gunakan untuk men-sucikan diri ini? Jikalau memakai AIR, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA ini berasal dari unsur AIR. Jikalau memakai API, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA ini juga berasal dari unsur API. Pun jikalau memakai ANGIN, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA inipun berasal dari unsur ANGIN? Begitu juga jika hendak disucikan dengan TANAH, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA inipun berasal dari unsur TANAH?
Keempat Unsur yang disebutkan Gatholoco, umum dipahami sebagai empat pembentuk JASAD FISIK manusia. Empat unsur Alam yang sangat vital, yaitu TANAH/LOGAM (PRTIWI), AIR (APAH), API/CAHAYA (TEJA) dan ANGIN (WAYU) .
Namun sesungguhnya ada satu unsur lagi yang juga sangat vital membentuk JASAD FISIK manusia, yaitu RUANG (AKASHA). Tanpa ada RUANG, maka tidak akan ada celah dan rongga dalam susunan anatomi JASAD FISIK. Sesungguhnya unsur RUANG menempati bagian yang penting. Dan RUANG menurut Weda, masih juga dikategorikan sebuah MATERI! Masih merupakan BENDA FISIK! Para saintis modern telah pula mulai melakukan pengujian untuk membuktikan hipotesa bahwa RUANG masih juga merupakan MATERI.
Semesta ini terus mengembang. Terus membentuk ciptaan-ciptaan baru. Kemanakah segala benda ciptaan itu mengembang kalau tidak menuju RUANG. Berarti, begitu Semesta ini mengembang, maka akan terus tercipta RUANG baru!
Jauh-jauh hari, sebelum manusia modern bisa membuktikan bahwa semesta ini terus mengembang, dalam Weda telah disebutkan secara jelas tanpa harus ditafsir-tafsirkan lagi :
“Semoga Brahman, yang bagaikan laba-laba dengan jejaringnya yang terus keluar dari dalam diri-Nya, yang dihasilkan oleh PRADHANA/PRAKRTI-Nya, sehingga terus tercipta Alam Semesta ini, berkenan memberikan berkah kepada kami, sehingga kami dapat kembali menyatu dengan-Nya.”
(Swetaswatara Upanishad:6:10)
Namun teori yang menyatakan bahwa RUANG termasuk dalam unsur vital pembentuk JASAD FISIK, tidak begitu bisa dipahami oleh masyarakat Jawa setelah ajaran Shiwa Buddha meninggalkan Pulau Jawa. Sampai detik ini, masyarakat Jawa sudah terbiasa meyakini hanya ada empat unsur vital pembentuk JASAD FISIK manusia yaitu, TANAH/LOGAM (Sanskerta : PRTIWI, Jawa : BUMI), AIR (Sanskerta : APAH, Jawa : BANYU), API/CAHAYA (Sanskerta : TEJA, Jawa : GENI), UDARA (Sanskerta WAYU, Jawa : ANGIN). Sedangkan RUANG (AKASHA), terlupakan.
Masyarakat Bali masih bisa memahami. Mereka mengenalnya dengan istilah PANCA MAHA BHUTA (LIMA MAHA UNSUR MAKHLUK)!
Dan Gatholoco, tidak menyinggung tentang unsur RUANG karena dia tengah berdialog dengan masyarakat Jawa pasca Majapahit runtuh! Bahkan mereka yang tengah berdialog dengan Gatholoco ini, hanya mengenal keyakinan bahwa manusia tercipta dari AIR dan TANAH saja!
3. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 21 :
Asal banyu yêkti adus warih, dimen suci iku badanira, Gatholoco sru saure, Sira santri tan urus, yen suciya sarana warih, sun kungkum sangang wulan, ora kulak kawruh, satêmêne bae iya, ingsun adus Tirta Tekad Suci Êning, ing tyas datan kaworan.
Tubuhmu berasal dari cairan (sperma) sudah layak jika mandi menggunakan air, agar suci dirimu itu, Gatholoco lantang menjawab, Kalian santri bodoh! Jikalau bisa suci karena mandi dengan air, aku akan berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu (Ke-Tuhan-an), ketahuilah bahwa sesungguhnya, aku telah mandi Air Tekad Suci yang Jernih, yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh.
AIR masih juga dianggap sebagai sarana mutlak sebagai alat pensuci. Gatholoco tertawa dan menjawab dengan cerdas. Jikalau memang hanya dengan memakai AIR aku bisa menjadi suci, bukankah lebih baik aku berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu Ke-Tuhan-an? Pensuci yang sesungguhnya, tak lain adalah TIRTA TEKAD SUCI ÊNING (AIR TEKAD SUCI JERNIH) . Sebuah AIR ABSTRAK YANG KELUAR DARI TEKAD UNTUK MENSUCIKAN DAN MENJERNIHKAN SEGALA KEKOTORAN BATIN MANUSIA! ITULAH AIR YANG BISA MENGGELONTOR SELURUH KEKOTORAN BATIN!
4. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 28 :
Gatholoco anauri malih, Yen mangkono isih lumrah janma, ora kinaot arane, beda kalawan Ingsun, kabeh iki isining bumi, sakurêbing akasa, dadi darbek-Ingsun, kang anyar sarwa gumêbyar, Sun kon nganggo marang sanak-sanak mami, Ngong trima nganggo ala.
Gatholoco menyahuti lagi, Jikalau begitu jelas kalian hanya manusia lumrah, bukan manusia pilihan namanya, berbeda dengan-Ku, sesungguhnya semua yang ada dibumi, dan yang ada dibawah langit, adalah milik-Ku, yang baru dan gemerlap, sengaja Aku berikan kepada saudara-saudaraku (semua makhluk hidup), Aku rela memakai yang jelek-jelek saja.
Atma adalah Percikan Brahman. Semesta ini adalah materi baru yang tercipta dari proses ‘Persempitan ke-Mutlak-an Brahman’.
Atma adalah percikan. Semesta adalah ciptaan. Atma tak berawal dan berakhir. Langgeng abadi. Semesta ini mempunyai awal dan akhir. Tiada abadi. Makanya Semesta ini disebut pula sebagai ALAM MAYA!
Jika Atma dan Brahman itu sesungguhnya adalah SATU KESATUAN TUNGGAL, maka seluruh benda ciptaan ini sesungguhnya adalah milik Sang Atma juga.
Manakala dalam kenyataannya, kini Sang Atma kadangkala tidak mampu menikmati apa yang sesungguhnya merupakan milik-nya sendiri diseluruh Semesta raya ini, hal itu dikarenakan Sang Atma tengah terikat oleh Buah Karma-nya! Buah Karma yang dibuat-nya dan harus dinikmati-nya sendiri! Jika Sang Atma telah lepas dari jeratan Buah Karma, maka Sang Atma akan kembali memperoleh KESADARAN PURNA-NYA, KESADARAN MUTLAK-NYA. Sang Atma akan mampu merengkuh kembali segala milik-nya tanpa harus dibatasi lagi oleh takdir. Takdir yang sesungguhnya dia buat sendiri tanpa disadari!
Seluruh PEMIKIRAN (MANASIKA) Sang Atma, seluruh UCAPAN (WACIKA) Sang Atma, seluruh TINDAKAN (KAYIKA) Sang Atma, sesungguhnya adalah aktifitas pembuatan sebuah takdir bagi diri Sang Atma sendiri. Jika seluruh PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN Sang Atma cenderung positif, Sang Atma sesungguhnya telah menguntai takdir positif bagi diri-nya. Jika seluruh PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN Sang Atma cenderung negatif, sesungguhnya Sang Atma telah menguntai takdir negatif pula bagi diri-nya sendiri. Takdir bukan dibuat oleh Tuhan dari atas langit sana! Tidak ada Malaikat yang bertugas mencatat takdir anda! Yang ada, seluruh aktifitas anda yang keluar dari PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN, secara otomatis terekam oleh PRAKRTI! Terekam oleh ALAM! Dan Alam yang akan menumbuhkan buahnya, BAIK maupun BURUK, tergantung apa yang anda tanam! MALAIKAT ITU TAK LAIN ADALAH ALAM ITU SENDIRI! Sadari itu!
Dan buah perbuatan anda (Karmaphala ; Karma : Perbuatan, Phala : Buah) tidak bisa tidak, harus kembali kepada anda! Siapa yang menanam akan memetik! Siapa yang menabur angin akan menui badai! Tidak ada orang yang akan menggantikan! Dalam ungkapan Al-Qur’an sangat indah dinyatakan : SETIAP ORANG AKAN MEMIKUL DOSANYA SENDIRI! WALAUPUN ITU SEKECIL DZARROH (DEBU)!
Dan jika Sang Atma telah mampu terlepas dari ikatan samsara, terlepas dari lingkaran ‘penanaman’ dan ‘penuaian’ hasil aktifitas yang terus menerus tiada henti tersebut, sesungguhnya Sang Atma akan kembali memiliki segala apa yang ada di seluruh semesta raya ini!
Inilah maksud Gatholoco! Dan manusia-manusia semacam Gatholoco, sesungguhnya telah mampu ‘memenuhi segala apa yang dikehendakinya’. Namun apalah arti dunia bagi manusia-manusia semacam dia! Karena KESADARAN PURNA yang telah dicapainya, tidak bisa dibandingkan dengan seluruh kenikmatan dan gemerlapnya duniawi! KESADARAN PURNA lebih GEMERLAP DAN NIKMAT daripada segala macam gemerlap dan kenikmatan duniawi yang gampang menguap bagai embun di pagi hari!
5. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 29 :
Apan Ingsun trima nganggo iki, pêpanganan ingkang enak-enak, kang lêgi gurih rasane, pêdhês asin sadarum, Sun kon mangan mring sagung janmi, ingkang sinipat gêsang, dene Ingsun amung, ngawruhi sadina-dina, Sun tulisi sastrane salikur iji, Sun simpên jroning manah.
Cukuplah Aku memakan yang ini saja, segala makanan yang enak-enak, yang manis gurih rasanya, pedas dan asin semuanya, Aku berikan untuk dimakan oleh seluruh manusia, dan semua makhluk yang bersifat hidup, sedangkan Aku hanyalah, meneliti setiap hari, Ku catat dalam sebuah sastra sebanyak Duapuluh Satu buah (angka Dua melambangkan mereka yang masih terikat Dualitas duniawi, angka Satu melambangkan mereka yang telah lepas dari Dualitas duniawi. Manusia yang Kesadarannya tinggi, mampu meneliti dan mengamati kedua jenis tingkatan kesadaran para manusia tersebut. Inilah makna Sastra Salikur Iji atau Sastra Duapuluh Satu yang dimaksud Gatholoco), dan Aku simpan didalam hati.
Manusia yang telah mencapai KESADARAN PURNA, maka KASIH yang ada didalam dirinya meluap-luap bagai gelombang samudera! Dia akan terus mendaur ulang segala unsur-unsur ekstrim Alam yang hendak mengacaukan ke-stabil-an semesta sebagai tempat yang masih harus ada.
Tempat yang masih harus ada sebagai media ber-evolusi bagi Atma-Atma yang masih belum mencapai KESADARAN PURNA!
Manusia-manusia yang telah mencapai KESADARAN PURNA, selain terus ‘membantu proses ke-stabil-an’ semesta, kadang pula mereka akan membimbing Atma-Atma lain, memandu secukupnya, dengan tidak meninggalkan kemandirian dari mereka yang tengah di bimbing! Nabi Khidir, Babaji Maha Avatar, Semar, dll adalah contoh-contoh dari sosok manusia-manusia suci pembimbing ini!
Mereka akan mengamati, mana saja para Atma yang mulai mampu lepas dari Dualitas Duniawi, dilambangkan dengan angka SATU, dan mana saja para Atma yang masih saja terus terikat dalam Dualitas Duniawi, dan dilambangkan dengan angka DUA.
Inilah makna ucapan Gathoooco yang selalu mengamati seluruh Atma, dicatat dalam Sastra yang disebut SASTRA SALIKUR IJI atau SASTRA DUA PULUH SATU. DUA melambangkan mereka-mereka yang masih terikat Dualitas Duniawi dan belum saatnya mendapat bimbingan dari Manusia-Manusia Berkesadaran Purna. SATU melambangkan mereka-mereka yang mulai bisa lepas dari Dualitas Duniawi dan sudah saatnya dibimbing oleh Manusia-Manusia Berkesadaran Purna seperti Gatholoco!
6. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 30 :
Ingsun dhewe mangan sabên ari, Ingsun milih ingkang luwih panas, sarta ingkang pait dhewe, najise dadi gunung, kabeh gunung ingkang ka-eksi, mulane kang bawana, padha mêtu kukus, tumuse gêni Sun pangan, ingkang dadi padhas watu lawan curi, klelet ingkang sun pangan.
Yang Ku-makan setiap hari, Ku-pilih yang sangat panas, dan yang terlampau pahit (maksudnya semua unsur-unsur negatif Alam yang terlalu ekstrim), kotoran (batin)-Ku menjadi gunung, seluruh gunung yang terlihat, (maksudnya, semua unsur negatif yang terlalu ekstrim dari Alam, mampu didaur ulang menjadi unsur yang lebih positif melalui olah batin dari manusia-manusia yang berkesadaran tinggi. Dilambangkan dengan keberadaan sebuah gunung yang menyimpan api menakutkan, namun lava dari gunung berapi, sangat bermanfaat menyuburkan tanah, sehingga tanaman apapun akan gampang tumbuh disekeliling gunung berapi. Jelasnya, dari sesuatu yang menakutkan semacam gunung berapi, mampu didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi manusia. Begitu pula proses daur ulang yang secara tidak disadari telah dilakukan oleh manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco kepada semua unsur negatif alam yang terlalu ekstrim), apa sebabnya dunia diliputi asap saja (maksudnya, banyak unsur api terlampau ekstrim yang sesungguhnya melingkupi dunia ini, namun berkat manusia-manusia yang penuh kesadaran semacam Gatholoco, secara tidak sengaja, mereka-mereka ini menyerap unsur api yang terlalu ekstrim tersebut dan didaur ulang menjadi unsur api positif yang lebih bermanfaat. Jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco, dapat dipastikan, meteor-meteor raksasa dan hal-hal ekstrim lainnya, akan menghantam dan mengacaukan bumi tanpa ada penghalang lagi! Sadarilah ini!), sebab api telah Aku makan, kotoran (batin)-Ku menjadi batu cadas (seperti halnya dipilihnya ‘Gunung’ sebagai sebuah perumpamaan proses pendaur ulang-an unsur ektrim Alam agar menjadi lebih bermanfaat, ‘Batu Cadas’ dipilih pula karena identik dengan kekokohan, sesuatu yang kokoh kuat. Maksudnya jelas, unsur ekstrim alam, bisa diubah menjadi sesuatu yang stabil demi keberlangsungan semesta sebagai tempat berevolusi. Berterima kasihlah kepada manusia-manusia berkesadaran tinggi seperti Gatholoco!) Aku cukup memakan candu ini. (maksudnya candu spiritualitas)
Uraian diatas saya kira sudah cukup jelas. Dengan penambahan sedikit. Sosok-sosok Manusia Berkesadaran Tinggi seperti Gatholoco, hingga detik ini, dan sampai nanti jika Para Atma masih banyak yang belum terseberangkan dari lautan Dualitas Duniawi, akan selalu ada dan hadir! Walau jumlah mereka akan berkurang dan bertambah, sesuai dengan siklus perputaran Jaman (Yuga). Dalam Jaman Kali Yuga ini, mereka akan semakin berkurang. Banyak dari mereka-mereka yang akan MELEBUR DENGAN SUMBER ABADI SEMESTA! Pada Jaman Satya Yuga kelak, jumlah mereka akan bertambah. Jumlah mereka bertambah karena banyak para Atma-Atma baru dari Jaman Kali Yuga yang meningkat KESADARANNYA!
Manusia-Manusia Suci seperti mereka bukanlah monopoli agama tertentu! Karena mereka telah lepas dari Dualitas Duniawi.
Status agama ‘A’atau ‘B’, adalah status DUNIAWI! Bagaimana bisa mereka membimbing kita melepaskan diri dari ikatan Dualitas Duniawi jikalau mereka sendiri masih terikat dengan status keduniawian?
SESUNGGUHNYA MEREKA-MEREKA TELAH TERLEPAS DARI SEGALA MACAM STATUS, ATRIBUT DAN TETEK BENGEK BENDERA DUNIAWI! JANGAN MENJADI BODOH DENGAN MEMPERCAYAI SEBUAH KEYAKINAN BAHWA MANUSIA YANG TELAH MENCAPAI KESEMPURNAAN SEPERTI GATHOLOCO MASIH JUGA MENJADI MILIK AGAMA ‘A’ ATAU ‘B’!
PARA MANUSIA ILLAHI SEMACAM GATHOLOCO AKAN TERTAWA MELIHAT KEKONYOLAN KEYAKINAN SEMACAM ITU!
7. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 31 :
Sadurunge Ingsun ngising najis, gunung iku yêkti durung ana, benjang bakal sirna maneh, lamun Ingsun wus mantun, ngising tai mêtu têka silit, titenana kewala, iki tutur-Ingsun, Guru tiga duk miyarsa, gya micara astane sarwi nudingi, Layak kuru tan pakra.
Sebelum Aku membuang kotoran (batin), seluruh gunung belumlah tercipta (maksudnya, dunia tidak akan stabil sebagai tempat yang sesuai bagi proses evolusi jiwa jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi yang mampu mendaur ulang unsur-unsur ekstrim Alam seperti Gatholoco), kelak akan sirna kembali, jika Aku sudah tidak lagi, membuang kotoran lewat dubur, nyatakanlah kelak, apa yang Aku katakan ini. (maksudnya jika manusia-manusia yang berkesadaran tinggi hilang dari muka bumi, dapat dipastikan kiamat dunia akan tercipta!). Ketiga Guru begitu mendengar, segera berkata sembari menuding, Makanya kurus kering tidak lumrah manusia (tubuhmu).
Gatholoco hanya sekedar menegaskan, bahwa tanpa adanya Manusia-Manusia Berkesadaran Tinggi, Manusia-Manusia Illahi, yaitu Manusia-Manusia yang Merupakan Perwujudan Illahi, kestabilan semesta tidak akan tercipta. Jika Para Sadhu (Manusia Sempurna) seperti mereka mulai berkurang, maka dapat dipastikan, kekacauan semesta akan tercipta. Dan pada puncak chaos yang sedemikian, maka akan lahirlah seorang Buddha (Yang Tersadarkan) , seorang Awatara (Perwujudan Illahi) , seorang Mesias (Juru Selamat) , seorang Nabi (Manusia pilihan Tuhan) , yang akan kembali menstabilkan semesta diakhir Jaman Kali Yuga kelak!
Dalam Hindhuisme, Kalki Awatara kelak akan turun untuk menghancurkan Asura Kali dan mengakhiri Jaman Kali Yuga menuju ke Jaman Satya Yuga kembali. Dalam Buddhisme, Buddha Maitreya kelak akan turun manakala Dhamma sudah terlupakan! Dalam Kristianisme, Jesus akan turun untuk menghancurkan Lucifer dan mengakhiri dunia lama menuju dunia baru. Saat itulah Armagedon tengah tercipta! Dalam keyakinan Islam, Nabi Isa a.s. kelak akan turun untuk menghancurkan Dajjal!
Kalki, Maitreya, Jesus, Isa, apakah mereka pribadi yang beda? Mengapa masih ngotot menunjukkan keyakinannya sendiri yang paling benar? Sampai dibela-belain menumpahkan darah segala?
Sadarlah saudaraku!
8. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 32 :
Gatholoco sigra anauri, Mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jêng Nabi Rasul, sabên ari ingsun turuti, tindak mênyang ngêpaken, awan sore esuk, mundhut candhu lawan madat, dipun dhahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan.
Gatholoco segera menjawab, Tubuhku kurus disebabkan, karena menuruti perintah, Gusti (Kang)jêng Nabi Rasul(lullah), setiap hari aku turuti, bertandang ke tempat madat, siang sore pagi, mengambil candu dan madat, dimakan langsung maupun dibakar lalu dihisap, Allah yang memberikan ijin. (Maksudnya Kangjêng Nabi Rasul dalam kesadaran Gatholoco, bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Ruh-nya sendiri, Atma-nya sendiri. Suara Atma, suara Ruh, yang sering diistilahkan dengan SUARA NURANI, memerintahkan manusia-manusia seperti Gatholoco untuk terus mabuk spiritual, agar terus ke-Candu-an dengan Ke-Illahi-an. Dan Allah-pun me-ridloi!)
Ruh ini, Atma ini, adalah Utusan, adalah Rasul yang sesungguhnya! Sebejat apapun manusia, searogan apapun manusia, sekejam dan sejahat apapun manusia, se-psikopat apapun manusia, pasti masih memiliki rasa bersalah! Dan rasa bersalah itu berasal dari SUARA RUH KITA! INILAH YANG SERING DIISTILAHKAN DENGAN SUARA HATI NURANI!
Masih terngiangkah anda semua dengan teriakan Jesus bahwa Dia datang bukan dengan hukum Taurat Musa, tapi Dia datang dengan Hukum Roh? Apakah itu? Tak lain adalah HUKUM YANG BERASAL DARI SUARA ROH. SUARA HATI NURANI!
Masih ingatkah anda sabda Bhagawan Manu melalui Bhagawan Bregu yang menyatakan bahwa ATMANASTUTI (SUARA ATMA) adalah Hukum tertinggi, bahkan melebihi Weda sekalipun?
Lantas mengapakah anda memaksakan memberlakukan sebuah Hukum jika NURANI anda sendiri memberontak karenanya? Nurani anda adalah KEJUJURAN MURNI. Anda bisa menipu orang lain. Anda bisa menang berpekara dengan orang lain walau sebenarnya anda dipihak yang salah. Namun dalam kesendirian, pasti akan terdengar suara Ruh anda yang mengatakan bahwasanya sesungguhnya akulah yang salah. Ada sesal, ada kasihan dan ada rasa bersalah! Walaupun rasa itu kadang dengan mahirnya kita tepiskan melalui pembenaran-pembenaran dari Pikiran liar kita! Jika kita terbiasa menepis SUARA RUH, SUARA NURANI, anda akan menjadi orang MUNAFIK SEJATI! Manusia bisa membohongi manusia lain, tapi sesungguhnya tidak ada manusia yang bisa membohongi DIRINYA SENDIRI!
Dengan meditasi, volume SUARA NURANI ini akan semakin keras terdengar! Dengan membiasakan sikap KASIH kepada sesama, volume SUARA RUH ini-pun akan semakin nyaring! Dan dengan membiasakan mengikuti SUARA ini, dapat dipastikan anda telah berada dijalan yang benar!
Suara tersebut sebenarnya adalah SUARA ANDA YANG SEJATI. YAITU ANDA YANG LEPAS DARI KUNGKUNGAN KESADARAN RELATIF, PIKIRAN RELATIF, PERASAAN RELATIF DAN MEMORY RELATIF ANDA!
Sadarilah, selama ini anda hidup dengan Kesadaran, Pikiran, Perasaan dan Memory Relatif anda. Anda belum hidup dalam ROH!
Jesus Kristus, focus membahas tentang hal ini! Anda selama ini tengah hidup dalam DAGING!! Dan anda sesungguhnya bukanlah DAGING! Anda adalah ROH! Siapa yang mengikuti kemauan DAGING, dia akan hidup ditengah orang-orang mati! Yaitu kegelapan kesengsaraan duniawi. Terikat proses kelahiran dan kematian yang tiada henti. Dunia yang penuh gemeretak-nya gigi karena kesedihan! Dunia dibawah KUASA GELAP IBLIS yang tak lain sesungguhnya adalah KUASA DUALITAS DARI PRAKRTI! Siapa yang HIDUP DALAM ROH, dia patut bersuka cita. Karena pembebasan akhir menuju KEDIAMAN BAPA, yaitu KERAJAAN ALLAH, telah nyata! Inilah maksud Sang Mesias!
Weda jauh-jauh hari telah menegaskan bahwa ANDA SESUNGGUHNYA BUKANLAH KESADARAN RELATIF ITU, ANDA BUKANLAH PIKIRAN, ANDA BUKANLAH PERASAAN, ANDA BUKANLAH MEMORY, ANDA BUKANLAH TUBUH FISIK ITU. ANDA ADALAH ATMA!
Dan Gatholoco membahasakan bahwa Ruh-kita ini-lah, Atma-kita inilah Sang Utusan! Dan Sang Utusan memerintahkan dia untuk terus menikmati candu spiritualitas!
_________________

SERAT GATHOLOCO (5)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
PUPUH III
Sinom
(Kumpulan Syair III, Lagu ber-irama Sinom)
1. Gatholoco nulya ngucap, Dhalang Wayang lawan Kêlir, Balencong êndi kang tuwa, badhenên cangkriman iki, yen sira nyata wasis, mêsthi wêruh ingkang sêpuh, Ahmad Ngarip ambatang, Kêlir kang tuwa pribadi, sadurunge ana Dhalang miwah Wayang.
Gatholoco lantas berkata, Dalang Wayang dan Kêlir (Layar), serta Balencong (pelita yang dinyalakan pada jaman dulu selama pertunjukan wayang kulit digelar) mana yang lebih tua, jawablah teka-teki ini, apabila kalian nyata pandai, pasti akan tahu mana yang lebih tua, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) menjawab, Kêlir (Layar) yang lebih tua sendiri, sebelum adanya Dalang dan Wayang.
2. Balencong durung pinasang, Kêlir ingkang wujud dhingin, wus jumênêng keblat-papat, ngisor têngah lawan nginggil, mila tuwa pribadi, Abdul Jabar asru muwus, Heh Ahmad Ngarip salah, pambatangmu iku sisip, panêmuku tuwa dhewe Kaki Dhalang.
Sebab sebelum Balencong dipasang, Kêlir (Layar)-lah yang ada dahulu, sebagai perlambang empat penjuru mata angin, arah bawah tengah dan atas, makanya lebih tua sendiri, Abdul Jabar berkata lantang, Hai Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) kamu salah, jawabanmu itu keliru, menurutku yang lebih tua adalah Ki Dalang.
3. Anane Kêlir lan Wayang, kang masang Balencong sami, Wayang gaweyane Dhalang, mulane tuwa pribadi, tan ana kang madhani, anane Dhalang puniku, ingkang karya lampahan, nyritakake ala bêcik, asor unggul tan liya saking Ki Dhalang.
Adanya Kêlir (Layar) dan Wayang, serta yang memasang Balencong, Wayang buatan Dalang, makanya lebih tua sendiri, tiada yang menyamai, keberadaan Dalang tersebut, bahkan yang menjalankan wayang, menceritakan hal yang buruk dan baik, kalah dan menang tak lain adalah Ki Dalang.
4. Nulya Kyai Abdul Manap, nambungi wacana aris, Karo pisan iki salah, padha uga durung ngêrti, datan bisa mrantasi, tur remeh kewala iku, mung nalar luwih gampang, ora susah nganggo mikir, sun ngarani tuwa dhewe Wayang-ira.
Lantas Kyai Abdul Manap (Abdul Manaf), menyahut dengan pelan, Jawaban kalian berdua itu salah, sama-sama tidak memahami, tidak bisa menjelaskan, padahal itu teka-teki yang remeh, gampang dijawab oleh akal, tidak perlu susah berfikir, aku menjawab yang paling tua sendiri adalah Wayang-nya.
5. Upama wong nanggap Wayang, isih kurang têlung sasi, Dhalange pan durung ana, panggonanane durung dadi, wus ngucap nanggap Ringgit, tutur mitra karuhipun, sun arsa nanggap Wayang, ora ngucap nanggap Kêlir, ora ngucap nanggap Balencong lan Dhalang.
Seumpama ada orang yang hendak mengundang hiburan Wayang kulit, masih dalam jangka waktu tiga bulan sebelumnya, Dalang belum ada, tempat pertunjukan belum dibuat, sudah diucapkan kemana-mana hendak mengundang hiburan Wayang kulit, diberitahukan ke teman dan keluarga, bahwa aku hendak mengundang hiburan Wayang kulit, tidak mengatakan hendak mengundang hiburan Kêlir (Layar), tidak mengucapkan hendak mengundang hiburan Balencong maupun mengundang hiburan Dalang.
6. Wus mupakat janma kathah, kang tinanggap apan Ringgit, durung paja-paja gatra, wus muni ananggap Ringgit, mila tuwa pribadi, Gatholoco alon muwus, Abdul Jabar Dul Manap, tanapi si Ahmad Ngarip, têlu pisan pambatange padha salah.
Sudah sepakat semua orang, yang hendak diundang adalah hiburan Wayang kulit, belum juga ada terlihat hadir, sudah dikabarkan hendak mengundang hiburan Wayang kulit, makanya Wayang itu tua sendiri, Gatholoco pelan berkata, Abdul Jabar (Ab)dul Manap (Abdul Manaf), apalagi si Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), jawaban kalian semua salah.
7. Yen mungguh pamêtêkingwang, Balencong tuwa pribadi, sanajan Kêlir pinasang, gamêlan wus miranti, Dhalang niyaga linggih, yen maksih pêtêng nggenipun, sayêkti durung bisa, Dhalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining Wayang.
Menurut aku, Balencong itu lebih tua, walaupun Kêlir (Layar) telah dipasang, gamelan sudah ditata, Dalang dan para niyaga (penabuh gamêlan beserta sindhen-nya) sudah duduk, akan tetapi jika masih gelap tempatnya, pasti tidak bisa, Dalang memilah dan memilih, untuk menceritakan cerita satu-persatu dari tiap jenis wayang.
8. Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira Ringgit, margane isih pêtêngan, ora kêna den tingali, yen Balencong wus urip, kanthar-kanthar katon murub, Kêlire kawistara, ing ngandhap miwah ing nginggil, kanan kering Pandhawa miwah Kurawa.
Yang menonton tak akan bisa melihat, kepada wujud setiap jenis Wayang, karena masih gelap gulita, tidak bisa dilihat mata, manakala Balencong sudah dinyalakan, menyala-nyala terlihat terang, Kêlir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri serta mana Pandhawa mana Kurawa.
9. Ki Dhalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gêdhe cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh Ringgit, pinatês pangucap-ipun, awit pituduhira, Balencong ingkang madhangi, pramilane Balencong kang luwih tuwa.
Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong yang menerangi, oleh karenanya Balencong yang lebih tua.
10. Dene unining gamêlan, Wayange kang den gamêli, Dhalange mung darma ngucap, si Wayang kang darbe uni, prayoga gêdhe cilik, manut marang Dhalangipun, sinigêg gangsa ika, Kaki Dhalang masesani, nanging darma ngucap molahake Wayang.
Sedangkan bunyi gamêlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak Dalang, berhentinya gamêlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang telah ditentukan.
11. Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sêpi, basa Sêpi Tanpa Ana, anane ginêlar yêkti, langgêng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe Wayang ucape Ki Dhalang.
Kisah yang dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Sêpi, kata Sêpi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.
12. Ingkang mêsthi nglakonana, ingkang ala ingkang bêcik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa.
Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik, dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.
13. Basa Kêlir iku Raga, Wayange Suksma Sujati, Dhalange Rasul Muhammad, Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba.
Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.
14. Yen Wayang mari tinanggap, Wayange kalawan Kêlir, sinimpên sajroning kothak, Balencong pisah lan Kêlir, Dhalang pisah lan Ringgit, marang ngêndi paranipun, sirnane Blencong Wayang, upayanên den kêpanggih, yen tan wêruh sira urip kaya rêca.
Jikalau pertunjukan Wayang telah selesai, Wayang beserta Kêlir (Layar), disimpan didalam kotak, Balencong berpisah dengan Kêlir (Layar), Dalang berpisah dengan Wayang, kemanakan perginya, sirnanya Balencong dan Wayang? Carilah hingga ketemu, apabila tidak mengetahui hal itu hidupmu bagaikan arca batu semata.
15. Benjang yen sira palastra, urip-mu ana ing ngêndi, saikine sira gêsang, pati-mu ana ing ngêndi, uripmu bakal mati, pati nggawa urip iku, ing ngêndi kuburira, sira-gawa wira-wiri, tuduhêna dununge panggonanira.
Kelak jika kalian meninggal dunia, hidup-mu berada dimana? Saat ini kalian hidup, mati-mu berada dimana? Hidup-mu bakal menemui mati, mati akan membawa pergi hidup-mu, dimanakah kematian itu berada? Sesungguhnya telah kalian bawa kesana-kemari, tunjukanlah tempat kediamannya.
16. Guru tiga duk miyarsa, anyêntak sarwi macicil, Rêmbug gunêm ujarira, iku ora lumrah janmi, Gatholoco nauri, Dhasar sun-karêpkên iku, aja lumrah wong kathah, ngungkulana mring sasami, ora trima duwe kawruh kaya sira.
Begitu mendengarnya ketiga Guru, membentak sembari melotot, Apa yang telah kamu katakan, tidak lumrah diucapkan manusia! Gatholoco menjawab, Memang aku sengaja demikian, jangan sampai lumrah seperti manusia kebanyakan, sebaiknya mengungguli pengetahuan sesama, aku tidak akan terima jika hanya memiliki pengetahuan seperti pengetahuan kalian!
17. Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.
Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.
18. Wêkasan kaliru tampa, tan wruh têmah ndurakani, manut kitab mêngkap-mêngkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa nikmating ilat, lan rasane langên rêsmi, rasanira ing kawruh ora rinasa.
Pada akhirnya salah terima, tidak memahami inti sari malah berbuat dosa tanpa disadari, menuruti kata-kata kitab begitu saja, menuruti dalil tanpa tahu makna sesungguhnya, hanya dibuat untuk memperoleh keuntungan duniawi, tersilap dengan keduniawian, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa lidah, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa bersenggama, makna sejati ilmu tidak dirasakan.
19. Têtêp urip tanpa mata, matamu mata soca pring, matamu tanpa paedah, matamu tan migunani, Kyai Guru mangsuli, muring-muring asru muwus, Apa sira tan wikan, mring mataku loro iki, Gatholoco sinaur Sireku bêja.
Kalian hidup tak memiliki mata! Matamu mata batang bambu! Matamu tak bermanfaat! Matamu tak berguna! Kyai Guru menjawab, marah-marah membentak keras, Apa kamu buta! Tidak melihat jikalau kami punya mata! Gatholoco menjawab, kalian sangat beruntung!
20. Dene padha duwe mata, loro-loro guru siji, apa sira wani sumpah, yen duwe mata kêkalih, Guru tiga nauri, Dhasar sayêktine ingsun, têtela duwe mata, têtêp loro mata-mami, Gatholoco gumujêng sarwi anyêntak.
Mempunyai biji mata, setiap orang dari kalian memiliki dua buah, apakah kalian berani bersumpah, benar-benar memiliki dua buah mata? Ketiga Guru menjawab, Benar-benar kami, nyata-nyata memiliki mata, berjumlah dua buah, Gatholoco tertawa sambil membentak.
21. Sireku wani gumampang, sayêkti balak bilahi, ngaku dudu matanira, sun-lapurkên pulisi, mêsthine den taleni, angaku loro matamu, yen nyata matanira, konên gilir gênti-gênti, prentahana siji mêlek siji nendra.
Kalian sangat berani menggampangkan sumpah, sungguh akan menuai balak dan celaka, mengaku memiliki mata yang jelas-jelas bukan mata kalian, sebenarnya bisa dilaporkan ke polisi (maksud Gatholoco adalah hukum alam semesta), pasti akan diikat tangan kalian, sebab mengaku memiliki dua buah mata, kalau memang benar demikian, coba suruh bergantian, perintahkan yang satu jaga dan yang satu tidur.
22. Dadi salawasmu gêsang, ora kêna dimalingi, Guru tiga samya ngucap, Êndi ana mata gilir, Gatholoco nauri, Tandhane nyata matamu, sira wênang masesa, saprentahmu den turuti, yen tan manut yêkti dudu matanira.
Sehingga selama kamu hidup, tidak bisa kecolongan oleh maling, Ketiga Guru berkata, Mana ada mata bergiliran? Gatholoco menjawab, Jika memang benar itu mata kalian, pastilah kalian berwenang menguasai, bisa diperintahkan sesuai keinginanmu, apabila tidak menurut nyata bukan mata kalian.
23. Guru tiga samya mojar, Aku wani sumpah yêkti, awit cilik prapteng tuwa, tan pisah lan rai-mami, Gatholoco mangsuli, Dene sira wani ngaku, matamu ora pisah, mata olehmu ing ngêndi, apa tuku apa gawe apa nyêlang.
Ketiga Guru berujar, Aku berani bersumpah, semenjak kecil hingga tua, tidak pernah terpisah dengan wajah kami, Gatholoco menjawab, Berani sekali kalian mengaku, bahwa mata kalian tidak pernah berpisah, mata dapat dari mana? Apakah beli apakah membuat sendiri ataukah meminjam?
24. Apa sira winewehan, iya sapa kang menehi, kalawan saksine sapa, dina apa aneng ngêndi, Guru tiga miyarsi, dhêlêg-dhêlêg datan muwus, wasana samya ngucap, Gaweyane bapa bibi, Gatholoco gumuyu alatah-latah.
Apakah kalian diberi? Lantas siapakah yang memberi? Dan lagi siapakah saksinya saat kalian diberi? Hari apa dimanakah tempatnya dan kapan waktu saat kalian diberi? Ketiga Guru mendengar akan hal itu, terbengong-bengong tanpa bisa menjawab, pada akhirnya berkatalah mereka, Buatan Bapak dan Ibu, Gatholoco tertawa terbahak-bahak.
25. Kiraku wong tuwanira, loro pisan padha mukir, karone ora rumasa, gawe irung mata kuping, lanang wadon mung sami, ngrasakake nikmatipun, iku daya jalaran, wujude ragamu kuwi, ora nêja gawe rambut kuping mata.
Aku yakin orang tua kalian, keduanya akan menolak (bila dikatakan telah membuat mata), kedua-duanya tidak pernah merasa, telah membuat hidung mata dan telinga, laki-laki dan perempuan hanyalah, sekedar menikmati nikmatnya (bersenggama) semata, (persetubuhan) mereka hanya sekedar lantaran, terwujudnya raga kalian, mereka tidak sengaja membuat rambut telinga dan mata.
26. Guru tiga nulya mojar, Allah Ingkang Maha Suci, ingkang karya raganingwang. Gatholoco anauri, Prênah apa sireki, kalawan Kang Maha Luhur, dene ta pinaringan, mata loro kanan-kering, têlu pisan pinaringan grana lesan.
27. Ketiga Guru lantas berkata, Allah Yang Maha Suci, yang telah membuat raga kami, Gatholoco menyahuti, Punya hubungan apa kalian, dengan Yang Maha Luhur? Sehingga kalian diberikan, kedua bola mata kanan dan kiri, yang ketiga bahkan diberikan hidung dan lesan.
28. Guru tiga saurira, Katrima pamuji-mami, Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap.
Ketiga Guru menjawab, Karena diterima doa kami, Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!
29. Yen tan bisa ndunungêna, kajêdhêgan ingkang dhiri, mêsthine dadi sakitan, ora kêna sira mukir, mêloke wus pinanggih, têka ngêndi asalipun, yen asale tan wikan, matanira loro kuwi, ora kêna angukuhi matanira.
Jika tidak bisa menunjukkan asalnya dari mana, diri kalian patut dipersalahkan, pasti akan menjadi pesakitan, kalian tidak bisa memungkiri lagi, jelas-jelas telah nyata (kalian maling)! (Sekali lagi) darimanakah asalnya? Jika asalnya tidak tahu, asal mula pertama mata kalian, maka tidaklah pantas jika mengakuinya sebagai mata sendiri!
30. Sakehing reh lakonana, yen tan manut Sun gitiki, jalaran sira wus salah, kajêdhêgan sira maling, lah iku duwek Mami, sira anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk Jaman Gaib, Ingsun simpên ana satêngahing jagad.
Segala perintah-Ku laksanakan, jika tak menurut pasti Ku dera, sebab kalian telah salah, patut dipersalahkan karena maling, itu semua milik-Ku, kalian pakai dengan tidak benar, sekarang kembalikan, dulu hilang dikala Jaman Gaib, Aku simpan di tengah-tengah jagad.
31. Saksine si Wujud Makna, cirine rina lan wêngi, Ingsun rêbut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpêni, santri padha tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pêngadilan.
Saksinya adalah si Wujud Makna (Wujud dari segala inti sari makna kitab suci), bukti (dari keteledoran kalian memakai barang-Ku dengan tidak benar) telah dicatat oleh siang dan malam, Aku cari-cari tak ketemu, sekarang tengah Aku jumpai, ternyata kalian yang menyimpannya, para santri yang tidak benar! Jika tidak kalian kembalikan, Aku laporkan polisi (hukum alam), tak urung akan di naik perkara dipengadilan (semesta)!
32. Mêsthi sira kokum pêksa, yen wêngi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, sabên bêngi den kandhangi, beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar.
Pasti akan menerima hukuman, jika malam tidur didalam penjara (terkurung dalam kegelapan batin sehingga gelisah), jika siang kerja paksa (sengsara ditengah panasnya dualitas duniawi), tiap malam dikandangkan (terus terjerat dalam kegelapan batin), berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.
33. Murih aja dadi salah, Ahmad Ngarip anauri, Gunêman karo wong edan, Gatholoco amangsuli, Edanku awit cilik, kongsi mangke prapteng umur, ingsun tan bisa waras, sabên dina owah gingsir, nampik milih panganan kang enak-enak.
Agar jangan sampai salah langkah, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) menjawab, Berbicara dengan orang gila! Gatholoco menyahut, Gilaku memang semenjak kecil, hingga saat usiaku tua, aku tidak bisa sembuh, setiap hari pikiranku tidak waras, menolak makanan yang enak-enak.
34. Panganggo kang sarwa endah, ingsun edan urut margi, nurut margane kamulyan, Abdul Jabar muring-muring, astu sumaur bêngis, Rêmbugan lan asu buntung, Gatholoco angucap, Bênêr olehmu ngarani, sakrabatku bapa kaki buyut canggah.
(Menolak) busana yang indah-indah, aku gila disepanjang jalan, gila dijalan kemuliaan! Abdul Jabar marah-marah, lantas berkata bengis, Berbicara dengan anjing buntung! Gatholoco berkata, Memang benar apa yang kamu tuduhkan, seluruh keluargaku mulai bapak-ku kakek-ku buyut (ayahnya kakek)-ku sampai canggah (kakeknya kakek)-ku.
35. Dhasare buntung sadaya, tan ana buntut sawiji, basa Asu makna Asal, Buntung iku wus ngarani, ingsun jinising janmi, ora buntut lir awakmu, balik sira wong apa, sira gundhul anjêdhindhil, apa Landa apa Koja apa Cina.
Memang buntung semua, tidak ada ekornya, Asu artinya Asal, arti Buntung sudah kalian ketahui (maksud Gatholoco dia memang berasal dari makhluk yang tanpa ekor), aku ini manusia, tidak berekor seperti kalian, sebaliknya kalian itu orang apa? Kepala kalian gundul licin, apakah orang Belanda apakah Koja ( komunitas orang Koja adalah komunitas yang berasal dari Persia dan Gujarat, yang pada waktu dulu banyak terdapat di Jawa. Beragama Islam madzhab Syi’ah) apakah Cina.
36. Apa sira wong Benggala, Guru tiga anauri, Ingsun iki bangsa Jawa, Muhammad agama-mami, Gatholoco nauri, Sira wong kapir satuhu, Kristên agamanira, lamun sira bangsa Jawi, dene sira tan nêbut Dewa Bathara.
Apakah kalian orang Benggala (maksudnya India), Ketiga Guru menjawab, Kami ini orang Jawa, (ajaran) Nabi Muhammad agama kami! Gatholoco menjawab, Kalian manusia ‘Penentang’ sesungguhnya, seperti halnya orang Kristen (dalam pandangan kalian, begitu juga pandanganku terhadap kalian)! Jika memang kalian orang Jawa, mengapa tidak menyebut (Nama Tuhan dengan sebutan) Dewa Bathara?
37. Agama Rasul Muhammad, agamane wong ing Arbi, sira nêbut liya bangsa, têgêse sinipat kapir, tan sêbutmu pribadi, anggawe rusak uripmu, mulane tanah Jawa, kabawah mring liya jinis, krana rusak agamane kuna-kuna.
Agama Rasul(lullah) Muhammad, sesungguhnya adalah agama suci bagi orang Arab! Kalian mengikuti bangsa lain (dan mengingkari agama suci yang diperuntukkan bagi kalian ditanah Jawa)! Oleh karenanya pantas juga disebut ‘Penentang’! Tidak mengingat kepada kepribadian sendiri, membuat rusaknya kehidupan (di Jawa), oleh karenanya tanah Jawa, dijajah terus menerus oleh bangsa lain, karena telah rusak agama yang lama!
38. Wiwit biyen jaman purwa, Pajajaran Majapahit, wong Jawa agama Buda, jaman Dêmak iku salin, nêbut Rasulullahi, sêbute wong Arab iku, saiki sira tular, anilar agama lami, têgêsira iku Kristên bangsa Arab.
Semenjak awal (di tanah Jawa) dulu, (saat jaman) Pajajaran Majapahit, orang Jawa ber-agama Buda (Shiwa Buddha), semenjak jaman Dêmak lantas berganti, mengikuti ajaran Rasulullah, (yang sesungguhnya adalah) ajaran suci bagi orang Arab, sekarang kalian terus mengikuti pula, meninggalkan agama lama, artinya kalian itu Kristen dari Arab (maksudnya, jika mengikuti pola pikir manusia-manusia Jawa pasca keruntuhan Majapahit semacam orang yang tengah berdialog dengan Gatholoco saat itu, yang menganggap manusia-manusia Jawa lain yang beragama Kristen adalah ‘manusia penentang’, maka dengan pola pikir yang sama, Gatholoco bisa juga menganggap manusia-manusia Jawa pasca keruntuhan Majapahit semacam orang yang tengah berdialog dengan Gatholoco, pantas juga dianggap ‘Penentang’ oleh orang Jawa yang beragama Shiwa Buda. Gatholoco hanya sekedar membalikkan logika berfikir mereka saja. Pada gilirannya, jikalau mereka tersinggung dianggap sosok manusia-manusia ‘Penentang’, maka begitu juga perasaan orang Kristen dan orang Shiwa Buddha manakala dianggap ‘Penentang’ oleh mereka. Sebuah bentuk keegoisan yang tidak mereka sadari!)
_________________

SERAT GATHOLOCO (6)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
1. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 7-13
Yen mungguh pamêtêkingwang, Balencong tuwa pribadi, sanajan Kêlir pinasang, gamêlan wus miranti, Dhalang niyaga linggih, yen maksih pêtêng nggenipun, sayêkti durung bisa, Dhalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining Wayang.
Menurut aku, Balencong itu lebih tua, walaupun Kêlir (Layar) telah dipasang, gamelan sudah ditata, Dalang dan para niyaga (penabuh gamêlan beserta sindhen-nya) sudah duduk, akan tetapi jika masih gelap tempatnya, pasti tidak bisa, Dalang memilah dan memilih, untuk menceritakan cerita satu-persatu dari tiap jenis wayang.
Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira Ringgit, margane isih pêtêngan, ora kêna den tingali, yen Balencong wus urip, kanthar-kanthar katon murub, Kêlire kawistara, ing ngandhap miwah ing nginggil, kanan kering Pandhawa miwah Kurawa.
Yang menonton tak akan bisa melihat, kepada wujud setiap jenis Wayang, karena masih gelap gulita, tidak bisa dilihat mata, manakala Balencong sudah dinyalakan, menyala-nyala terlihat terang, Kêlir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri serta mana Pandhawa mana Kurawa.
Ki Dhalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gêdhe cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh Ringgit, pinatês pangucap-ipun, awit pituduhira, Balencong ingkang madhangi, pramilane Balencong kang luwih tuwa.
Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong yang menerangi, oleh karenanya Balencong yang lebih tua.
Dene unining gamêlan, Wayange kang den gamêli, Dhalange mung darma ngucap, si Wayang kang darbe uni, prayoga gêdhe cilik, manut marang Dhalangipun, sinigêg gangsa ika, Kaki Dhalang masesani, nanging darma ngucap molahake Wayang.
Sedangkan bunyi gamêlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak Dalang, berhentinya gamêlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang telah ditentukan.
Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sêpi, basa Sêpi Tanpa Ana, anane ginêlar yêkti, langgêng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe Wayang ucape Ki Dhalang.
Kisah yang dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Sêpi, kata Sêpi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.
Ingkang mêsthi nglakonana, ingkang ala ingkang bêcik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa.
Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik, dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.
Basa Kêlir iku Raga, Wayange Suksma Sujati, Dhalange Rasul Muhammad, Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba.
Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.
Gatholoco melontarkan teka-teki kepada ketiga orang Kyai Guru. Diantara empat hal ini, manakah yang lebih tua? WAYANG, DALANG, KÊLIR (Layar)atau BALENCONG? (Pelita yang dinyalakan sepanjang malam hingga pagi, khusus untuk mengiringi sebuah pertunjukan Wayang Kulit ). (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1)
Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, bahwa KÊLIR (Layar) jelas paling tua sendiri. Karena sebelum sebuah pertunjukan Wayang kulit dimulai, KÊLIR (Layar) harus terpasang lebih dahulu. KÊLIR (Layar) akan dibentangkan segera sebelum semuanya siap sedia. KÊLIR (Layar) mutlak harus ada terlebih dulu sebelum seluruh WAYANG ditata berjajar bahkan sebelum satu persatu karakter WAYANG dimainkan. Harus ada sebelum gamêlan dibunyikan. Harus ada sebelum DALANG duduk menuturkan kisah yang hendak dibawakan. Bahkan KÊLIR (Layar) juga ada lebih dahulu sebelum BALENCONG dinyalakan. Oleh karenanya, KÊLIR (Layar) pantas dinyatakan sebagai yang paling tua. Begitu pendapat Ahmad Ngarip (‘Arif). (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1-2)
Lain lagi pendapat dari Abdul Jabar. Menurut dia, DALANG-lah yang pantas dianggap sebagai yang paling tua. Karena, baik KÊLIR (Layar), BALENCONG berikut pula seluruh piranti perlengkapan untuk sebuah pertunjukkan Wayang Kulit, bahkan WAYANG-nya itu sendiri-pun, yang berkuasa menata, mengatur juga menjalankan, adalah SANG DALANG. Oleh karenanya, DALANG patut dianggap lebih tua dari yang lain! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 2-3)
Abdul Manap (Manaf) memiliki jawaban sendiri. Dia menganggap WAYANG-lah yang pantas dianggap tua. Karena bagaimanapun juga, dalam sebuah pagelaran Wayang Kulit, dimanapun tempatnya dan kapan saja waktu pertunjukkan tersebut digelar, yang disebut-sebut orang banyak pastilah Pagelaran WAYANG. Bukan Pagelaran DALANG, atau Pagelaran KÊLIR (Layar) apalagi Pagelaran BALENCONG! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 4-6)
Gatholoco menyalahkan semua jawaban dari ketiga Kyai Guru. Dia menyatakan BALENCONG-lah yang paling tua. Tanpa adanya BALENCONG, tak akan dapat terlihat seluruh piranti pertunjukan yang sudah tersedia. Tanpa adanya BALENCONG, keberadaan KÊLIR (Layar), WAYANG bahkan SANG DALANG sendiri, tidak akan dapat diketahui karena semua dalam kondisi gelap gulita.
Gatholoco menyatakan lagi, bahwasanya yang dimaksudkannya dengan KÊLIR (LAYAR) tak lain adalah RAGA atau STHULA SARIIRA atau JASAD MANUSIA Sedangkan WAYANG tak lain adalah SUKSMA SEJATI atau SUKSMA SARIIRA atau NAFS MANUSIA. SANG DALANG adalah perumpamaan dari ATMA SARIIRA atau RUH. Dalam bahasa Gatholoco ATMA SARIIRA atau RUH disebut RASUL MUHAMMAD ( UTUSAN YANG TERPUJI).
BALENCONG tak lain adalah simbol PURUSHA. Simbol dari MANIFESTASI ILLAHI PERTAMA yang berkehendak meng-ada-kan seluruh ciptaan ini. Dari PURUSHA-lah KEHENDAK PENCIPTAAN MULA PERTAMA TERGELAR. Dari PURUSHA-lah seluruh MANIFESTASI ILLAHI KEDUA atau ATMA atau RUH terpancarkan kedalam BAYANGAN ILLAHI (PRAKRTI, ALAM) . Dan dari KEHENDAK PURUSHA-lah PRAKRTI terus mengembang menciptakan ciptaan-ciptaan baru
BALENCONG-lah yang memberikan TERANG kepada DALANG. Dan DALANG memberikan KESADARAN kepada WAYANG. Sedangkan KÊLIR (LAYAR) hanya sekedar menjadi wahana terjadinya seluruh cerita yang dikisahkan.
PURUSHA-lah yang memberikan KESADARAN kepada ATMA SARIIRA atau RUH. ATMA SARIIRA atau RUH yang memberikan KESADARAN kepada SUKSMA SARIIRA atau NAFS. Sedangkan STHULA SARIIRA atau JASAD, hanya sekedar menjadi ‘tempat’ ter-realisasi-nya seluruh aktifitas tersebut.
BALENCONG (PURUSHA) adalah PERCIKAN DARI SANG HIDUP atau BRAHMAN. BALENCONG (PURUSHA) adalah juga DUPLICATE dari SANG HYANG WIDDHI atau BRAHMAN (Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi : Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri)!
Sedangkan GAMÊLAN dan PARA NIYAGA (PENABUH GAMÊLAN) berikut PARA PENONTON ibarat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI yang akan selalu terus menghanyutkan tingkah polah WAYANG (SUKSMA SARIIRA). Tergantung KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) untuk memutuskan, apakah WAYANG (SUKSMA SARIIRA) yang ada dalam genggaman tangannya akan terus terpengaruh dan terlarut oleh BUNYI GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI) dan TEPUK SORAK PENONTON sehingga lupa memfokuskan diri kearah USAINYA PERTUNJUKAN KEHIDUPAN. Ataukah KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) akan mengolah pertunjukan secara apik dan tepat waktu sehingga segera USAI PULA SELURUH PERTUNJUKAN KEHIDUPAN yang tengah dikisahkannya.
Jika ATMA SARIIRA TELAH BANGKIT KESADARANNYA, segera Dia akan berusaha merampungkan KISAH KEHIDUPANNYA SECARA APIK. Jika ATMA SARIIRA TIADA KUNJUNG BANGKIT KESADARANNYA, maka KISAH KEHIDUPANNYA AKAN MENJADI PANJANG DAN TAK KUNJUNG USAI! ATMA SARIIRA YANG TIDAK SADAR-SADAR, akan terus asyik memainkan SUKSMA SARIIRA dan terus terlarut dalam GELIMANG OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI! ATMA SARIIRA yang semacam ini akan terus TERJERAT DALAM PROSES KELAHIRAN DAN KEMATIAN YANG BERULANG-ULANG TANPA BERKESUDAHAN! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 10)
ATMA SARIIRA sendiri terpaksa akan masih terikat oleh HUKUM ALAM. Sebuah HUKUM SEMESTA yang absolute. Sebuah HUKUM PENUH KENISCAYAAN yang mengatur seluruh jalannya cerita kehidupan ini. Sebuah HUKUM SEBAB-AKIBAT-AKSI-REAKSI. HUKUM KARMAPHALA. Selama ATMA SARIIRA masih terjerat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI, TERJERAT DUALITAS DUNIAWI, selama itu pula ATMA SARIIRA masih akan terkena HUKUM SEBAB AKIBAT!
Gatholo mengumpamakan, bahwa DALANG -pun harus tunduk kepada ORANG YANG MENGUNDANG. YAITU ORANG YANG PUNYA HAJAT. APA KISAH YANG DIMINTA, ITU JUGA YANG HARUS DIMAINKAN. Dalam bahasa Gatholoco, ORANG YANG PUNYA HAJAT disebut KYAI SÊPI.
KYAI SÊPI tak lain adalah ALAM SEMESTA! Tak lain adalah PRAKRTI, BAYANGAN BRAHMAN! ALAM SEMESTA -lah yang mengarahkan jalannya cerita nasib manusia. ALAM SEMESTA -lah yang menumbuhkan BUAH KARMA. WALAUPUN SESUNGGUHNYA, NASIB SETIAP MANUSIA ITU YANG MERANGKAI DAN MENGUNTAINYA TAK LAIN ADALAH MANUSIANYA ITU SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYA SEKEDAR MEREKAM DAN MENUMBUHKANNYA SEMATA!
ALAM SEMESTA sesungguhnya TANPA KESADARAN. ALAM SEMSETA ibarat sebuah MESIN SUPER CANGGIH yang terus bekerja merekam seluruh aktifitas manusia. Aktifitas yang BAIK maupun yang BURUK. Dan pada ujungnya, menumbuhkan buah aktifitas tersebut dalam bentuk rangkaian TAKDIR bagi manusia itu sendiri! Oleh karenanya Gatholoco menggambarkan bahwasanya KYAI SÊPI itu seolah TIDAK ADA (Maksudnya SEOLAH TIDAK MELAKUKAN AKTIFITAS MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA). AKAN TETAPI KEBERADAANYA TERGELAR NYATA (Maksudnya ALAM SEMESTA INI NYATA BEKERJA MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA)! SESUNGGUHNYA DIA-PUN LANGGENG JUGA, DIA TAK BERUBAH, TAK BISA DITAMBAH DAN TAK BISA DIKURANGI. DIA TANPA KEHENDAK SENDIRI DAN TAK MEMILIKI KESADARAN SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYALAH BAYANGAN BRAHMAN!
Diatas itu semua, ada yang lebih berkuasa. Gatholoco menyebutnya KYAI URIP atau HIDUP! KYAI URIP tak lain adalah BRAHMAN YANG MUTLAK! SUMBER ABADI KEHIDUPAN SEMESTA RAYA! INTI SEJATI SELURUH MAKHLUK! ASAL DAN TUJUAN SELURUH MAKHLUK! SUMBER MAHA ENERGI YANG TANPA PRIBADI! YANG MELAMPAUI SEGALANYA! YANG BERADA DIMANA-MANA! YANG ADALAH SEGALANYA! KEBERADAAN, KESADARAN, KEBAHAGIAAN SEJATI! KESEIMBANGAN MURNI! YANG ADALAH KEMUTLAKAN ABSOLUT!
DAN SEJATINYA, KÊLIR (STHULA SARIIRA), WAYANG (SUKSMA SARIIRA), DALANG (ATMA SARIIRA), YANG MENONTON BERIKUT YANG MENABUH GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI), KYAI SÊPI (ALAM SEMESTA/PRAKRTI BERIKUT HUKUM KARMAPHALA-NYA) DAN BALENCONG (PURUSHA), SEMUANYA ADALAH MANIFESTASI KYAI URIP (BRAHMAN) ITU SENDIRI! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 5-6)
Gatholoco sesungguhnya hendak mengajarkan RAHASIA ILMU SEJATI kepada mereka-mereka yang masih juga terjerat konsep keber-agama-an kulit! Mereka-mereka yang terbiasa membedakan mana SAKRAL dan mana PROFAN berlebihan! Mereka-mereka yang berputar-putar pada keyakinan bahwa TUHAN tercerabut dari MANUSIA. Keyakinan bahwa TUHAN dan MANUSIA adalah dua sosok pribadi berbeda. Yang satu dilangit nan jauh disana, yang satu berdiam dibumi dengan kenelangsaan sebagai budak yang siap dimainkan dan diatur-atur sekehendak hati oleh Dia yang ada diatas langit itu! Budak yang setiap saat bisa diangkat derajatnya ataupun diperhinakan tanpa ada alasan yang jelas! Budak yang harus terus taat dan manut nurut. Budak yang akan diiming-imingi Surga jika patuh dan akan diancam dengan siksaan Neraka jika tidak patuh! Konsep ke-Tuhan-an yang sangat membelenggu dan tradisional (walau diklaim paling modern) semacam ini, dikritik secara berani oleh seorang filsuf Eksistensialisme, Friedrich W. Nietzsche dalam karyanya ZARATUSTRA, bahwa SOSOK TUHAN YANG SEMACAM INILAH PENGHALANG MANUSIA MENCAPAI TINGKATAN UEBERMENCH atau Manusia Agung. Sosok Tuhan semacam ini, menurut Nietzsche SUDAH MATI ! Lantang dia meneriakkan GOTT IST TOT (TUHAN TELAH MATI) !
Nietzsche berteriak beberapa puluh tahun lalu tentang UEBERMENCH. Gatholoco berteriak empat ratus tahun lalu tentang LANANG SUJATI. Syeh Siti Jenar berteriak enam ratus tahun lalu tentang INGSUN PANGERAN SEJATI, JATINING PANGERAN MULYA. Sidharta Gautama berteriak dua ribu lima ratus tahun yang lalu tentang BUDDHA dan Rsi Wyaasa berteriak lima ribu tahun yang lalu dalam Brahmasutra tentang AHAM BRAHMASMI. Teriakan mereka tiada beda walaupun masa kehidupan mereka terpaut rentang waktu yang jauh! Tapi mengapa masih juga tidak ada yang mendengar? Mengapa darah masih saja terus tumpah?
Gatholoco hendak mengajarkan kepada mereka-mereka yang terus menerus tercekam ketakutaan tak beralasan (Phobia) akan KUASA TANDINGAN TUHAN YANG BERNAMA IBLIS. Sehingga sering disibukkan dengan pemilahan INI DARI TUHAN, INI DARI IBLIS. INI AJARAN TUHAN, INI AJARAN IBLIS. INI SURGA TUHAN, INI SURGA IBLIS. INI UMAT TUHAN, INI UMAT IBLIS, bahkan membedakan INI AGAMA TUHAN, INI AGAMA IBLIS. (Walau diperhalus dengan ungkapan INI AGAMA LANGIT DAN INI AGAMA BUMI)!
KETAHUILAH! TIDAK ADA AJARAN DARI IBLIS, YANG ADA ADALAH AJARAN YANG BERASAL DARI EGOISME DAN KESERAKAHAN MANUSIA! ITULAH AJARAN SESAT DAN MENYESATKAN!
Gatholoco hendak mengajarkan bahwa seluruh semesta ini BERASAL DARI YANG SATU. BAHKAN BUKAN HANYA ITU SAJA, GATHOLOCO HENDAK MENGAJARKAN PULA BAHWA SESUNGGUHNYA SELURUH SEMESTA INI BERIKUT MAKHLUK YANG BERKERIAPAN DIDALAMNYA ADALAH SATU KESATUAN YANG TAK TERPISAHKAN! TAT TWAM ASI (ENGKAU ADALAH AKU JUGA)! TUNGGAL ADANYA!
Hal ini ditegaskan dalam syair ke-13 diatas.
Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba. (Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.)!
TAK HARUS ADA SEKUMPULAN SPESIES MAKHLUK HIDUP YANG PATUT DIMUSUHI! TUHAN TAK PERNAH MENGAJARKAN PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN KEPADA MAKHLUK LAIN! TUHAN HANYA MENGAJARKAN KASIH! KASIH YANG TANPA PANDANG BULU! BUKAN KASIH YANG PILIH-PILIH ALIAS PILIH KASIH!
Yang patut diwaspadai adalah SUKSMA SARIIRA ini. Karena didalam SUKSMA SARIIRA ini, terdapat AHAMKARA (EMOSI NEGATIF), MANAH (PIKIRAN LIAR) dan CITTA (MEMORI-MEMORI TRAUMATIK) . Namun ada pula yang dinamakan BUDDHI (KESADARAN RELATIF). BUDDHI adalah KESADARAN ATMA yang tinggal sedikit karena terbelenggu oleh AHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Perkuat BUDDHI ini, agar tidak terpengaruh oleh AHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Jadikan BUDDHI sebagai pengendali ketiga unsur SUKSMA SARIIRA yang lain tersebut!
AHAMKARA, MANAH DAN CITTA, ITULAH SETAN YANG SESUNGGUHNYA!
Keempat unsur SUKSMA SARIIRA inilah sesungguhnya yang dimaksud oleh leluhur Jawa jaman Shiwa Buddha dengan istilah SADULUR PAPAT KALIMA PANCÊR (SAUDARA EMPAT KELIMA PUSAT), yaitu KAKANG KAWAH (BUDDHI), ADHI ARI-ARI (MANAH), GÊTIH (AHAMKARA) dan PUSÊR (CITTA) . Sedangkan PANCÊR (PUSAT) tak lain adalah ATMA SARIIRA kita!
Konsep ini dikembangkan dalam ajaran Islam Kejawen seiring keruntuhan Majapahit, dengan mengambil kosa kata Arab, untuk menggantikan kosa kata yang berbau Weda dan berbau Jawa asli, yaitu MUTMAINAH (untuk menggantikan kosa kata KAKANG KAWAH/BUDDHI), SUFIYYAH (untuk menggantikan kosa kata ADHI ARI-ARI/MANAH), AMARAH (untuk menggantikan kosa kata GÊTIH/AHAMKARA) dan LUWWAMAH (untuk menggantikan kosa kata PUSÊR/CITTA). Lantas dikenalah istilah NAPSU PATANG PRAKARA (PRIBADI EMPAT MACAM).
Kosa kata Jawa masih tetap bertahan, tapi kosa kata Weda, sudah dikikis habis dan tidak lagi dikenal oleh masyarakat Jawa pada umumnya hingga detik ini.
Pelampauan AHAMKARA, MANAH dan CITTA , mutlak diperlukan. Manakala sudah mampu kita lampaui, BUDDHI akan bersinar terang! Begitu BUDDHI telah termurnikan, maka KESADARAN akan meningkat pesat. Dan dalam proses lompatan peningkatan KESADARAN ini, BUDDHI itu sendiri, KESADARAN RELATIF itu sendiri, akan lenyap dalam ATMA SARIIRA . Dan ATMA SARIIRA akan memperoleh kembali KESADARAN MURNI-NYA !
ATMA SARIIRA yang telah TERJAGA TOTAL ini, sebenarnya sudah bukan lagi bisa disebut ATMA. ATMA SARIIRA yang sudah MELEK SEMPURNA ini, sesungguhnya tak lain adalah BRAHMAN itu sendiri! SIDHARTA GAUTAMA, KRISHNA dan JESUS sudah mengalaminya. Lantas mengapa anda mempermasalahkan jika ada yang menyembah SIDHARTA, KRISHNA atau JESUS ?
Tinggal selangkah lagi. Manakala ATMA SARIIRA sudah lenyap dalam SAMUDERA ENERGI PURNA , manunggal total dengan BRAHMAN , maka tiada lagi terbedakan mana ATMA mana BRAHMAN. TUNGGAL ADANYA . Gatholoco menggambarkan : ………..yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa. (manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.)
Dan yang ‘ada’ hanyalah ‘YANG ADA’ itu sendiri. Tiada lagi ‘ada’ yang lain!
_________________

SERAT GATHOLOCO (7)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
2. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 17-18 :
Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.
Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.
Wêkasan kaliru tampa, tan wruh têmah ndurakani, manut kitab mêngkap-mêngkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa nikmating ilat, lan rasane langên rêsmi, rasanira ing kawruh ora rinasa.
Pada akhirnya salah terima, tidak memahami inti sari malah berbuat dosa tanpa disadari, menuruti kata-kata kitab begitu saja, menuruti dalil tanpa tahu makna sesungguhnya, hanya dibuat untuk memperoleh keuntungan duniawi, tersilap dengan keduniawian, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa lidah, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa bersenggama, makna sejati ilmu tidak dirasakan.
Gatholoco tajam mengingatkan, bahwasanya manusia-manusia yang terjebak ‘keberagamaan kulit’ seperti yang tengah berdialog dengannya, tak ubahnya bagaikan Lintah semata. Yang tak memiliki mata dan tak memiliki telinga. Pekerjaan mereka hanya menghisap darah sesama. Pekerjaan mereka hanya membuat harmonisasi kehidupan timpang.
Mereka mengira, dengan menghisap darah, mereka telah melakukan sebuah pekerjaan besar dan benar dimata Tuhan! Mereka mengira telah menghisap madu yang manis. Mengira telah melakukan sebuah pekerjaan agung yang sudah sepatutnya, walau harus menumpahkan darah!
Begitu telah kenyang menumpahkan darah, mereka akan puas dan tiada lagi tergerak untuk menelaah, apakah yang sudah dilakukan ini memang benar dimata Tuhan? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 17)
Mereka telah membuat dosa tanpa disadari. Menelan mentah-mentah kata-kata kitab suci tanpa dikupas lagi. Menuruti segala dalil tanpa mendalami inti sarinya. Padahal SUARA NURANI mereka terus berontak untuk mengabarkan arti dan makna yang sesungguhnya!
Kesadaran mereka tentang spiritualitas, tak lebih sebatas pencapaian Kenikmatan Keduniawian semata. Kenikmatan yang konon juga ada di Surga sana. Kenikmatan yang mirip dan serupa dengan Kenikmatan Dunia. Benarkah itu semua? Jika memang demikian, mengapa harus berlama-lama menunggu nanti, toh sekarang Kenikmatan serupa juga ada disini. Sudah nyata dan didepan mata malah. Lantas mengapa harus menunggu sesuatu yang masih dijanjikan nanti jika memang esensinya serupa dan itu-itu juga? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 18)
Kesadaran Spiritual-kah yang semacam ini? Jesus Kristus, Rabi’ah Al Adawiyyah, Jallaluddin Rumi, Al-Junaid, Ibnu Al-Araby, Ibnu Manshur Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Bistami, Hamzah Fanshuri, Syeh Siti Jenar dan seluruh manusia illahi semacam mereka malah dipangkas habis manakala meneriakkan kebenaran sebuah makna hakiki.
Berbeda dengan manusia illahi yang turun ditanah India, keberadaan mereka masih mendapat sambutan hangat hingga kini. Adakah yang berbeda dari pesan-pesan mereka? Tidak ada! Yang berbeda adalah medan dan tempat dimana mereka turun.
Terpujilah manusia-manusia illahi yang berani meneriakkan kebenaran dimedan yang penuh dengan manusia-manusia berkesadaran rendah! Sembah sujud saya kepada manusia-manusia illahi yang semacam ini!
3. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 27 :
Guru tiga saurira, Katrima pamuji-mami, Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap.
Ketiga Guru menjawab, Karena diterima doa kami, Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!
Sekali lagi Gatholoco hendak menghancurkan dinding kesadaran sempit dari mereka yang tengah diajaknya berdialog. Gatholoco tengah memberikan letupan bagi peningkatan kesadaran mereka. Gatholoco hendak membangun kesadaran baru, bahwasanya semua yang ada didalam semesta ini tak ada yang lain selain MANIFESTASI HYANG WIDDHI atau BRAHMAN! atau ALLAH!
PURUSHA adalah MANIFESTASI PERTAMA dari BRAHMAN manakala BRAHMAN tengah berkehendak untuk melakukan sebuah LILAA atau PERMAINAN ILLAHI-NYA. BRAHMAN YANG MELAMPAUI SEGALANYA, YANG TANPA PRIBADI. MEMPERSEMPIT DIRI-NYA DALAM KONDISI SUPER PERSONALITY. INILAH PURUSHA!
Bersamaan dengan proses ini, muncullah BAYANGAN BRAHMAN yang lantas dikenal dengan nama PRAKRTI. Inilah CIKAL BAKAL SELURUH UNSUR MATERIAL YANG ADA DI SEMESTA RAYA.
Dari PURUSHA memerciklah ATMA-ATMA atau RUH-RUH yang tiada terhitung.
Lantas, manakah yang bukan BRAHMAN atau ALLAH?
Manusia-manusia yang merasa dirinya berbeda dengan BRAHMAN, dengan TUHAN. Manusia-manusia yang merasa memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan, SESUNGGUHNYA MEREKA ADALAH PENCURI. Begitu Gatholoco menyatakan!
PENCURI? Yap! Karena mereka mengklaim memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan. Mereka tengah bermain-main dengan illusi! Dalam keyakinan mereka, pribadi mereka ini diciptakan oleh Tuhan. Mereka meyakini, Tuhan menciptakan mereka. Dan mereka berbeda dengan Sang Pencipta. Mereka punya hak pribadi. Memiliki asset sendiri. Walau menurut mereka, asset yang mereka miliki tersebut adalah pinjaman dari Tuhan.
Gatholoco menegaskan, diri kita semua ini, mulai dari ATMA SARIIRA (RUH), SUKSMA SARIIRA (NAFS), STHULA SARIIRA (JASAD) termasuk seluruh piranti indrawi (mata, telinga, hidung,dsb), berikut fungsi-fungsi inderawi (penglihatan, pendengaran, ucapan, dsb) adalah MANIFESTASI TUHAN! Bukan sesuatu yang terpisah dari-Nya. Ini semua bukan milik otonom seorang makhluk ciptaan yang disebut ‘manusia’. Jika ‘manusia’ mengklaim ini mataku, ini telingaku, ini badanku, ini penglihatanku, ini pendengaranku, ini ucapanku dsb, jelas mereka telah melakukan KLAIM PALSU! DAN ORANG YANG MENGAKUI SESUATU YANG BUKAN MILIKNYA, JELAS ADALAH SEORANG PENCURI!
Bagaimana dia bisa mengakui ini milik ‘saya’, jika sosok ‘saya’ itu sendiri sesungguhnya ‘tidak ada’? Jika sosok ‘saya’ itu sendiri sebenarnya adalah bagian Tuhan juga? Terngiangkah anda dengan kata-kata Sidharta Buddha Gautama tentang Annata (Tanpa Aku/Tanpa Saya/Kosong) ?
Dalam Pupuh III, Sinom, Syair 27 diatas bagian akhir, Gatholoco berkata keras :
……………..Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap. (…………………,Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!
Coba renungkan sekali lagi!
4. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair ) 29-31 ;
Sakehing reh lakonana, yen tan manut Sun gitiki, jalaran sira wus salah, kajêdhêgan sira maling, lah iku duwek Mami, sira anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk Jaman Gaib, Ingsun simpên ana satêngahing jagad.
Segala perintah-Ku laksanakan, jika tak menurut pasti Ku dera, sebab kalian telah salah, patut dipersalahkan karena maling, itu semua milik-Ku, kalian pakai dengan tidak benar, sekarang kembalikan, dulu hilang dikala Jaman Gaib, Aku simpan di tengah-tengah jagad.
Saksine si Wujud Makna, cirine rina lan wêngi, Ingsun rêbut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpêni, santri padha tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pêngadilan.
Saksinya adalah si Wujud Makna (Wujud dari segala inti sari makna kitab suci), bukti (dari keteledoran kalian memakai barang-Ku dengan tidak benar) telah dicatat oleh siang dan malam, Aku cari-cari tak ketemu, sekarang tengah Aku jumpai, ternyata kalian yang menyimpannya, para santri yang tidak benar! Jika tidak kalian kembalikan, Aku laporkan polisi (hukum alam), tak urung akan naik perkara dipengadilan (semesta)!
Mêsthi sira kokum pêksa, yen wêngi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, sabên bêngi den kandhangi, beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar.
Pasti akan menerima hukuman, jika malam tidur didalam penjara (terkurung dalam kegelapan batin sehingga gelisah), jika siang kerja paksa (sengsara ditengah panasnya dualitas duniawi), tiap malam dikandangkan (terus terjerat dalam kegelapan batin), berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.
Illusi manusia layak dihancurkan. Walaupun illusi itu juga Manifestasi Brahman, tapi jelas, segala macam illusi, kebodohan (awidya), ketidak murnian, keangkuhan, keserakahan dan semua yang menelikung KESADARAN SEJATI ATMA, adalah Manifestari Brahman dalam level rendah.
Semua ketidak murnian muncul dari PRAKRTI. Dan PRAKRTI hanyalah BAYANGAN BRAHMAN. DAN SEBUAH BAYANGAN, BUKANLAH YANG SEJATI. SEBUAH BAYANGAN HANYALAH ILLUSI (MAYA)!.
Sekali lagi saya tegaskan, SEGALA MACAM KETIDAK MURNIAN ADALAH BERASAL DARI PRAKRTI. DAN PRAKRTI ADALAH MANIFESTASI BRAHMAN DALAM LEVEL BAWAH! JADI JANGAN HANTAM RATA DENGAN MENYATAKAN BAIK DAN BURUK ITU SEIMBANG! HITAM DAN PUTIH ITU SELEVEL! TIDAK!
BAIK DAN BURUK, HITAM DAN PUTIH MEMANG SAMA-SAMA PERWUJUDAN BRAHMAN, MEMANG ADA DALAM SATU KESATUAN TUNGGAL. TAPI DALAM JENJANG YANG BERBEDA!
Dalam Bhagawad Gita, jelas Shrii Krishna menyatakan :
“Sifat-sifat Illahi (Daiva Sampad) adalah jalan KELEPASAN (MOKSHA), sedangkan sifat-sifat Jahat (Asura Sampad) adalah jalan menuju KETERIKATAN (LAHIR BERULANG-ULANG DIDALAM ALAM MATERIAL). Janganlah bersedih, oh Pandhawa (Putra Pandhu/ Arjuna), dirimu (karena buah karma masa lalumu), terlahir dalam sifat-sifat Illahi!” (Bhagawad Gita : 16 : 5)
Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN dan KETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa anda mempelajari KESUCIAN jika toh dalam kondisi KOTOR -pun anda sama saja dalam kondisi BERSIH? Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN dan KETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa sosok semacam SHIWA, KRISHNA, RSI VYAASA, SIDHARTA BUDDHA GAUTAMA, JESUS, SYEH SITI JENAR, GATHOLOCO dan Manusia-Manusia Illahi lainnya harus berteriak-teriak untuk membebaskan KESADARAN KITA dari jerat KETIDAK MURNIAN SEBUAH ILLUSI (MAYA)?
Jangan bermain-main dengan kata-kata. Anda akan terjebak sendiri. Pada ujungnya, anda sendiri yang akan kebingungan untuk menentukan sikap dalam menyikapi realita kehidupan ini!
ATMA telah terjebak dalam BAYANGAN BRAHMAN ! KETERJEBAKAN PADA ILLUSI (MAYA) BRAHMAN inilah yang memunculkan adanya kehidupan material. Selama keterjebakan ini terus terjadi, maka ATMA akan terus tergerus proses kehidupan material! Dia akan lahir dan mati, lahir dan mati, lahir dan mati, tanpa ada kesudahan! Jika ATMA bisa membebaskan diri dari BAYANGAN BRAHMAN, maka ATMA akan MENYATU DENGAN INTI BRAHMAN ITU SENDIRI! ATMA tidak perlu terlahirkan kedunia material kembali! Inilah MOKSHA. Inilah NIRWANA. Inilah KERAJAAN ALLAH. Inilah JANNATUN FIRDAUS!
Dalam syair 29, Pupuh III diatas, Gatholoco sengaja berkata dengan MEMPERGUNAKAN KESADARAN TERTINGGINYA! Jika mereka-mereka yang tengah diajaknya berdialog tetap meyakini keterpisahan pribadinya dengan Kepribadian Brahman, berarti mereka tidak mengikuti ‘PERINTAH ATAU PETUNJUK SEJATI BRAHMAN’ yang tertuang dalam intisari seluruh Kitab Suci! Jika illusi mereka tetap sulit disingkap, maka terpaksa HUKUM ALAM yang akan bekerja! Ini yang dimaksud ucapan Gatholoco dengan : ……..yen tan manut Sun gitiki,….(….jika tidak menurut pasti Ku dera…). Karena selain telah berillusi memiliki asset badan sendiri, mereka juga telah mempergunakan seluruh ‘barang klaim palsu’ tersebut dijalan ketidak murnian! Oleh karenanya, hilangkanlah illusi kalian. Hilangkanlah anggapan bahwa kalian itu berbeda dengan DIA! Kembalikan seluruh barang pengakuan itu kepada yang punya! Kembalikan KESADARAN kalian dari mengklaim memiliki asset sendiri menjadi SEMUA INI ADALAH BRAHMAN SEMATA!
Dalam syair 31, Pupuh III bagian terakhir, Gatholoco menurunkan kembali KESADARAN-NYA : ………..beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar. (…………berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.)
_________________

SERAT GATHOLOCO (8)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
Yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
38. Guru tiga duk miyarsa, sru nyêntak sarwi nudingi, Gatholoco sira gila, Gatholoco anauri, Ingsun gila sayêkti, yen wêruh kaya dhapurmu, wêdi bok katularan, ora duwe mata kuping, kawruhira amung jakat lawan pitrah.
Ketiga Guru begitu mendengarnya, keras membentak sembari menuding, Gatholoco kamu gila! Gatholoco menjawab, Aku memang gila, jika bertemu orang sepertimu, aku takut ketularan, tidak memiliki mata dan telinga, pengetahuan kalian hanya melulu berkisar tentang jakat pitrah (zakat fitrah) saja.
39. Kyai Guru tiga pisan, tyasnya runtik anauri, Nyata sira anak Jalang, Gatholoco amangsuli, Iku bênêr tan sisip, bapa biyung kaki buyut, kabeh kêna ing pêjah, lamun wis tumêkeng jangji, yêkti mulih mring asale padha Ilang.
Ketiga Guru semua, dengan hati panas menyahuti, Nyata kamu anak Jalang! Gatholoco menjawab seenaknya, Ucapanmu benar tidak keliru, bapak ibu kakek dan buyut-ku, semua terkena mati, jika sudah sampai pada saatnya mati, pasti pulang keasalnya semua meng-Hilang! (Inilah sikap bijak seorang yang tercerahkan. Manakala dia dihina, maka dia akan merespon dan memaknai hinaan itu dengan makna positif. Gatholoco di caci sebagai anak Jalang, tapi Gatholoco seolah tak mendengar kata Jalang tapi malah mendengar kata Hilang. Contohlah sikap seperti ini.)
40. Kiraku manawa sira, mêtu saking rêca wêsi, dene wujud tanpa nyawa, sira ora duwe budi, Kyai Guru nauri, samya misuh Truk biyangmu, Gatholoco angucap, Iku bangêt trima-mami, krana sira têlu pisan misuh mring wang.
Kukira mungkin kalian, lahir dari arca besi, berwujud tapi tanpa nyawa, karena terlihat kalian tidak mempunyai budi (buddhi : kesadaran), Kyai Guru menjawab, dengan mengumpat Turuk biyang-mu (Dasar terlahir dari Vagina)! Gatholoco berkata, Sangat berterima kasih aku, karena kalian bertiga mengumpati aku (dan ibuku).
41. Sira nuduhake biyang, ingsun iki tan udani, duk lair saking wadonan, amung ingkang sun-gugoni, wong tangga kanan kering, bapa biyang ingkang ngaku, nganakake maring wang, iku ingkang sun-sungkêmi, nanging batin ingsun ora wani sumpah.
Kalian telah berani menunjukkan darimana Aku telah terlahirkan, akan tetapi Aku sendiri tidak yakin pasti, apakah benar aku terlahirkan dari vagina, hanya yang Aku jadikan pegangan, kesaksian tetangga kiri kanan, berikut bapak dan ibu yang mengakui, telah memperanakkan Aku, keduanya Aku junjung tinggi, akan tetapi didalam hati sesungguhnya Aku tidak berani bersumpah (telah terlahir dari sebuah vagina!)
42. Iya iku bapa biyang, ingkang wêruh lair-mami, saikine sira bisa, nuduhake biyang-mami, wismane ana ngêndi, lawan sapa aranipun, amba-ciyute pira, duweke wong tuwa-mami, yen tau wêruh iku ujar ambêlasar.
(Mungkin) hanya bapak dan ibu-ku, yang mengetahui dengan pasti darimana Aku terlahirkan, akan tetapi sekarang kalian (yang baru bertemu denganku saat ini saja), telah berani menyatakan bahwa Aku terlahir dari vagina ibu, jika memang benar kalian tahu pasti, dimanakah rumah ibu-Ku, lantas siapakah namanya, serta seberapa ukuran, milik (vagina) ibu-Ku? Jika tidak bisa menjawab nyata kalian telah bersaksi palsu!
43. Krana ingsun nora wikan, wujude Ingsun saiki, mujud dhewe tanpa lawan, Allah ora karya mami, anane raga-mami, gaweyanira Hyang Agung, duk aneng alam dunya, ana satêngahing bumi, lawan sira kala karya raganira.
(Ketahuilah) sesungguhnya Aku tidak ragu bahwa, wujud(Atma)-Ku ini, berwujud dengan sendirinya (bukan dilahirkan oleh vagina) dan tiada tandingan, Allah tidak menciptakan Aku (Maksudnya Allah saja tidak menciptakan Atma atau Ruh: Atma atau Ruh tidak diciptakan, tidak ada yang menciptakan Atma atau Ruh. Atma dan Ruh adalah percikan-Nya), (sedangkan) adanya Raga(Tubuh Fisik)-Ku, (memang) buatan Hyang Agung (Maksudnya Hyang Agung/Allah hanya menciptakan Raga atau Tubuh Fisik semata), (diciptakan) saat ada di alam dunia, ada ditengah-tengah bumi, manakala membuat raga kalian (Maksudnya dicipta ditengah ruang dan waktu relatif semesta raya).
44. Sawindu lawan sawarsa, rolas wulan pitung ari, pêndhak pasar ratri siyang, saêjam sawidak mênit, ora kurang tan luwih, wukune mung têlung puluh, raganingsun duk daya, sarta wus wani nyampahi, wruhaningsun sanajan saiki uga.
Sawindu (siklus delapan tahunan) serta Setahun, Dua belas bulan Tujuh hari, Pêndhak Sêpasar (siklus hari dalam jumlah lima : Kliwon, Lêgi, Pahing, Pon dan Wage) Malam dan Siang, Satu jam Enam puluh menit, tak lebih dan tak kurang dari itu, Wuku-nya hanya tiga puluh (Wuku adalah perhitungan siklus tujuh harian/seminggu. Ada tiga puluh Wuku. Setiap Wuku berumur tujuh hari. Total tiga puluh Wuku memakan waktu 210 hari), (Didalam ukuran ruang dan waktu relatif duniawi seperti contoh diatas) Raga(Tubuh Fisik)-Ku memiliki bentuk (maksudnya tercipta), serta sudah berani menghina (maksudnya juga tercipta Tubuh Halus/Suksma Sariira yang menyelimuti kesadaran Atma sehingga berubah menjadi sosok makhluk yang tidak murni), ketahuilah hal ini sekarang juga.
45. Badanku kêna ing rusak, urip-mami wangawuhi, saobah-osiking badan, Rasulullah andandani, krana ingsun kêkasih, kinarya Pangeraningsun, marang sagunging sipat, nggêsangakên saliring tunggil, iya Ingsun iya Allah ya Muhammad.
Badanku bisa rusak, (akan tetapi) Hidup (Atma)-ku abadi, seluruh keberadaan tubuh ini, Rasulullah (Atma/Ruh)-lah yang menghiasi, karena Aku (Hidup/Atma/Ruh/Rasulullah) adalah kekasih(-Nya), dianggap sebagai Tempat untuk Mengabdi (bagi Tubuh Fisik/Sthula Sariira dan Tubuh Halus/Suksma Sariira), Tempat untuk Mengabdi bagi seluruh sipat (maksudnya segala sifat yang baik maupun yang buruk dari Suksma Sariira), menghidupi segalanya dalam satu kesatuan, (sesungguhnya) Aku (Ruh/Atma) adalah juga Allah adalah juga Muhammad.
46. Guru tiga asru mojar, Sira wani angakoni, tunggal wujud lan Pangeran, apa kuwasamu kuwi, Gatholoco nauri, Ngawruhi dadine lêbur, kalawan pêparêngan, karsane Kang Maha Suci, ingsun dhewe tan kuwasa apa-apa.
Ketiga Guru keras berkata, Kamu berani mengakui, satu kesatuan wujud dengan Tuhan, apa kekuasaanmu? Gatholoco menjawab, Menyadari menjadi dan leburnya (maksudnya menyadari sepenuhnya sepanjang kelahiran dan kematian saat terlahirkan sebagai Gatholoco saja), dengan ijin, dan kehendak Yang Maha Suci, aku sendiri tak berkuasa apa-apa. (Maksud Gatholoco, dalam kondisi Atma masih terikat oleh Suksma Sariira/Tubuh Halus dan Sthula Sariira/Tubuh Fisik, Atma hanya mampu mengetahui kelahiran dan kematiannya dalam satu siklus kehidupannya ini saja, sedangkan diluar itu, Atma belum mampu menyadari).
47. Ragengsun wujuding Suksma, angawruhi ing Hyang Widdhi, tumindak karsanira Hyang, aweh mosik liya mami, Muhammad kang nduweni, pangucap paningalingsun, pangganda pamiyarsa, dene lesan lawan dhiri, kabeh iku kagungane Rasulullah.
Ragaku adalah wujud Suksma (kata Suksma disini yang dimaksud adalah Hyang Suksma, yang artinya Tuhan. Bukan Suksma Sariira/Tubuh Halus), jelas-jelas adalah Hyang Widdhi yang terlihat, mampu eksis atas kehendak Hyang (Widdhi) sendiri, mampu pula beraktifitas (atas kehendak-Nya juga), Muhammad (Atma/Ruh juga adalah wujud Hyang Widdhi) yang memiliki, pengucapan penglihatanku, penciuman dan pendengaranku, lesan dan pribadi ini, semua itu milik Rasulullah (Atma/Ruh). (Maksudnya baik Raga/Sthula Sariira hingga Atma – dalam bahasa Gatholoco adalah Muhammad atau Rasulullah- semua adalah perwujudan Hyang Suksma atau Hyang Widdhi atau Tuhan. Atma ini tiada beda dengan Hyang Widdhi. Maka tepatlah jika dinyatakan, seluruh pengucapan, penglihatan, penciuman, pendengaran dan sebagainya sesungguhnya adalah milik Atma.)
48. Ingsun ora apa-apa, mung pangrasa duwek-mami, iku yen ana sihing Hyang, yen tan ana sihing Widdhi, duwekingsun mung sêpi, basa sêpi iku suwung, tan ana apa-apa, lir ingsun duk durung dadi, têtêp suwung ora wêruh siji apa.
Aku ini tidak memiliki apa-apa, hanya perasaan (merasa memiliki) saja yang menjadi miliku, itu saja jika mendapatkan kasih dari Hyang (Widdhi), jika tak mendapatkan kasih (Hyang) Widdhi, milikku hanyalah sêpi, arti kata sêpi adalah kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan aku saat belum menjadi, tetap kosong tak mengetahui apa-apa. (Maksudnya wujud manusia ini sesungguhnya adalah perwujudan Tuhan juga. Manusia itu ‘tidak ada’. Yang ada hanya ‘perasaan merasa ada dan memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’. Jika ‘illusi merasa ada dan merasa memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’ ini tersingkap, maka yang ada hanyalah KOSONG. KOSONG itulah KEABADIAN DAN KEBAHAGIAAN MILIK KITA DULU. KOSONG ITULAH TUHAN!)
49. Abdul Jabar nulya mojar, Sira iku angakoni, wujudmu wujuding Suksma, ing mangka ragamu kuwi, kêna rusak bilahi, ora langgêng sira wutuh, Gatholoco angucap, Ingkang rusak iku bumi, kalimputan wujud-mami lan Pangeran.
Abdul Jabar lantas berkata, Kamu mengakui, wujudmu adalah wujud (Hyang) Suksma, padahal ragamu itu, bisa terkena rusak dan celaka, tidak utuh abadi selamanya, Gatholoco berkata, Yang bisa rusak itu badan yang berasal dari bumi (kata bumi hanya mewakili segala unsur alam semesta), yang terselimuti wujud-Ku (Atma) dan Tuhan (Brahman).
50. Ingsun Ingkang Maha Mulya, tan kêna rusak bilahi, ingkang langgêng swarga mulya, Kyai Guru anauri, Yen mangkono sireki, wêruh pêsthine Hyang Agung, kang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Wêruh pisan pêsthine mring raganingwang.
Aku Yang Maha Mulia, tak bisa rusak dan celaka, yang langgeng dan sesungguhnya surga mulia (Jannatun Firdaus, Moksha, Nirwana, Kerajaan Allah) itu sendiri, Kyai Guru menyahut, Jikalau demikian kamu ini, mengetahui takdir Hyang Agung yang belum terjadi? Gatholoco menjawab, Bahkan aku bisa membuat takdir yang bakal terjadi pada diriku.
51. Ingsun pêsthi awakingwang, wayah iki dina iki, jêjagongan lawan sira, mêngko gawe pêsthi maning, kang durung den lakoni, kanggone mêngko lan besuk, supaya aja salah, dadi ora kurang luwih, lamun salah ngrusak buku sastra angka.
Telah aku tetapkan sendiri, pada saat ini hari ini, duduk bertemu dengan kalian semua, nanti aku akan membuat takdir lagi, yang belum terjadi, untuk hari esok dan kelak, harus hati-hati dalam membuatnya, sehingga tidak kurang dan tidak lebih (tetap dalam keseimbangan), jika salah bisa merusak kitab sastra angka. (Gatholoco sebenarnya hendak menjelaskan tentang hukum sebab akibat, dimana takdir itu yang membuat adalah kita sendiri)
52. Kalawan ngrusak gulungan, iku bangêt wêdi-mami, wêdi manawa dinukan, marang ingkang juru-tulis, mulane ngati-ati, gawe pêsthi aja kliru, Kyai Guru angucap, Kang durung sira lakoni, bêja sarta cilakamu besuk apa.
Jika sampai merusak gulungan kitab (maksudnya melakukan perbuatan buruk sehingga merangkai takdir buruk pula bagi diri kita), itu sangat kutakutkan, takut jika sampai dimarahi, oleh juru tulis (maksudnya alam semesta, yang merekam dan mencatat segala perbuatan dan aktifitas kita), makanya aku hati-hati, membuat takdir jangan sampai keliru, Kyai Guru berkata, Yang belum kamu jalani, untung dan celakamu besok bagaimana?
53. Aneng ngêndi kuburira, Gatholoco anauri, Kuburan wus ingsun-gawa, sabên dina urip-mami, kalawan ngudanêni, ning sawatês umuringsun, kalamun parêk ajal, sajroning rolas dina mami, lagya milih jam sarta wayahira.
Dimanakah kuburmu? Gatholoco menjawab, Kuburku telah aku bawa, setiap saat dalam kehidupanku, serta aku tahu, pada batas usiaku, jika sudah dekat ajal, dalam dua belas hari, baru memilih jam dan saatnya. (Gatholoco berkata benar. Manusia yang kesadarannya tinggi, mampu memilih hari, jam dan saat kematiannya sendiri!)
54. Yen gawe pêsthi samangkya, papêsthene awak-mami, bokmanawa luwih kurang, susah anggoleki pêsthi, bêcike sabên lawan ari, anggawe papêsthen iku, manut sênênging driya, dadi ora kurang luwih, ora angel ora cidra ing sêmaya.
Membuat takdir itu, takdir untuk diriku sendiri, sangat sulit membuat yang seimbang (maksudnya membuat takdir yang menghasilkan keseimbangan sehingga menunjang lepas dari dualitas duniawi), sangat sulit mencari takdir (yang menunjang pelampauan dualitas tersebut), lebih baik setiap hari, dalam membuat takdir, dibuat dalam keadaan pikiran yang bahagia (pikiran positif), sehingga hasilnya kelak tidak akan lebih dan kurang (seimbang), tidak membuat kesukaran (dalam proses evolusi Atma) dan tidak membuat ingkar janji (mengingkari tujuan hidup yang sejati yaitu menyatu dengan SUMBER ABADI SEMESTA).
55. Kyai Abdul Jabar ngucap, Pêsthine marang Hyang Widdhi, ingkang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Iku pêsthening Widdhi, dudu pêsthi saking ingsun, Allahku sabên dina, anggawe papêsthen mami, anuruti marang kabeh karsaningwang.
Kyai Abdul Jabar berkata, (Bagaimana dengan) ketetapan Hyang Widdhi, yang belum terlaksana, Gatholoco menyahut, Itu ketetapan (Hyang) Widdhi, bukan ketetapan dari-(Atma)ku, Allah-ku setiap hari, membuat ketetapan bagiku, menuruti kepada semua kehendak-ku. (Disini jelas harus dibedakan, mana takdir yang dibuat oleh manusia untuk dirinya sendiri melalui pikiran, perkataan dan perbuatannya, dengan takdir jalannya siklus semesta raya. Jelas, takdir bagi diri sendiri kitalah yang membuat, tapi takdir jalannya siklus semesta raya, manusia tidak bisa membuatnya.)
56. Guru tiga sarêng ngucap, Gatholoco sira iki, nyata kasurupan setan, Gatholoco anauri, Bênêr pan ora sisip, kala ingsun dereng wujud, ana ing alam samar, tumêka ing jaman mangkin, setaningsun durung pisah saking raga.
Ketiga Guru sama-sama berkata, Gatholoco kamu ini, nyata-nyata kesurupan setan! Gatholoco menjawab, Benar memang tidak salah, saat aku belum lahir, didalam alam yang samar, hingga pada jaman aku lahir (kembali sekarang), setanku belum bisa aku pisahkan dari diriku!
57. Basa setan iku seta, asaling bibit sakalir, wujudingsun duk ing kuna, punika asale putih, lamun durung mangrêti, iya iku asal ingsun, purwa saking sudarma, tumêka kalamullahi, sayêktine ingsun asal Kama Pêthak.
Setan itu berasal dari (air) putih (sperma), bibit semua manusia, wujudnya pertama kali, berwarna putih, maka ketahuilah, itulah asal-ku, berasal dari orang tua laki-laki, hingga aku harus lebur (moksa, maka setan akan tetap ada didalam diriku), sesungguhnya aku (Tubuh fisik ini beserta setannya) berasal dari Kama Pêthak (sperma berwarna putih)!
58. Mênêk Guru têlu sira, Kama Irêng ingkang dadi, dene buntêt tanpa nalar, Abdul Manap duk miyarsi, mojar mring Ahmad Ngarip, Abdul Jabar Yen sarujuk, wong iki pinatenan, lamun maksih awet urip, ora wurung ngrusak sarak Rasulullah.
Akan tetapi kalian ketiga Guru, Kama Irêng (sperma hitam) asal kalian (sperma yang berisi roh-roh terikat) sehingga bodoh tanpa nalar! Abdul Manap (Abdul Manaf) begitu mendengar, berkata kepada Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), serta kepada Abdul Jabar Jika kalian setuju, kita bunuh saja orang ini! Jika masih tetap hidup, tidak urung akan merusak syari’at Rasulullah!
59. Iku wong mbubrah agama, akarya sêpining masjid. Gatholoco asru ngucap, Den enggal nyuduk mring mami, sapisan nyuduk jisim, pindho bathang sira suduk, ya ingsun utang apa, arsa mateni mring mami, saurira Mung lêga rasaning driya.
Orang ini merusak agama, bakal membuat sepinya masjid, Gatholoco keras berkata, Segeralah tusuk Aku, pertama kamu hanya akan mampu menusuk tubuh fana ini saja, kedua kamu hanya akan mampu menusuk bangkai (tidak bakalan kalian mampu menusuk yang namanya ‘Aku’)! Berhutang apakah Aku pada kalian? Sehingga kalian hendak membunuh ‘Aku’? (sesungguhnya kalianlah yang telah banyak berhutang pada-Ku)! Terdengar jawaban, Agar puas rasa hati kami!
60. Krana sira ngrusak sarak, Gatholoco anauri, sarak tan kêna rinusak, pinêsthi dening Hyang Widdhi, …………………………, ………………………, …………………….., iku têtêp aran janma ngrusak sarak.
Karena kamu telah merusak syari’at! Gatholoco menyahuti, Syari’at (hukum yang sesungguhnya alias hukum alam) tidak bisa dirusak! Sudah ditetapkan demikian oleh Hyang Widdhi, (belum saatnya saya terjemahkan……………….), Itulah sesungguhnya yang dinamakan manusia perusak syari’at!!
61. Dene bangsane agama, sasênêngne wong ngaurip, sanajan agama Cina, lamun têrus lair batin, yêkti katrima ugi, Guru têlu agamamu, iku agama kopar, agamaku ingkang suci, iya iku kang aran Agama Rasa.
Semua agama, terserah kepada pribadi masing-masing, walaupun agama berasal dari Cina, apabila mantap lahir batin, pasti diterima (oleh Tuhan), agama kalian, itu agama sombong, agamaku yang suci, inilah yang disebut Agama Rasa.
62. Têgêse Agama Rasa, nuruti rasaning ati, rasaning badan lan lesan, iku kabeh sun-turuti, rasaning lêgi gurih, pêdhês asin sêpêt kêcut, pait gêtir sadaya, sira agama punapi, saurira Agamaku Rasulullah.
Maksud dari Agama Rasa, mengamati rasa hati, rasa badan dan rasa lidah, itu semua aku amati, rasa manis gurih, pedas asin sepat kecut, pahit dan getir semuanya (Gatholoco tengah menguraikan meditasi Vipassana, yaitu melatih Kesadaran agar senantiasa awas dengan segala gejolak pikiran dan segala sensasi tubuh), sedangkan kalian agama apakah, Mereka menjawab Agamaku agama Rasulullah!
63. Gatholoco asru ngucap, Patut sira tanpa budi, aran ra punika raras, sul usul raras kang sêpi, sul asal têgêsneki, mulane sireku kumprung, Guru tiga miyarsa, sigra kesah tanpa pamit, sakancane garundêlan urut marga.
Gatholoco keras menyahuti, Pantas kalian tanpa buddhi (kesadaran), tidak bisa mengamati rasa diri, mengamati asal usul rasa yang sepi (dari segala rasa), makanya kalian bingung, Mendengar kata-kata itu ketiga Guru, segera pergi tanpa pamit, seluruh yang bersama mereka menggerutu sepanjang jalan.
64. Sangêt dennya nguman-uman, Ahmad Ngarip muwus aris, Abdul Jabar Abdul Manap, salawasku urip iki, aja pisan pisan panggih, kalawan wong ora urus, manusa tan wruh tata, jroning ngimpi ingsun sêngit, yen kapêthuk sun mingkar tan sudi panggya.
Sangat-sangat sakit hati, Ahmad Ngarip (Ahad ‘Arif) berkata pelan, Abdul Jabar Abdul Manap (Abdul Manaf), selama hidupku ini, jangan sekali-kali lagi bertemu lagi, dengan orang yang tidak benar, manusia yang tidak mengetahui etika (seperti Gatholoco), bahkan didalam mimpi sekalipun, jika bertemu aku akan menghindar tidak sudi bertemu!
65. Gatholoco kang tinilar, aneng ngisoring waringin, rumasa yen mênang bantah, mangkana osiking galih, bangêt kêpati-pati, angêkul sameng tumuwuh, Sun-kira luwih manah, pangawruhe Guru santri, dene iku isih bodho kurang nalar.
Gatholoco yang ditinggal, dibawah pohon beringin, merasa jika telah menang dalam berdebat, begini kata hatinya, Sangat-sangat prihatin aku, betapa banyak manusia yang tidak sadar seperti kul (keong), aku kira sangat luas, wawasan Guru para sanri (tadi), ternyata masih bodoh kurang nalar.
66. Durung padha durung timbang, yen tinandhing kawruh-mami, durung nganti ingsun-gêlar, kawruhku kang luwih edi, prandene anglangani, kalah tan bisa samaur, yen mangkono sun-kira, ingkang muruk tanpa budi, iku nyata setan ingkang menda janma.
Sangat-sangat tidak seimbang, apabila diukur dengan wawasan-ku, belum juga aku wedarkan, pengetahuanku yang lebih unggul, tapi pada kenyataannya, kalah tak bisa menjawab, jika demikian kesimpulanku, siapa saja yang mengajarkan ilmu tanpa buddhi (kesadaran), itu nyata-nyata setan yang menjelma sebagai manusia.
67. Lamun wulange manusa, mêsthine pada mangrêti, mring duga lawan prayoga, aywa karêm karya sêrik, mulane kudu eling, eling marang Ingkang Asung, asung urip kamulyan, upayanên den kapanggih, yen pinanggih padhang têrang sagung nalar.
Jika benar-benar manusia, pastilah akan memahami, akan baik dan buruk, tidak suka gampang menghakimi sesama, oleh karenanya harus ingat, ingat kepada yang Maha Pemberi, yang memberikan kemuliaan hidup, carilah (Dia) hingga ketemu, jika telah ketemu akan terang benerang kesadaran ini.
68. Yen padhang têgêse gêsang, lamun pêtêng iku mati, janma ingkang duwe nalar, aran manusa sujati yen luwih wus ngarani, agal myang alus cinakup, tan kaya Guru tiga, bodhone kêpati-pati, cupêt kawruh pêtêng nalar maknanira.
Terang itu hidup, sedangkan gelap itu mati, manusia yang mempunyai kesadaran, itulah manusia sejati, manusia yang unggul, melampaui yang kasar dan halus (dualitas duniawi), tidak seperti ketiga Guru tadi, sangat-sangat bodoh, sempit wawasan gelap kesadarannya.
69. Gatholoco gya lumampah, têtêmbangan urut margi, kêbo bang kagok (sapi) upama, ‘sapi-san’ maning pinanggih, bibis alit ing tasik (undur-undur), ora ‘mun-dur’ bantah kawruh, pêlêm gung mawa ganda (kuweni), kawuk ingkang menda warni (slira), bêcik ingsun ‘ngênte-ni’ lan ‘ura-ura’.
Gatholoco segera beranjak, melantunkan tembang sepanjang jalan, Kerbau berwarna merah keputihan (SAPI maksudnya), ‘SAPI-san’ (sekali lagi) bertemu, binatang bibis yang hidup diatas pasir (binatang UNDUR-UNDUR), tidak akan ‘mun-DUR’ jika harus berdebat lagi, mangga besar dengan baunya yang harum (mangga KWENI), binatang kawuk yang berganti rupa (binatang SLIRA), lebih baik aku ‘ngente-NI’ (menanti) sembari ‘u-RA-u-RA’ (berdendang).
70. Gude rambat (kara) puspa krêsna (tlasih), ‘mani-ra’ pan ‘i-sih’ wani, witing pari (dami) enthong palwa (wêlah), ora nêja ‘ka-lah ma-mi’, araning wisma paksi (susuh), ‘mung-suh’ sira guru pêngung, parikan ulêr kambang (lintah), ingsun sênêng ‘ban-tah’ ilmi, wêlut wisa (ula) tininggal atiku ‘gê-la’.
Tumbuhan Gude yang merambat (tumbuhan KARA) daun hitam (daun TLASIH), mani-RA (diriku) sungguh ‘ma-SIH’ berani, batang padi (DAMI) centhong perahu (dayung atau WÊLAH), tidak akan ‘ka-LAH ma-MI (diriku)’, nama rumah burung (SUSUH), ‘bermu-SUH-an’ dengan kalian guru bodoh, ulat yang mengambang diair (LINTAH), aku sangat suka ‘berban-TAH-an’ ilmu, belut yang berbisa (ular atau ULA) ditinggal hatiku ‘gê-LA (kecewa)’.
71. Mendhung pêthak (mega) kunir pita (têmu), ‘muga-muga têmu’ maning, têpi wastra rinumpaka (kêmadha), banjur ‘pa-dha’ maring ngêndi, kayu rineka janmi (golek), apa ‘golek’ guru jamhur, sarkara munggeng tala (madu), arsa den ‘a-du’ lan mami, wadhung rêma (cukur) malah ‘so-kur’ yen mangkana.
Mendung berwarna putih (MEGA) kunyit merah (TÊMU), ‘semo-GA bertê-MU’ lagi, pinggir kemben yang dirias (KÊMADHA), lantas ‘pa-DHA (sama)’ kemana semua? Kayu yang dibuat seperti wujud manusia (GOLEKAN), apa mau ‘GOLEK (mencari)’ Guru terkenal? Cairan manis diatas pohon (MADU), hendak ‘di-ADU’ dengan aku, cangkulnya rambut (alat CUKUR) malah ‘syu-KUR’ jika memang begitu.
72. Jangkrik gung wismeng kêbonan (gangsir), manira ora ‘guming-sir’, bêbasan putrane menda (cêmpe), ‘sakarê-pe’ sun-ladeni, jamang wakul (wêngku) upami, angajak apa ‘sire-ku’, duh lae putêr wisma (dara), nganggo ‘si-ra’ mêjanani, kênthang rambat (katela) sanajan rupaku ‘a-la’.
Jangkrik bertubuh besar berumah dikebun (binatang GANGSIR), diriku tidak akan ‘guming-SIR (mundur)’, anak kambing (CÊMPE), ‘sakare-PE (semaunya)’ aku layani, mahkota tempat nasi (WÊNGKU), mau mengajak apa ‘sire-KU (dirimu)’, burung Puter yang suka dipelihara (burung merpati atau DARA), sehingga ‘si-RA (kamu)’ menghinaku, buah kentang yang merambat (KÊTELA) walaupun wajahku ‘a-LA (jelek)’.
73. Mênyawak kang sabeng toya (slira), ‘praka-ra’ mung bantah ilmi, wulu bauning kukila (êlar), kabeh ‘na-lar’ sun tan wêdi, sayêkti pintêr mami, tinimbang lan sira guru, kaca tumraping netra (têsmak), ora ‘ja-mak’ mejanani, mulwa rêngka (srikaya) yen sira luru ‘sara-ya’.
Biawak yang suka di-air (binatang SLIRA), ‘perka-RA’ tentang berdebat ilmu, bulu punggungnya burung (ÊLAR), segala ‘na-LAR’ (pengetahuan) aku tidak takut, pasti lebih pintar aku, daripada kalian para guru, kaca untuk mata (kaca mata atau TÊSMAK), ‘ora ja-MAK (tidak lumrah, sudah melampaui batas)’ penghinaan kalian, buah nangka yang gampang terbelah (buah SRIKAYA), jika kalian mencari ‘sara-YA (cara)’.
74. Kêmadhuh rujit godhongnya (rawe), aywa suwe sun-anteni, guru ngêndi srayanira, najan jamhur luwih wasis, ingsun wani nandhingi, angayoni bantah kawruh, masa ingsun mundura, yeku karsane Hyang Widdhi, raganingsun yêktine darma kewala.
Daun kemadhuh bergerigi (RAWE), jangan ‘su-WE (lama)’ aku nantikan, guru mana yang kamu andalkan, walaupun tersohor dan pintar, aku berani menandingi, melayani berbantah ilmu, tidak akan aku mundur, karena ini semua kehendak Hyang Widdhi, diriku hanya sekedar menjalani.
75. Gatholoco sukeng driya, rêrêpen alon lumaris, miling-miling mung priyangga, dumugi patopan mampir, manjing mring bambon linggih, ngambil klelet kang kinandhut, saglindhing dipun untal, ngrasuk badan anyêgêri, kraos gatêl astane ngukur sarira.
Gatholoco suka dihati, berdendang sembari berjalan pelan, hanya sendirian saja, sampai disebuah tempat lantas mampir, masuk kedalam tempat madat dan duduk, mengambil candu yang di bawa, segelintir langsung dimakan, merasuk badan menyegarkan, terasa gatal tangannya menggaruk tubuh.
_________________

SERAT GATHOLOCO (9)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
PUPUH IV
Pangkur
(Kumpulan syair IV, Lagu ber-irama Pangkur)
1. Kacarita ing Cêpêkan, pondhok agêng panggenan santri ngaji, punika sampun misuwur, kawêntar manca praja, wontên Kyai pinunjul jumênêng Guru, alim jamhur tanpa sama, kang nama Kasan Bêsari.
Diceritakan di Cêpêkan, pondok (pesantren) besar tempat para santri belajar mengaji, sudah terkenal, tersohor keluar daerah, terdapat seorang Kyai berkedudukan sebagai Guru, sangat alim tersohor tiada tandingan, yang bernama Kasan Bêsari (Hassan Bashori).
2. Kajuwara yen ulama, mila unggul ginuron para santri, muridipun tigang atus, ing wanci bakda isak, wus salat neng langgar ngaji sadarum, Kyai Guru arsa mulang, kitab Pêkih miwah Tapsir.
Unggul diantara para ulama, maka banyak didatangi para santri, muridnya berjumlah tiga ratus orang, dikala bakda isya’, selesai bersembahyang di-Langgar (Musholla), Kyai Guru hendak mengajar, kitab Pêkih (Fiqih) dan Tapsir (Tafsir Al-Qur’an).
3. Undha usuk warna-warna, wontên santri ingkang lagya niteni, makna lapal Kuran-ipun, ngasil-ingasil ika, samya taken-tinaken mring kancanipun, wontên ingkang sampun paham, ngapalakên kitab Sitin.
Tingkah para santri bermacam-macam, ada yang tengah serius memperhatikan, makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), apa yang dapat mereka pahami, beberapa orang tengah saling tanya dengan temannya, ada yang sudah paham (ada yang belum), lantas menghafalkan Kitab Sittin.
4. Tanapi sagunging kitab, sasênênge santri sawiji-wiji, santri ingkang sampun putus, ing makna lapal Kuran, mêncil mêncul madoni mring Kyai Guru, maknanira lapal Kuran, angambil sagunging misil.
Serta beberapa Kitab lagi, sesuai keinginan para santri sendiri-sendiri, santri yang sudah berhasil, menghafal makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), segera mencoba mendebat Kyai Guru, untuk semakin memahami maknanya, mencari arti yang sesungguhnya.
5. Ingkang sampun kinawuhan, kang sawêneh ana santri pradondi, ing lapal makna puniku, udrêg paben grêjêgan, santri kalih mara mêrak marang Guru, gya kasaru tamu prapta, Abdul Jabar Ahmad Ngarip.
Makna yang bisa mereka tangkap, ada juga beberapa santri yang tengah bertengkar, mengenai sedikit makna yang berhasil mereka mengerti, bertengkar rame saling ngotot, dua orang santri mendekat kehadapan (Sang) Guru, berbarengan dengan kedatangan para tamu, Abdul Jabar Ahmad Ngarip (‘Arif).
6. Miwah Kyai Abdul Manap, sabat nênêm datan pisah tut wuri, sinauran salamipun, kang ngaji tutub kitab, tamu wau nulya minggah nglanggar gupuh, apan samya sêsalaman, jawat tangan gênti-gênti.
Berikut Kyai Abdul Manap (Manaf), enam sahabat terlihat mengikut dibelakang, telah dijawab salam yang mereka ucapkan, seluruh yang tengah mengaji segera menutup kitab (masing-masing), para tamu naik keatas Langggar (Musholla) segera, sebentar kemudian saling bersalaman, mempertemukan tangan dengan tangan berganti-gantian.
7. Sawustru sêsalaman, sampun warata sadaya para santri, munggeng langgar tata lungguh, Kasan Bêsari mojar, Dene gati kados wontên karsanipun, pukul pintên mangkatira, saking pondhok Rêjasari.
Setelah bersalaman, merata kepada seluruh santri, masing-masing para tamu segera bersila, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Sepertinya ada hal yang sangat penting, pukul berapa tadi berangkat, dari pondhok (pesantren) Rêjasari?
8. Angling Kyai Abdul Jabar, Bakda subuh mangkat wanci byar enjing, milahipun ngantos dalu, kêdangon wontên marga, mandhêg bantah kawon mêngsah tiyang kupur, Gatholoco namanira, dhapure mbotên mêjaji.
Menjawab Kyai Abdul Jabar, Selepas Subuh tepat pagi menjelang (kami) berangkat, tiba disini hingga malam, (sebab) terlalu lama, berhenti dijalan berbantahan ilmu dengan manusia Kupur (Kufur) dan (kami) kalah, Gatholoco namanya, orangnya sangat jelek.
9. Punika setan katingal, anak Bêlis ambêgta wadhung linggis, pan kinarya ngrusak ngrêmuk, ing sarak Rasulullah , ingkang lêrês dipun wadhung lêmah putung, yen pokah rêbah binubrah, agami den obrak-abrik.
Orang ini adalah Setan yang mewujud, anak Iblis yang tengah membawa pedang dan linggis, yang hendak dipergunakan untuk merusak dan meremukkan, syari’at Rasulullah, yang sudah lurus hendak ditebas dengan pedang, yang sudah benar hendak dirusak, agama diobrak-abrik!
10. Sadaya sarak tinêrak, morak-marik sirik den orak-arik, amung nekad gasruh rusuh, jinawab mung sakêcap, gulagêpan kula tan bangkit sumaur, sagung karam rinampasan, ambubrah sarak lan sirik.
Seluruh syari’at (peraturan) diterjang, kacau balau larangan dijungkir-balikkan, niatnya memang hendak membikin rusuh, satu ucapan dari mulutnya, membikin hamba gelagepan tak bisa menjawab, segala yang haram dipakainya, membuat bubrah syari’at (peraturan) dan larangannya!
11. Wungkul akal mokal nakal, sangêt ngrengkel ngungkil nyrekal mêthakil, sakeh kawruh kabarubuh, sagung pasal kasingsal, dalil-dalil katail ing misilipun, kula mapan mung kasoran, kula nyingkring botên mlangkring.
Sangat pintar dan cerdik, sangat alot tajam (kritis) seenaknya dan semaunya, seluruh ilmu kami tertindih (oleh ilmu)nya, seluruh jawaban (kami) tiada berguna, dalil-dalil (kami) mentah maknanya (dihadapan dia), kami semua menerima kalah, kami kejarpun tak mampu kami memegang (ilmu)nya.
12. Panggah bantah mêksa kalah, boten bêtah isin den iwi-iwi, sakeh padu dipun buru, sakeh jawab tan mênang, salin pisuh botên pasah saya rusuh, malah munggah ngarah sirah, lir maling nêja anjiling.
Memaksakan terus berdebat tetap juga kami kalah, (kami) tak bisa menahan malu manakala dicemooh, segala debat mampu dijawabnya, segala bantahan kami tiada menang, hingga kami maki-pun tetap saja kami kalah, malahan semakin lancang menginjak kepala, bagai maling yang kurang ajar (kepada pemilik barang yang dimalinginya).
13. Kula tansah kaungkulan, pijêr kojur botên sagêd ngungkuli, kula suwun mring Hyang Agung, salami-kula gêsang, sampun ngantos kêpranggul tiyang kayeku, yen kapêthuk kula nyimpang, jejera kula sumingkir.
Kami selalu diunggulinya, senantiasa kalah tak dapat mengungguli, kami meminta kepada Hyang Agung (Tuhan), semoga selama hidup, jangan sampai bertemu lagi dengan manusia seperti itu, apabila berpapasan kami akan menghindar, jika bersebelahan kami akan menyingkir!
14. Manah kula sampun jinja, krana saking kapok den iwi-iwi, Kasan Bêsari duk ngrungu, mring nalar kang mangkana, sanalika dennya ngontor asru bêndu, jaja bang mawinga-winga, muring-muring waja gathik.
Hati kami sudah enggan, sebab kapok terus dicemooh, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) manakala mendengarnya, akan kelakuan manusia semacam itu, seketika murka, dada bergemuruh wajah memerah, marah-marah gigi bergemeletukan!
15. Netra andik angatirah, Kyai Kasan Bêsari ngucap bêngis, Patut kang kaya dhapurmu, santri remeh kewala, bênêr sira mantholos êndhasmu gundhul, buntu buntêt tanpa nalar, mung jakat kang sira-incih.
Mata melotot tajam, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata kasar, Pantas jika seperti kalian (kalah), para santri bodoh, memang benar kepala kalian pelontos gundhul, tapi otak kalian buntu tanpa kepintaran, hanya Jakat (Zakat Fitrah) semata yang kalian ketahui!
16. Durung patut ginuronan, guru bodho kawruhmu mung sanyari, ora liya kabisanmu, marani anggêr wisma, kang ginawa kasang wadhah karag sêkul, bisane Ndonga Kabula, ngaji kulhu lamyakunil.
Belum pantas digurui (oleh para murid), guru bodoh ilmumu hanya sejengkal jari, tiada lain yang kalian bisa, keluar masuk rumah, sembari membawa bakul nasi (maksudnya untuk memimpin acara tahlilan atau selamatan saja dan pulang-pulang membawa makanan dari acara tersebut), bisanya hanya membaca Doa Kabula (Do’a Qabul : Do’a agar niat tuan rumah yang mengadakan acara tahlilan atau selamatan terlaksana), hanya bisa membaca Kulhu lamyakunil (Kulhu Allahu Ahad, Allahu Shomad…dst. Maksudnya, doa yang umum diketahui semua orang!)
17. Ora padha kaya ingwang, marma gun-DHUL kasun-DHUL ing agami, mila pu-TIH surbaningsun, ti-TIH te-TEH micara, kalah iki mêsti ngambil saking biku, mila kêthu taranca-NGAN, panja-LIN ingkang kinardi.
Tidak seperti aku, ‘gun-DUL’ kepalaku karena ‘sun-DHUL’ (menggapai langit) ilmu agamaku! ‘Pu-TIH’ sorbanku, karena mulutku ‘ti-TIH te-THE’ (jelas dan lugas) menyampaikan ilmu, memakai kethu (kopiah/songkok model kuno) berbentuk ‘têranca-NGAN’ (bersusun indah) terbuat dari jalinan ‘pênja-LIN’
18. Keri-NGAN santri ulama, ora kewran kawruhku saLIN-saLIN, nrawang putus ngisor dhuwur, mila klambi kêba-YAK, bisa mi-YAK marang kawruh agal alus, sabuk poleng MANCA WARNA, kawruh ingsun WARNI-WARNI.
(Karena aku) ‘Keri-NGAN’ (Terkenal) diantara para santri dan ulama, bahkan tidak hanya itu ilmuku bisa ‘sa-LIN sa-LIN’ (Berganti-ganti karena saking banyaknya ilmu), jelas dan terang mulai hal yang rendah hingga yang tinggi, aku memakai busana ‘kêba-YAK’ (kebayak model untuk pakaian santri), karena aku bisa ‘mi-YAK’ (membuka) rahasia ilmu yang kasar dan ilmu yang halus (maksudnya dari ilmu yang tergampang hingga ilmu yang tersulit), berikat pinggang model Poleng (berbelang-belang) ‘BERANEKA WARNA’, karena ilmu-ku pun ‘ber-WARNA-WARNI’
19. Ilmu Jawa Landa Cina, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, kabeh iku wus kacakup, sun-simpên aneng kasang, kawruh Arab awit timur nganti lamur, kawruh Jawa tan kuciwa, dhasar ingsun bangsa Jawi.
Ilmu Jawa Belanda China, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, semua sudah aku kuasai, aku simpan dalam penyimpanan yang rapi, ilmu Arab aku kuasai semenjak muda hingga mataku mulai kabur, ilmu Jawa-pun tak mengecewakan, karena dasarnya aku memang orang Jawa!
20. Mila bêbêd sarung amba, omber jêmbar ngungkuli ingkang dakik, kabeh ilmu ingsun wêruh, nganggo tês-BEH sanyata, ka-BEH kawruh ingkang luwih saking alus, ora nana bisa mada, amadani marang mami.
Makanya aku memakai sarung yang lebar, karena ilmuku lebar dan luas melebihi semua orang yang ahli ilmu, segala ilmu aku ketahui, akupun memegang ‘tas-BEH’ (tasbih), karena ‘ka-BEH’ (semua) ilmu yang terhalus sekalipun (aku kuasai), tak ada yang bisa menghina, mencemooh kepada diriku.
21. Mulane nganggo gam-PARAN, sa-PARAN-ku angungkuli sasami, mulane CIS têkêningsun, kumê-CIS nora cidra, anêrawang jaba jero ngisor dhuwur, upamane ingsun kalah, mungsuh janma tanpa budi.
Oleh karenanya pula aku memakai ‘gam-PARAN’ (terompah), (karena) ‘sa-PARAN-ku’ (dimanapun diriku) akan melebihi sesama, oleh karenanya ‘CIS’ (tongkat) tongkatku (Cis itu padanan kata Tongkat), ‘kumê-CIS’ (berani) tak akan mundur, ku ketahui segala hal mulai bagian luar dalam bawah hingga atas, seumpama aku sampai kalah, melawan manusia tanpa Budi (Buddhi ; Kesadaran).
22. Sayêktine ingsun wirang, golekana saiki ana ngêndi, si Gatholoco wong kumprung, ingsun arsa uninga, mring warnane janma ingkang kurang urus, Ahmad Ngarip ujarira, Duk wau sapungkur mami.
Aku akan sangat-sangat malu, carilah sekarang dimana, si Gatholoco manusia tidak tahu aturan itu, aku ingin melihat, (bagaimana) wujud manusia yang kurang ajar tersebut, Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, Sepeninggal kami tadi.
23. Tut wingking lampah kawula, kintên-kintên dalu punika ugi, nyipêng wontên kitha Pungkur, Kasan Bêsari ngucap, Lamun mrene sun jewere kupingipun, mungsuh janma ngrusak sarak, kalah lambene sun juwing.
Sepertinya berjalan mengikuti langkah kami, kira-kira malam ini juga, tengah bermalam di kota Pungkur, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Jika ada disini akan aku jewer telinganya! Berdebat dengan manusia perusak syari’at seperti dia, jika nanti sampai dia kalah akan aku cincang mulutnya!
24. Sun karya pangewan-ewan, Duk samana dupi sampun byar enjing, wanci bakda salat subuh, prentah mring santri tiga, Golekana Gatholoco den katêmu, têkakna mring ngarsaningwang, Santri tiga gya lumaris.
Benar-benar aku berjanji, Bersamaan dengan datangnya pagi, seusai shalat subuh, (Kyai Hassan Bashori) memberikan perintah kepada ketiga santri, Carilah Gatholoco hingga ketemu, bawa kehadapanku, Ketiga santri segera berangkat.
25. Datan winarna ing marga, santri tiga lampahnya sampun prapti, ing pacandhon kutha Pungkur, nulya manjing ngêpakan, santri tiga pramana samya andulu, ing pacandhon wonten janma, êndhek cilik bokong canthik.
Tidak diceritakan dalam perjalanan, ketiga santri akhirnya sampai, ditempat madat kota Pungkur, langsung masuk ke-tempat madat tersebut, ketiga santri awas melihat-lihat, didalam tempat madat terdapat manusia, (berpostur) pendek pantat tepos.
26. Tinakenan namanira, gya sumaur Yen sira takon mami, Gatholoco araningsun, santri tiga tuturnya, Katimbalan sireku mring ngarsanipun, Guruning santri Cêpêkan, Kiyai Kasan Bêsari.
Manakala ditanya siapa namanya, segera dijawab Jika kalian bertanya siapa namaku, Gatholoco namaku, Ketiga santri berujar, Kamu dipanggil untuk menghadap, Guru para santri di (pondok pesantren) Cêpêkan, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).
27. Kinen sareng lampah kula, Gatholoco maleleng ngiwi-iwi, gela-gelo manggut-manggut, nanging kendêl kewala, cangkêmipun macucu boten sumaur, nulya nêmbang ura-ura, larase mung anggêr muni.
Menghadap bersama dengan kami sekarang, Gatholoco acuh sembari mencibir, mempermainkan kepala manggut-manggut, akan tetapi tak bersuara, mulutnya dimonyongkan tak ada jawaban, lantas menyanyikan tembang, iramanya asal bunyi.
28. Piyik anak manuk Dara, Pêdhet iku jarene anak sapi, Cêmpe cilik anak Wêdhus, Gudel anak Maesa, Kirik cilik iku jare anak Asu, Belo kêpêl anak jaran, Gênjik cilik anak Babi.
Anak burung Dara (Merpati) namanya Piyik, anak Sapi namanya Pêdhet, anak Wêdhus (Kambing) namanya Cêmpe, anak Maesa (Kerbau) namanya Gudel, anak Asu (Anjing) namanya Kirik, anak Jaran (Kuda) namanya Bêlo, anak Babi namanya Gênjik.
29. Sêkar Pucang jare Mayang, sêkar Mlathi jarene sêkar Mlathi, kêmbang Gêdhang jare Jantung, yen kêmbang Klapa Manggar, dhuh lae dhuh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sruni kêmbang Sruni.
Kêmbang pohon Pucang namanya Mayang, kêmbang pohon Melathi katanya kêmbang Melathi, kêmbang Gêdhang (Pisang) namanya Jantung, kalau kêmbang Klapa (Kelapa) namanya Manggar, aduh aduh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sêruni kêmbang Sêruni.
30. Santri murid kang dinuta, samya eram sadaya tyasnya gêli, kapingkêl-pingkêl gumuyu, wacana jroning driya, apa baya pancen duwe lara gêmblung, dene pijêr ura-ura, bêcik kudu diasori.
Para murid santri yang diutus, keheranan melihat tingkah Gatholoco dan geli, terpingkal-pingkal ketawa, membatin dalam hati, apa memang memiliki sakit gila, ditanya kok malah bernyanyi tidak karuan nadanya, lebih baik diambil hatinya agar menurut.
31. Murid tiga angrêrêpa, sanjang malih sarana ngarih-arih, ingarah mung murih purun, Mangga tumuntên mangkat, mring Cêpêkan manggihana Kyai Guru, manawi den arsa-arsa, kedangon kula ngêntosi.
Ketiga murid memohon, kembali meminta dengan mengharap-harap, agar supaya bersedia, Mohon bersedia menghadap, ke (pondok pesantren) Cêpêkan bertemu Kyai Guru, siapa tahu sudah ditungggu-tunggu, kami kelamaan menanti jawaban (anda).
32. Gatholoco klewa-klewa, sarwi ngucap Apa sira tan uning, ingsun iki lagya ewuh, lan bangêt kêtagihan, lamun sira paripaksa ngundang mring sun, kêthumu bae sun-sêlang, prêlu kanggo gadhen dhingin.
Acuh tak acuh Gatholoco, sembari berkata Apa kalian tak melihat, aku ini sedang kebingungan, dan sangat ketagihan, apabila kalian memaksa aku, kêthu (kopiah) kalian saja aku pinjam, perlunya untuk aku gadaikan.
33. Candu rong timbang kewala, nanging jangji sira têbus pribadi, mêngko yen wus mêndêm ingsun, tumuli mangkat mrana, lamun sira ora lila kêthu iku, ingsun wêgah lunga-lunga, moh nêmoni Kyai Kaji.
Aku tukarkan candu sebanyak dua timbangan saja, akan tetapi harus berjanji kalian yang menebus sendiri nanti, jika aku sudah mabuk, baru berangkat kesana, apabila kalian tidak rela meminjamkan kêthu (kopiah) kalian, aku tidak sudi pergi, menemui Kyai Kaji (Kyai Haji).
34. Santri tiga duk miyarsa, rêrêmbugan lawan rowange sami, lamun ora sinung kêthu, sayêkti tan lumampah, ora wurung Kyai Guru mêngko bêndu, upama ingsun wenehna, luwih bêcik den turuti.
Mendengar hal itu maka ketiga santri, saling berembug, apabila tidak diberikan kêthu, pasti tak mau beranjak pergi, ujung-ujungnya nanti Kyai Guru akan marah, lebih baik di berikan dan lebih baik dituruti.
35. Santri duta kang satunggal, amangsuli mangkana dennya angling, wus têtela nalar kojur, iku padha kewala, kêthu mami uga anyar oleh tuku, lawase satêngah wulan, rêgane srupiyah putih.
Salah seorang santri, menjawab beginilah katanya, Sudah terlanjur memang nasib kita, semua sama saja, kêthu-ku juga masih baru beli, setengah bulan yang lalu, harganya satu rupiah perak.
36. Kang satunggal tumut ngucap, ora beda anyare kêthu mami, lagi nganggo patang taun, mangka utang pitung wang, bayar nicil setheng setheng sabên esuk, sun-lowongi durung êsah, isih kurang limang kêthip.
Yang seorang berkata, Sama juga milikku juga masih baru, ku pakai empat tahun, padahal aku berhutang 7 Wang, menyicil 1 Setheng tiap pagi, belum juga lunas. Masih kurang 5 Kêthip. (Nilai 12 Wang sama dengan 1 Rupiah. Nilai 1 Setheng sama dengan 1/2Sen. Nilai 1 Kêthip sama dengan 5 Sen, sedangkan nilai 1 Sen sama dengan Seperseratus rupiah.)
37. Najan camah awakingwang, waton oleh alême guru mami, santri tiga samya muwus, niki kêthu kawula, tampenana Gus Nganten sampeyan pundhut, gadhekna kula sumangga, sakmana dipun tampeni.
Walau harus rugi, asal dapat pujian Guru, Ketiga santri lantas sepakat, Ini kêthu kami, terimalah manusia bagus, silakan digadaikan, Segeralah diterima.
38. Wusnya kêthu tinampenan, santri duta malah den iwi-iwi, ngisin-isin sarwi muwus, Sireku ngêntenana, kêthu tiga dipun gantosakên candu, rong timbang cinukit ngingkrang, sinêrêt bantalan dingklik.
Setelah kêthu diterima, para santri utusan malah diejek, diperpermalukan sembari berkata, Kalian semua tunggulah. Tiga kethu ditukar candu, sebanyak dua timbangan segera diungkit, lantas dihisap (oleh Gatholoco) sembari berbantalkan kursi kecil.
39. Wus tuwuk panyêrêtira, bêdudane nulya dipun sangkêlit, Gatholoco gya lumaku, den iring santri tiga, sadangune lumampah urut dalanggung, ngupaya sênênging driya, rêrêpen sinawung gêndhing.
Setelah puas menghisap (candu), pipa pun lantas ditaruh dipinggang, Gatholoco segera berjalan diiringi ketiga santri, sepanjang jalan, mencari senangnya hati, dengan bernyanyi dan menembang.
40. Bismillah sun-ura-ura, sun-wangsalan Pêtis apyun (CANDU) upami, ana kêthu dadi CANDU, candu dadi gêlêngan, Patek tungkak (BUBUL) gêlêngane dadi kê-BUL, kêbule mrasuk mring badan, sumrambah dadi nyêgêri.
Bismillah aku hendak bernyanyi, bersyair ‘wangsalan’ (kata-kata yang vocal-nya berupa sandi) ‘Pêtis apyun’ (CANDU) seumpama, ada kêthu (kopiah) menjadi ‘CANDU’, candu menjadi gelintiran, ‘Patek (penyakit kulit) di telapak kaki’ (BUBUL) gelintiran menjadi ‘ke-BUL’ (Asap), asapnya merasuk badan, menyebar membuat segar.
41. Jênang sobrah (AGÊR-AGÊR) Ancur kaca (RASA), Balung tipis munggeng pucuk dariji (KUKU), sê-GÊR dadi ro-SA mla-KU, nanging ingkang kelangan, paribasan Sabêt kuda (CÊMÊTHI) mês-THI gêtun, aranira Tirta maya (WISUHAN), mi-SUH-mi-SUH jroning batin.
‘Bubur sobrah’ (AGER-AGER) ‘Ancur (bubuk) dari pecahan kaca’ (RASA), ‘Tulang kecil berada diujung jemari’ (KUKU) ‘se-GER’ (Segar) jadi ‘ro-SA’ (Kuat) ‘luma-KU’ (berjalan), akan tetapi yang kehilangan, bagaikan ‘Alat pemukul untuk kuda’ (CEMETHI) ‘mes-THI’ (Pasti) merasa sayang, disebut ‘Air berwarna’ (WISUHAN/AIR PEMBASUH), ‘mi-SUH mi-SUH’ (Memaki-maki) didalam hati.
42. Dhuh bakul Sotya kêncana (PARA), Sela ingkang kinarya ngasah lading (WUNGKAL), mani-RA bakal katêmu Guru santri Cêpêkan, Paksi alit kang dadya sasmiteng tamu (PRÊNJAK), Pêthel panjang tanpa sangkal (TATAH), nêja nga-JAK ban-TAH ilmi.
Wahai ‘Penjual perhiasan’ (PARA), ‘Batu yang dipakai untuk menajamkan besi’ (UNGKAL). ‘mani-RA’ (Aku) ‘ba-KAL’ (Hendak) bertemu dengan Guru para santri di Cêpêkan, ‘Burung mungil yang sering dipakai pertanda jika hendak ada tamu datang’ (burung PRÊNJAK), ‘Palu panjang’ (TATAH), hendak ‘menga-JAK’ ‘ban-TAH’ ilmu.
43. Kadhal gung wismeng bangawan (BAJUL), Jambu ingkang isi lir mirah edi (DLIMA), sanajan guru pinun-JUL, alim jamhur ula-MA, Wadhung pari (ANI-ANI) ingsun uga wa-NI mungsuh, mrica kêcut dedompolan (WUNI), sagêndhinge sun lade-NI.
‘Kadal bertubuh besar yang tinggal disungai’ (BAJUL/Buaya), ‘Buah jambu yang bijinya bagai batu mirah’ (DLIMA/Delima), walaupun Guru ‘pinun-JUL’ (Terkenal), alim pandai dan berstatus ‘ula-MA’, ‘Cangkul padi’ (ANI-ANI) aku tetap ‘wa-NI’(Berani), ‘Merica bergerombol yang rasanya kecut’ (WUNI), apa yang diminta akan aku ‘lade-NI’ (Layani).
44. Dumugi pondhok Cêpêkan, kacarita ing pondhok para santri, miwah sagung para guru, mulat kang lagya prapta, maksih wontên plataran ngandhap wit jêruk, Kyai Abdul Jabar ngucap, mring Kyai Kasan Bêsari.
Sesampainya di pondok (pesantren) Cêpêkan, tampaklah para santri, berikut para guru, melihat siapa yang baru datang, masih berada di pelataran tepat dibawah pohon jeruk, Kyai Abdul Jabar berkata, kepada Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).
45. Tiyang makaten punika, najis mêkruh tan pantês minggah mriki, Kasan Bêsari sumaur, najan mêkruh najisa, nanging iku têkane saking karêpmu, bêcik kinen munggah langgar, dimene tumuli linggih.
Manusia seperti itu, najis tak pantas naik ke (atas musholla) ini, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Walaupun najis, akan tetapi yang menyebabkan dia hadir disini juga kamu, lebih baik suruh naik ke Langgar (Musholla), agar supaya bisa duduk.
46. Rêgêd ora dadi ngapa, yen wus lunga tilase disirami, Kasan Bêsari gya dhawuh, Uwong ala lungguha, kono bae ing jrambah lor wetan iku, Gatholoco sigra minggah, marang langgar mapan linggih.
Kotor-pun tak menjadi masalah, manakala sudah pergi nanti bekas dimana dia duduk disiram dengan air, (Kyai)Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Manusia jelek duduklah, disitu saja diteras (mushola) sebelah timur laut, Gatholoco segera naik, ke atas Langgar (Musholla) dan duduk.
47. Sendheyan prênah lor wetan, bêdudane maksih dipun sangkêlit, nulya nitik karya latu, ngakêp rokok têgêsan, têgêsane sadriji kêbule mabul, mratani sajroning langgar, ambêtipun sêngak sangit.
Duduk disebelah timur laut dan bersandar, pipa masih di selipkan dipinggang, lantas menyalakan api, rokok candu disulut, rokok candu sebesar jemari tangan asapnya menyebar, merata memenuhi Langgar (Musholla), baunya sêngak (tidak enak) sangit (bau barang terbakar).
_________________

SERAT GATHOLOCO (10)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
48. Para santri tutup grana, wontên ingkang ngalih denira linggih, Kasan Bêsari amuwus, Sira jênêngmu sapa, wangsulane Gatholoco araningsun, Kasan Bêsari têtanya, Apa kang sira-sangkêlit.
Seluruh santri menutup hidung, bahkan ada yang pindah tempat duduk (menjauh), (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) bertanya, Siapa namamu? Menjawab yang ditanya Gatholoco namaku, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) kembali bertanya, Apa yang kamu selipkan dipinggang (itu)?
49. Sumaur iki watangan, watangane cipta pikir kang êning, ana dene pêntholipun, iki arane cupak, prêlu kanggo mapak kawruh ingkang luput, obate candu lan bakal, ron awar-awar kinardi.
Menjawab (Gatholoco) Ini lambang dari batang, batang kesadaran yang jernih, sedangkan bulatannya, namanya CUPAK, lambang dari pucuk kesadaran yang berguna untuk MAPAK (MEMOTONG) kesadaran yang salah (rendah), ramuan yang terdiri dari candu dan, calon daun awar-awar (daun awar-awar sangat gatal).
50. Dadi arang ingkang tawar, yen kacampuh obat kalawan mimis, ora wurung kêna bêndu, mimis glintiran madat, yen wus awas patitise damar murub, lesane pucuking ilat, sênthile napas kang lungid.
Jarang manusia yang tawar, menikmati candu yang sudah dibuat bagai mimis (mimis adalah peluru kuno, berwujud bulatan. Candu yang sudah dibuat bagai mimis maksudnya dibentuk bulatan siap untuk dinikmat), jika tidak kuat hidup bagai terkena kutuk (disudutkan dan dihakimi oleh manusia-manusia yang rendah kesadarannya), jika sudah dinikmati akan awas kesadaran ini kepada Damar Murub (Pelita Yang Menyala, maksudnya Cahaya Kebenaran Sejati), lesannya puncak lidah (ini bahasa simbolik, maksudnya suara yang sejati untuk mencari Tuhan adalah puncak Rasa. Lidah symbol Rasa. Puncak Lidah berarti Puncak Rasa. Suara sejati dari puncak rasa untuk mencari Tuhan berarti suara yang tak terbahasakan, melampaui segala suara, melampaui segala bahasa. Itulah suara Ruh), yang menggetarkan (suara tersebut) adalah Nafas Yang Misterius (Maksudnya Dia Yang Hidup Tanpa Nafas, Brahman, Sumber Semesta).
51. Cêthute aran Dzatullah, rasa awor ngumpul dadi sawiji, manjing marang cêthutipun, rumasuk jroning badan, sumarambah kulit daging balung sungsum, tyasingsun padhang nêrawang, ora kewran kabeh pikir.
Tempat hisapnya lambang Dzatullah (Dzat Allah, Inti Allah), (Puncak) Rasa bercampur dan menyatu menjadi satu, manunggal kedalam Tempat hisap (Dzatullah), menjadi satu kesatuan dalam satu badan, menyatu pada kulit daging tulang dan sumsum, Kesadaran-pun terang benerang, tak ada lagi illusi.
Pada (Syair) 49-51, maksudnya adalah sebagai berikut : Pipa hisap yang dibawa Gatholoco adalah lambang Kesadaran (Buddhi), hiasan bulatan pada batang pipa adalah lambng Awasnya Kesadaran untuk memilah mana yang patut dipakai demi peningkatan Kesadaran itu sendiri atau tidak (Wiweka), Candu yang dicampur bakal daun Awar-Awar, lambang begitu memabukkannya spiritualitas itu bila seorang manusia telah menyelaminya. Tapi jarang yang sanggup bertahan, karena spiritualitas menuntut keteguhan dan kekuatan yang luar biasa. Godaan dari dalam diri maupun penghakiman dari manusia lain, sangat sukar untuk dilampaui. Namun jika telah merasakan mabuk spiritual, maka kecenderungan Kesadaran akan terus lekat pada Damar Murub atau Cahaya Kebenaran Sejati.
Kompas spiritualitas, bukan teks-teks kitab suci, tapi LESANE PUCUKING ILAT. LESAN berguna untuk mengeluarkan suara, PUCUKING ILAT (PUNCAK LIDAH) adalah symbol Puncak Rasa. Puncak Rasa adalah ATMA/RUH.
SUARA DARI PUNCAK RASA berarti SUARA RUH. Inilah Radar sejati penuntun kita dijalan spiritualitas. Karena SENTHILE NAPAS KANG LUNGID (Yang menggetarkan suara itu adalah NAPAS YANG MAHA GAIB). Jelas sudah, yang membuat SUARA RUH itu tak lain adalah DIA YANG HIDUP TANPA NAFAS atau BRAHMAN itu sendiri.
Pangkal pipa ditempat penghisapan adalah lambing Dzatullah (Dzat Allah, Inti Brahman), Puncak Rasa (Ruh/Atma) apabila telah menyatu dengan Pangkal pipa (Brahman), maka menyatulah dalam satu kesatuan Wujud.
Disaat itulah semua illusi akan lenyap dan KESADARAN TOTAL PARIPURNA telah kita capai lagi.
52. Kasan Bêsari ngandika, Sira wani mapaki kawruh mami, nganggo sira wani nglêbur, mring sarak Rasulullah, apa sira nampik urip dhêmên lampus, ora wêdi manjing nraka, ora melik munggah swargi.
(Kyai) Kasan Besari (Hassan Bashori) berkata, Kamu bernai menantang ilmuku, dengan mencoba melebur, segala syari’at Rasulullah, apa kamu menolak hidup dan pilih mati? Tidak takutkah kamu masuk neraka? Tidak inginkah kamu naik surga?
53. Gatholoco alon ngucap, Kaya apa bisane nampik milih, wus pinêsthi mring Hyang Agung, sakehing kasusahan, iku dadi duweke marang wong lampus, dene sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.
Gatholoco pelan menjawab, Bagaimana bisa aku mau menolak (kehidupan)? Sudah menjadi kehendak Hyang Agung, (ketahuilah sesungguhnya apa yang dimaksud hidup dan mati itu), segala ‘kesedihan dan kesusahan’ (lahir berulang-ulang didunia) itulah yang disebut ‘kematian’, sedangkan segala ‘kemuliaan’ (lepas dari rantai kelahiran dan kematian), itulah yang disebut ‘kehidupan’.
54. Yen wong urip iku susah, mêtu saking takdirira pribadi, ingkang gawe susah iku, dene Kang Maha Mulya, sipat murah puniku kagunganipun, nanging kabeh sipat samar, ora keno tinon lair.
Pun sesungguhnya jika manusia yang hidup didunia ini terus dilanda kesusahan, sesungguhnya itu juga karena hasil perbuatan pribadinya sendiri (karmaphala), itulah yang membuat kesedihan, sedangkan Yang Maha Mulia, sifat KASIH itulah sifat-Nya, akan tetapi semua tersamarkan, tak bisa dilihat oleh mata lahir. (Maksudnya ‘mata lahir’ adalah tak bisa disadari oleh mereka yang ‘mata’ kesadarannya belum melek, belum terbuka!)
55. Sira ingkang tanpa nalar, endah-endah ingkang sira rasani, suwarga naraka iku, mangka katon wus cêtha, sapa-sapa ingkang mulya uripipun, iku ingkang manjing swarga, sapa mlarat manjing gêni.
Dirimu yang tak punya nalar, muluk-muluk yang kamu bicarakan, Surga dan Neraka itu, sesungguhnya telah terlihat nyata, siapa saja yang mulia hidupnya didunia ini, dialah yang masuk Surga, siapa yang melarat dialah yang masuk api.
56. Ya iku manjing naraka, Kyai Kasan Bêsari amangsuli, Suwarga naraka iku, besuk aneng akerat, Gatholoco sumaur sarwi gumuyu, Lamun besuk ora nana, anane namung saiki.
Yaitu masuk (api) Neraka, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Surga dan Neraka itu, (adanya) tergelar besok diakherat! Gatholoco menjawab sembari tertawa, Kelak tidak ada, yang ada sekarang ini!
57. Kyai Guru saurira, Nyata nakal rêmbuge janma iki, maido marang Hyang Agung, lan sarak Rasulullah, pancen wajib pinatenan dimen lampus, lamun maksih awet gêsang akarya sêpining masjid.
Kyai Guru (Hassan Bashori) berkata, Benar-benar kurang ajar ucapan manusia ini, menghujat Hyang Agung, dan syari’at Rasulullah, wajib dibunuh agar mampus, jika masih awet hidup, akan membuat semua masjid sepi.
58. Gatholoco alon ngucap, Ora susah sira mateni mami, nganggo gaman tumbak dhuwung, saiki ingsun pêjah, Kyai Kasan Bêsari asru sumaur, Iku lagi tatanira, wong mati cangkême criwis.
Gatholoco pelan menjawab, Tidak perlu repot membunuhku, dengan senjata tombak atau keris, saat inipun aku sudah mati, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) keras membentak, Dasar tak tahu diri, mati kok mulutnya ceriwis!
59. Awake wutuh lir rêca, Gatholoco alon dennya nauri, Yen patine kewan iku, nganti gograge badan, mati aking ya iku patining kayu, yen ilang patining setan, ingkang kaya awak-mami.
Dan badanmu masih tegak bagai arca, Gatholoco pelan menjawab, Hewan disebut mati, jika tubuhnya hancur lebur, tumbuhan disebut mati jika sudah kering, jika setan mati hilang tak diketahui jejaknya, tapi kematian manusia sesungguhnya.
60. Ora mujud ora ilang, mangka iku ingsun uga wus mati, kang mati iku nêpsuku, mulane kabeh salah, ingkang urip budi pikir nalar jujur, pisahe raga lan nyawa, kinarya tundhaning lair.
Tidak bisa dilihat secara fisik juga tidak hilang (wujud) manusianya, ketahuilah sesungguhnya aku ini sudah mati, yang mati nafsuku, makanya aku mampu melihat kesalahan kalian, yang hidup adalah Budi (Buddhi:Kesadaran) dan menyisakan pikiran dan nalar yang jujur, terpisahnya Raga dan Nyawa, (itu bukan kematian) itu hanya proses menuju kelahiran kembali.
61. Iku ingkang aran Sadat, pisahira Kawula lawan Gusti, lunga pisah têgêsipun, dadi Roh Rasulullah, yen wis pisah Ragane lan Suksma iku, Rasa Pangrasa lan Cahya, panggonane ana ngêndi.
Itulah yang disebut Sahadat (Kesaksian) yang sesungguhnya (Dalam kondisi seperti ini, dimana kita telah mampu terpisah dari Badan Fana dan murni menjadi Badan Sejati, disaat seperti inilah kita akan mengetahui apa itu makna Sahadat yang Sejati), pisahnya Kawula (Hamba : Badan Maya/Fana yang berasal dari alam) dengan Gusti (Tuhan: Badan Sejati/Brahman yang berwujud Atma yang selama ini terjebak Maya), murni menjadi Roh Rasulullah (Roh Utusan Allah/Atma yang suci kembali), manakala telah berpisah Raga/Badan Fisik dan Suksma/Badan Halus, Rasa berikut Perasaan (maksudnya juga Suksma/Badan Halus) dan Cahaya (maksudnya Atma atau Badan Sejati), lantas kemanakah perginya semua itu?
62. Kyai Guru saurira, Bênêr ingsun luluh awor lan siti, Rasa lan Pangrasa iku, kalawan Cahya Gêsang, pan kagawa iya marang Suksmanipun, kabeh munggah mring suwarga, Sang Ijrail ingkang ngirid.
Kyai Guru (Hassan Bashori), Yang benar aku (Badan Fana) hancur menjadi tanah, sedangkan Rasa berikut Perasaan (Badan Halus) beserta Cahaya Hidup (Badan Sejati), dibawa oleh (Hyang) Suksma (Tuhan), semua naik ke Surga, Sang (Malaikat) Ijrail yang mengiringi.
63. Lamun Suksmane wong Islam, kang nêtêpi salat limang prakawis, sarta akeh pujinipun, rina wêngi tan owah, anêtêpi jakat salat pasanipun, pitrah ing dina riyaya, yen katrima ing Hyang Widdhi.
Jika Badan Halus orang Islam, yang menjalani shalat lima waktu, serta banyak beribadah, siang malam tiada goyah, memenuhi zakat shalat dan puasa, zakat fitrah menjelang hari raya, jika diterima oleh Hyang Widdhi.
64. Kaunggahaken suwarga, krana manut parentahe Jêng Nabi, kabeh oleh-olehingsun, kang wus kasêbut sarak, yen Suksmane wong kapir ingkang tan manut, dhawuhe Jêng Rasulullah, pinanjingakên yumani.
Akan naik ke Surga, karena menuruti perintah (Kang)jêng Nabi, yaitu semua yang aku jalani ini yang disebut syari’at, tapi Badan Halus manusia kafir yang tidak menuruti, perintah (Kang)jêng Rasulullah, dimasukkan tempat siksaan (Neraka).
65. Awit mukir mring Panutan, yen wong kapir dadi satruning Widdhi, Gatholoco asru muwus, dene Ingkang Kuwasa, nganggo nyatru marang wong kapir sadarum, lamun sira tan pracaya, maring kudrating Hyang Widdhi.
Sebab telah melawan Panutan, manusia kafir itu menjadi musuh (Hyang) Widdhi, Gatholoco keras berkata, Sangat konyol jika Yang Maha Kuasa, memusuhi manusia kafir, kamu nyata tidak mempercayai, kepada Kekuasaan (Kasih) Hyang Widdhi.
66. Maido kuwasaning Hyang, dennya karya warnane umat Nabi, anane kapir punika, sapa kang gawe kopar, lawan maneh ingkang karya uripipun, akarya bêja cilaka, tan liya Hyang Maha Suci.
Kamulah sesungguhnya yang menghujat Hyang (Widdhi)! Membagi-bagi manusia menjadi umat Nabi (dan yang bukan umat Nabi), adanya sebutan kafir itu, siapa yang membuat? Lantas pula siapa yang menciptakan mereka, yang memberikan kemuliaan dan celaka, tiada lain juga Hyang Maha Suci.
67. Upama Allah duweya, satru kapir murtad marang Hyang Widdhi, bêcik sadurunge wujud, tinitah aneng dunya, dadi ora duwe satru ing Hyang Agung, yen mêngkono Allahira, iku ora duwe budi.
Jikalau Allah mempunyai, musuh yang disebut kafir yang katanya murtad kepada Hyang Widdhi, sebaiknya Dia tidak usah menciptakan, dan mentitahkan (orang kafir) hidup didunia, sehingga Hyang Agung (tidak repot-repot) mempunyai musuh (yang membuat Dia marah-marah), jikalau memang demikian Allah-mu, tidak mempunyai Budi (Buddhi :Kesadaran)!
68. Dhêmên karya kasusahan, adu-adu wong Islam lawan kapir, beda kalawan Allahku, mêpêki ing aguna, anuruti sakarepe umatipun, ora ana kapir Islam, beda-beda kang agami.
Hanya membuat pekerjaan tak berguna, mengadu orang Islam dengan orang kafir, berbeda dengan Allah-ku, penuh kebijaksanaan, memberikan kebebasan bagi manusia, tiada yang disebut kafir dan Islam, manusia diberi kebebasan memeluk agama!
69. Têgêse aran agama, panggonane ngabêkti mring Hyang Widdhi, ing sasêbut-sêbutipun, waton têrus kewala, tanpa salin agamane langgêng têrus, sapa kang salin agama, anampik agama lami.
Yang dinamakan agama itu, sekedar wadah yang mengatur tata cara untuk menyembah Hyang Widdhi, apapun sebutan (nama agama maupun menyebut Tuhan)-nya, asal terus memantapkan diri dalam satu jalan, tiada bersalin agama dan terus mantap (pasti akan diterima), (ketahuilah) sesungguhnya siapa yang berpindah agama, menolak agama lama (yang sudah ditetapkan Hyang Widdhi bagi dia).
70. Iku kapir aranira, krana nampik papêsthene Hyang Widdhi, agamamu iku kupur, nampik leluhurira, sasat nampik papêsthenira Hyang Agung, panyêbutmu siya-siya, anêbut namaning Widdhi.
Itulah manusia kafir, karena menolak kepastian Hyang Widdhi, dirimu itu kufur, menolak (agama) leluhur, jelas menolak kepastian Hyang Agung (yang telah menetapkan bahwa agama leluhur Jawa adalah agama yang pas bagi orang Jawa), doamu seolah sia-sia, saat kamu menyebut nama (Hyang) Widdhi (dengan bahasa asing)
71. Sira iku bisa kandha, lamun kapir Suksmane manjing gêni, Suksmane wong Islam iku, kabeh manjing suwarga, apa sira wis tau nglakoni lampus, wêruh suwarga naraka, panggonane aneng ngêndi.
Dan lagi kamu bisa mengatakan, apabila manusia kafir Badan Halusnya masuk kedalam api (Neraka), (sedangkan) Badan Halus manusia Islam, semua naik Surga, apakah kamu sudah pernah mati, sehingga tahu Surga dan Neraka? Dimanakah tempatnya?
72. Kasan Bêsari angucap, kang kasêbut sajroning kitab mami, Gatholoco sru gumuyu, sira santri kêparat, ngandêl marang daluwang mangsi bukumu, nurun bukune wong sabrang, dudu tinggalan naluri.
(Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Itulah yang disebutkan dalam kitab! Gatholoco tertawa keras. Kamu santri bodoh, mempercayai begitu saja kepada kertas dan tulisan yang kamu sebut kitab, kitab yang kamu sadur begitu saja dari kitab milik orang seberang, bukan (kitab suci) yang sudah melekat semenjak dulu (dalam dirimu).
73. Buku têmbung cara Arab, tan ngopeni buku saking naluri, sayêktine kabisanmu, mung kitab sembarangan, sira gawa oleh-oleh lamun lampus, katur marang Gusti Allah, bali ingkang duwe maning.
Kitab yang berbahasa Arab (saja yang kamu agungkan), tidak mempelajari kitab (suci) yang sesungguhnya (yaitu Suara Ruh/Nurani), sesungguhnya wawasanmu, kamu peroleh dari kitab sembarangan, (segala kesadaran dangkalmu hasil mempelajari kitab Arab) kamu bawa sebagai oleh-oleh saat kamu mati kelak, kamu haturkan (kesadaran semacam itu) kepada Gisti Allah, kepada yang mempunyai.
74. Bakale apa katrima, krana iku kagungane pribadi, sakehe puji dikirmu, kabeh pangucapira, iku uga kagunganira Hyang Agung, mangka sira aturêna, bali marang kang ndarbeni.
(Kesadaran) semacam itu mana mungkin diterima? Karena semua ini adalah milik-Nya, seluruh puji dan dzikir-mu, seluruh ucapanmu, itu semua milik Hyang Agung, tapi kamu malah bermaksud mengembalikan, kepada yang mempunyai (maksudnya pemahaman merasa terpisah dengan Tuhan, terpisah dengan Sumber Semesta dan merasa bahwa manusia ini eksis sendiri, bukan wujud Tuhan, adalah pemahaman konyol menurut Gatholoco. Manusia itu nisbi, manusia itu tidak ada, semua ini adalah wujud Tuhan. Lantas jika ada yang meyakini, tubuh fisik ini milik kita yang dipinjamkan oleh Tuhan, dan nanti akan kita kembalikan kepada-Nya, pemahaman semacam itu masih kurang tepat menurut Gatholoco. Tidak ada pihak yang meminjamkan atau yang dipinjami. Yang ada hanyalah TUHAN. Yang meminjamkan dan yang dipinjami, hanyalah illusi. Illusi dari hasil mempelajari kitab-kitab seberang tersebut)
75. Apa ora nêmu dosa, iku kabeh kagungane Hyang Widdhi, kêpriye olehmu matur, Kyai Guru saurnya, Sira iku maido kitabing Rasul, Gatholoco alon ngucap, Tan pisan maido mami.
Sangat berdosa dirimu, karena ini semua adalah wujud Hyang Widdhi, bagaimana kamu hendak menghaturkan (kembali), Kyai Guru menjawab, Kamu menghina kitab Rasul, Gatholoco pelan menjawab, Bukan sekali ini aku menghina.
76. Sawuse sira tumingal, mring unine buku daluwang mangsi, landhatên kanyatahanmu, rasane saking sastra, sarta maneh sira iku mau ngaku, besuk lamun sira pêjah, anggawa sanguning brangti.
(Dengarkan) setelah dirimu membaca, segala yang tercantum dalam kertas bertuliskan tinta yang kamu sebut kitab suci itu, nyatakan dalam dirimu sendiri (jangan hanya meyakini secara buta), intisari dari sastra (ayat) yang sudah kamu pelajari. Dan lagi kamu tadi mengaku, kelak jika kamu meninggal, kamu membawa oleh-oleh yang sangat kamu cintai. (cinta dalam bahasa Jawa adalah BRANGTA/BRANGTI atau ASMARADANA. Menyiratkan pupuh selanjutnya adalah pupuh ASMARADANA)
_________________

SERAT GATHOLOCO (11)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
PUPUH V
Asmaradana
1.Rehning sira wis ngakoni, benjang lamun sira pêjah, rasakna badanmu kuwe, kalawan cahyamu gêsang, obah-osiking manah, anggawa lapal Suksmamu, munggah mring suwarga loka.
Karena kamu sudah mengakui, kelak manakala kamu meninggal, Rasa badanmu (Sthula Sariira/Jasad), berikut Cahaya Hidup (Atma Sariira/Ruh), serta segala sensasi pikiranmu, terbawa pula Suksma (Suksma Sariira/Nafs)mu, naik ke Surga.
2.Sang Ijaril ingkang ngirid, sowan ngarsane Hyang Suksma, yen mangkono sira kuwe, ora ngamungna neng dunya, olehmu dadi bangsat, aneng akherat dadi pandung, anggawa dudu duweknya.
Sang (Malaikat) Izrail yang mengiringi, menghadap kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib), jika memang begitu dirimu, tidak hanya didunia saja, dirimu menjadi maling, diakherat-pun kamu menjadi maling, karena mengakui menghadapkan sesuatu yang bukan milikmu (tapi kamu akui sebagai hak milik). (Maksudnya makhluk ini semua adalah ‘nihil’ alias ‘tidak ada’. Karena semua ini adalah perwujudan Tuhan. Lantas jika merasa memiliki personalitas terpisah dengan Tuhan, bukankah itu illusi? Seseorang yang mengaku memiliki personalitas sendiri yang terpisah dengan Tuhan, mengklaim punya asset pribadi, berarti sama saja dengan seorang maling, yang mengklaim sesuatu yang bukan miliknya. Dan lagi bagaimana bisa meng-klaim jika ‘diri-nya’ itu sendiri ‘tidak ada’?)
3.Sira aneng dunya iki, kadunungan barang gêlap, ora tuku ora nyileh, sira anggo sabên dina, ing mangka aneng akherat, anggawa dudu duwekmu, dunya-kherat dadi bangsat.
Didunia ini dirimu, ketempatan barang gelap, tidak beli tidak pinjam, kamu pakai tiap hari, sedangkan diakherat nanti, tetep kamu merasa memiliki yang bukan milikmu, dunia akherat kamu maling!
4.Tanpa gawe jungkar-jungkir, nêmbah salat madhep keblat, clumak-clumik kumêcape, angapalake alip lam, têgêse iku lapal, angawruhana asalmu, urip prapteng kailangan.
Tak ada guna jumpalitan (dalam sembahyang), mendirikan shalat menghadap kiblat, komat-kamit bibirnya, menghafalkan alif lam (maksudnya doa-doa), sesungguhnya makna dari ayat-ayat yang kamu baca (itulah yang harus kamu resapi, bukan hanya sehedar dihafal dan dibaca), karena dari ayat-ayat tersebut kamu akan mengetahui asal, dan tujuan hidup-mu.
5.Sireku kaliru tampi, ngawruhi asale wayah, subuh luhur myang asare, mahrib lawan bakda isak, sayêkti tanpa guna, sipat urip duwe irung, padha wêruh marang wayah.
Dirimu salah mengerti, sangat-sangat mematuhi waktu-waktu shalat, mulai subuh dzuhur hingga ashar, maghrib dan isya’, sungguh tanpa guna, selayaknya hidup memiliki hidung (maksudnya kepekaan Kesadaran), untuk memahami makna shalat.
6.Yen mangkono sira kuwi, mung mangeran marang wayah, tan mangeran Ingkang Gawe, lamun bêngi sarta awan, pijêr kêtungkul wayah, ora mikir mring awakmu, urip prapteng kailangan.
Jikalau demikian dirimu (yang hanya sekedar mematuhi waktu shalat dan tidak memahami makna dari shalat itu sendiri), hanya ber-tuhan-kan saat-saat shalat semata, tidak ber-Tuhan-kan yang membuat waktu, siang dan malam hanya, berfokus mematuhi waktu-waktu shalat semata, tidak meniti ke dalam diri, untuk memahami asal kehidupan dan tujuannya.
7.Rasane badanmu kuwi, kagungane Rasulullah, cahyane uripmu kuwe, kagunganira Pangeran, obah-osiking manah, Muhammad kang nggawa iku, duwekmu amung pangrasa.
Rasa badanmu itu (Sthula Sariira/Jasad), milik/perwujudan Rasulullah (maksudnya Ruh atau Atma), Cahaya hidup (Atma Sariira/Ruh)-mu itu, milik/perwujudan Pangeran (Tuhan/Brahman/Allah), segala gerak-gerik batinmu (maksudnya Suksma Sariira/Nafs), Muhammad yang menggenggam (Muhammad maksudnya juga Ruh atau Atma), milikmu hanya ‘Perasaan memiliki/Illusi’ saja!
(Jika Jasad ini milik/perwujudan Rasulullah (Ruh), Ruh milik/perwujudan Allah, Nafs milik/perwujudan Muhammad (maksudnya Ruh juga), sedangkan Allah, Muhammad dan Rasul itu tak lain adalah Allah juga, lantas apa yang hendak kita anggap sebagai personalitas makhluk jikalau semua ini adalah PERWUJUDAN ALLAH? Hanya Illusi saja yang menjadi milik para makhluk. ILLUSI MERASA DIRINYA ADALAH ENTITAS YANG TERPISAH DENGAN SEMESTA BAHKAN DENGAN TUHAN ITU SENDIRI!)
8.Mangka sira gawa kuwi, ora sira ulihêna, balekna marang Kang Duwe, yen sira maksih anggawa, titipan tri prakara, apa sira ora lampus, Kyai Guru duk miyarsa.
Sedangkan apa yang kamu akui itu (bahwa memiliki personalitas tersendiri dengan Tuhan), tetap juga tidak kamu kembalikan (maksudnya tetap ber-Kesadaran seperti itu), kepada Dia Yang Memiliki, jika kamu masih juga memegang (maksudnya tetap tidak mau membuka Kesadaran) dan masih juga mengaku memiliki Triprakara (Tiga Unsur ~ Ruh/Atma, Nafs/Suksma dan Jasad/Sthula) sendiri, akan abadikah dirimu kelak? Kyai Guru begitu mendengar (semua yang diuraikan Gatholoco).
9.Kethune binanting siti, muring-muring ngucap sora, Mring ngêndi nggonku ngulihke, ingsun tan rumasa nyêlang, titipan tri prakara, Gatholoco gya gumuyu, Sira urip tanpa mata.
(Kyai Guru) seketika membanting kethu (kopiah)-nya ke tanah! Marah-marah dan berkata kasar, Kemana aku mau mengembalikan!! Aku tidak merasa telah meminjam, titipan Triprakara tadi, Gatholoco tertawa geli (mendapati yang diajak dialog tidak memahami maksudnya namun malah marah-marah), Kamu memang hidup tanpa mata (maksudnya Kesadarannya buta)!
10.Upama Padhanging Rawi, asalira saking Surya, sirna kalawan Srêngenge, kalamun Padhange Wulan, asale saking Wulan, sirnane kalawan Santun, bali maneh asalira.
Seandainya Cahaya Matahari, yang berasal dari Surya, akan terserap musnah hilang kedalam Matahari kembali, seandainya Cahaya Rembulan, yang berasal dari Rembulan, akan terserap musna hilang kedalam Rembulan, kembali keasalnya lagi!
11.Kasan Bêsari nauri, Krana ngapa Rasanira, lan Cahyamu Urip kuwe, myang obah-osiking manah, tan sira ulihêna, marang Kang Kagungan iku, Gatholoco asru nyêntak.
Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Lantas sekarang mengapa Rasa Badanmu (Jasad/Sthula Sariira), beserta Cahaya Hidup (Ruh/Atma Sariira)-mu, berikut Gerak batin (Nafs/Suksma Sariira)-mu, tidak kamu kembalikan (maksudnya masih terlihat nyata dan belum musnah) kepada Yang Mempunyai ? Gatholoco keras membentak.
12.Ingsun iki ora wani, ngulihake durung masa, yen tan ana pamundhute, ingsun wêdi bok kinira, anampik sihireng Hyang, manawa nêmu sêsiku, sireku kaliru tampa.
Aku tidak berani, memusnahkan ini semua karena belum saatnya, jika tanpa ada permintaan (dari Yang Mempunyai Perwujudan), aku takut nanti dianggap, menolak kasih Hyang (Tuhan), dan akan mendapatkan balak, sungguh kamu yang sebenarnya tidak paham! (Tidak paham akan maksud Gatholoco akan makna ‘Mengembalikan’ seperti yang telah diuraikannya diatas).
13.Kang kasêbut kitab mami, pan saking Nabi Muhammad, Kyai Guru pangucape, Salat witri iku iya, salat sakobêrira, Gatholoco alon muwus, sireku kaliru tampa.
Menurut Kitab-ku, yang berasal dari Nabi Muhammad, Kyai Guru berkata lagi, Shalat witir adalah, shalat yang tidak terikat waktu (maksud Kyai Hassan Bashori ada juga shalat yang tidak harus berfokus pada waktu, yaitu shalat witir. Jadi salah jika Gatholoco menganggap dirinya terlau mengagung-agungkan waktu), Gatholoco menjawab, Sekali lagi dirimu tidak paham!
14.Yen mangkono sira kuwi, dudu umat Rasulullah, dene sira ngestokake, sarengate Nabi lima, êndi panêmbahira, mring Nabi Muhammad iku, Kyai Guru saurira.
Bahkan lagi dirimu, bukanlah ummat Rasulullah, karena dirimu meyakini, dan mengikuti tingkah laku lima Nabi, mana shalat yang kamu jadikan untuk mengingat-ingat akan keagungan, dari Nabi Muhammad? (Ada keyakinan beberapa aliran agama Islam, bahwasanya shalat Subuh itu meniru Nabi Adam, manakala diturunkan di dunia, belum tahu mana arah mata angin, lantas ketika matahari terbit, Nabi Adam bersujud syukur karena tahu mana arah Timur. Lantas shalat Dzuhur, meniru Nabi Nuh, shalat Ashar meniru Nabi Ibrahim, shalat Maghrib, meniru Nabi Musa dan Shalat Isya’, meniru Nabi Isa, dan rupanya keyakinan inilah yang dianut oleh Kyai Hassan Bashori, lawan debat Gatholoco), Kyai Guru menjawab.
15.Sêmbahingsun salat witri, iya ing samasa-masa, Gatholoco pamuwuse, Sira iku santri blasar, mangka Nabi Muhammad, têtela Nabi Panutup, tunggule nabi sadaya.
Untuk mengingat Nabi Muhammad adalah shalat Witir, tidak terikat waktu! Gatholoco berkata, Kamu santri tersesat, padahal Nabi Muhammad, jelas-jelas Nabi Penutup, penutup seluruh Nabi.
16.Parentahe ora sisip, wus kapacak aneng kitab, ingkang salah sira dhewe, kinen sujud kaping lima, rina wêngi mangkana, esuk-esuk wayah Subuh, sujud tumrap maring Adam.
Setiap perintahnya tidak keliru, sudah jelas didalam semua kitab, yang salah memaknai adalah dirimu sendiri, diperintahkan sujud lima kali sehari, siang dan malam, pada saat pagi hari waktu Subuh, sujud kepada Adam.
17.Iku dudu Adam Nabi, adam suwung sujudana, kang suwung langgêng anane, marmanira sinujudan, dene luwih kuwasa, ngilangake pêtêng iku, kagênten padhanging surya.
Sesungguhnya bukan Adam Nabi, Adam berarti ‘Kosong’ dan sujudlah, kepada Yang Maha Kosong dan Yang Abadi Ada-Nya (tersebut), oleh sebab mengapa wajib untuk bersujud, karena Yang Maha Kosong sungguh berkuasa, menghilangkan kegelapan, dan menggantikannya dengan terang. (Maksudnya Yang Maha Kosong mampu memberikan terang kepada Kesadaran semua makhluk dan mampu mengusir semua kegelapan batin).
18.Panase saya ngluwihi, saking kuwasaning Allah, surya iku darma bae, sakehe manusa dunya, samya susah sadaya, krana saking panasipun, Nabi Muhammad parentah.
Menjelang tengah hari (maksudnya dalam pengembaraan Ruh didunia fana) panasnya sangat-sangat menyiksa (maksudnya dualitas dunawi sangat membelenggu Ruh), karena kuasa Allah, Matahari hanya sarana semata (maksudnya dualitas hanya sarana menggembleng Kesadaran Ruh saja), seluruh manusia/makhluk didunia, sangat menderita (terombang-ambing dualitas dunia), karena sangat-sangat panasnya, Nabi Muhammad memerintahkan.
19.Marang umatira sami, supaya padha sujuda, marang Kang Murbeng alame, tatkala patang rakangat, kabeh padha nuwuna, mring sudane panas iku, lan sudane dosanira.
Kepada seluruh ummatnya, agar ditengah hari bersujud, kepada Yang Menguasai Alam (Dualitas), sebanyak empat raka’at, seluruh ummat diperintahkan untuk memohon, agar mengurangi panas (penderitaan) duniawi, berikut memohon agar dilebur segala dosa-dosa (seluruh karma buruk)-nya.
20.Lan padha nuwuna maning, linanggêngna kaluhuran, kaya luhure srêngenge, pramilane lama-lama, tumurun saya andhap, daya asrêp panasipun, wong akeh ngarani Ngasar.
Dan juga agar memohon, tetap mendapat keluhuran (Tingginya Kesadaran), bagaikan luhur (tinggi)-nya matahari kala tengah hari, lantas sedikit demi sedikit, matahari turun semakin rendah, panasnya mulai berkurang (lambang penderitaan berganti dengan kesenangan), semua orang menamakan waktu Ashar.
21.Nabi Muhammad ningali, parentah mring umatira, supayane sujud maneh, sarta padha nênuwuna, langgêng ananing Suksma, lan padha nuwuna iku, linanggêngna kaluhuran.
Nabi Muhammad melihat, lantas memerintahkan kepada ummatnya, agar kembali bersujud, dan agar memohon, kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib), agar tetap langgeng (Ketinggian Kesadarannya walau penderitaan tengah berganti dengan kegembiraan).
22.Pangeran Kang Maha Luwih, angganjar ing asorira, linanggêngna kamulyane, dadine bisa kalakyan, tumurun saya andhap, mulane ngaranan surup, sira padha sumurupa.
Tuhan Yang Maha Kuasa, mampu menganugerahkan kemuliaan dan kehinaan (Kesadaran), semoga senantiasa langgeng kemuliaan Kesadaran, agar bisa selamat sampai tujuan (Moksha/Jannatun Firdaus), semakin turun matahari, dinamakan ‘surup’ (sore), karena maksudnya ‘sumurupa’ (ketahuilah)!
23.Kuwasanira Hyang Widdhi, bisa gawe pêtêng padhang, gawe unggul lan asore, kang padhang têgêse gêsang, kang pêtêng iku pêjah, Nabi Muhammad andulu, parentah mring umatira.
Akan kekuasaan Hyang Widdhi, yang mampu membuat gelap dan terang, mampu membuat tinggi dan rendah, yang ‘terang’ maksudnya ‘Hidup’, yang ‘gelap’ maksudnya ‘Mati’, (Manusia disebut Hidup manakala telah mencapai Terang Sejati, dan manusia disebut ‘Mati’ manakala masih terikat jerat duniawi dan lahir berulang-ulang di alam fisik ini), Nabi Muhammad melihat, lantas kembali memerintahkan kepada ummatnya.
24.Den purih sujuda maning, marang Ingkang Murbeng alam, dene luwih kuwasane, bisa gawe pêtêng padhang, lan gawe pêjah gêsang, bilahi asor lan unggul, lama-lama kang baskara.
Agar kembali bersujud, kepada Yang Menguasai Alam (Dualitas), karena kuasa-Nya, mampu membuat gelap dan terang, membuat mati dan hidup, hina dan mulia (Dualitas duniawi), lama-lama matahari.
25.Jagade datan kaeksi, pêtênge saya katara, amratani jagad kabeh, manusane alam dunya, rumasa kasusahan, krana saking pêtêngipun, amarga suruping surya.
Dunia tak terlihat, kegelapan semakin merebak, merata diseluruh jagad, seluruh makhluk, merasa sedih, disebabkan karena kegelapan tersebut, gelap karena hilangnya matahari. (Lambang dari kegelapan Kesadaran karena pengaruh dualitas duniawi).
26.Sagunge umat nuruti, nênuwun marang Pangeran, kanthi nangis panuwune, mulane ngaranan Ngisa, tegese Anangisa, marang Ingkang Murbeng Luhur, Nênuwun supaya padhang.
Seluruh ummat menurut, memohon kepada Tuhan, dengan isak tangis, makanya (bagi orang Jawa) menyebut waktu shalat sehabis mahgrib adalah Ngisa, karena saat kegelapan Kesadaran adalah saat untuk ‘Anangisa’ (Menangislah), kepada Yang Menguasai Keluhuran (Ketinggian), memohon supaya agar tetap diberikan terang (Kesadaran).
27.Kagênten padhanging sasi, sakehe manusa suka, uninga wulan cahyane, padhang sarta ora panas, cacade mung pisahan, mulane ingaran santun, santun warna sabên dina.
Terang yang digantikan oleh terangnya Rembulan (maksudnya dalam kegelapan Kesadaran, terang yang reduppun sudah cukup daripada gelap gulita tanpa cahaya Kesadaran), seluruh makhluk bisa sedikit bersuka cita, melihat Rembulan dan cahayanya, walau terang tiada panas, walaupun tidak stabil, makanya disebut ‘santun’ (Berubah), karena cahaya Rembulan (cahaya Kesadaran yang redup ditengah kegelapan), berubah-rubah setiap hari. (Tidak stabil).
(Rembulan disebut juga ‘Santun’ yang artinya ‘Berubah-rubah/Tidak stabil’ oleh orang Jawa, maksudnya Rembulan dilambangkan sebagai Kesadaran yang redup. Dan Kesadaran yang redup sangat tidak stabil).
28.Têgêse sasi samya sih, Kyai Guru aris mojar, kitab apa pathokane, Gatholoco angandika, Barulkalbi arannya, mangrêtine Barul: Laut, dene Kalbi iku Manah.
Arti ‘Sasi’ (padanan kata Rembulan/Santun) adalah ‘SA-mya SI-h’ (Semua Kasih ~ maksudnya walaupun ditengah kegelapan sekalipun, tetaplah menebarkan Kasih. Walaupun ditengah Kesadaran redup karena pengaruh penderitaan duniawi, tetaplah mengedepankan Kasih), Kyai Guru pelan bertanya, Dari Kitab apa semua yang kamu uraikan tadi? Gatholoco menjawab, (Kitab) Barulkalbi (Bahri Al-Qalbi), Bahri artinya Samudera, sedangkan Qalbi artinya Hati/Kesadaran.
29.Ati kang kaya jaladri, tanpa watês jero jêmbar, lan maneh akeh isine, Kasan Bêsari têtannya, sira ora sêmbahyang, Gatholoco aris muwus, sêmbahyang langgêng tan pêgat.
Hati/Kesadaran yang luas seluas Samudera, tiada batas tiada terukur dalam dan luasnya, dan sangat-sangat banyak terkadung isi mutiara, Kasan Besari (Hassan Bashori) bertanya, Kamu menjalankan shalat? Gatholoco pelan menjawab, Shalatku langgeng tiada terputus.
30.Sujud-mami sujud eling, keblatku têngahing jagad, barêng napasku sujude, napasku mêtu mbun-mbunan, salatku mring Pangeran, mêtu saking utêkingsung, sêmbahyangku mring Hyang Suksma.
Sujud-ku Sujud Ingat (Maksudnya Kesadaran yang terus stabil), Kiblat-ku Pusat Semesta (Maksudnya focus penyembahan adalah Inti Dunia dan Inti Makhluk, tak lain adalah Brahman/Tuhan), Sujud-ku diiringi dengan Nafas (Maksudnya Kesadaran ini saat Ruh terikat badan materi, sangat terkait dengan nafas. Pengendalian nafas mampu mengendalikan Kesadaran juga. Nafas dan Kesadaran, saat badan materi masih membelenggu Ruh, tidak bisa dipisahkan), Nafas-ku keluar dari ubun-ubun (Nafas yang dikendalikan seolah bukan keluar masuk dari hidung lagi, tapi seolah-olah keluar masuk dari ubhun-ubun, menyatu dengan Kesadaran), shalatku menghadap kepada Tuhan, keluar dari otakku (Shalat yang terus menerus dilaksanakan keluar dari Kesadaran), shalatku menghadap kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib).
31.Ingkang mêtu lesan-mami, sêmbahyang mring Rasulullah, kang mêtu irungku kiye, ingkang Dzat pratandhanira, iku taline gêsang, kabeh saking napasingsun, sêbutku Allahu Allah.
Pujian yang keluar dari lidahku, pujian kepada Rasulullah (Ruh), sama dengan pujian yang keluar dari hidungku (nafas) ini, sesungguhnya semua perwujudan Dzat (Hidup/Tuhan), nafas adalah pengikat Hidup (selama ada nafas, selama itu pula Hidup/Tuhan/Dzat masih ada didalam badan materi), bisa dilihat dari adanya nafas, pujian nafasku berbunyi Allahu Allah.
32.Sira padha ora ngrêti, Rasulullah sabatira, iku durung linairke, lintang wulan lawan surya, alam dunya wus ana, yêkti tuwa suryanipun, iku kang kitab Ambiya.
Kalian semua tidak mengetahui, Rasulullah (maksudnya Nabi Muhammad) panutan kalian, saat belum dilahirkan, seandainya diibaratkan dengan bintang rembulan dan matahari, beserta bumi ini, jelaslah lebih tua matahari, hal ini tercatat dalam Kitab Anbiya’.
33.Kang tinitahake dhingin, dening Hyang Cahya Muhammad, iku lawan sakabate, nanging wujud êRoh samya, neng jroning Lintang Johar, mangka Lintang Johar iku, wawadhahe Roh sadaya.
(Sebelum Nabi Muhammad lahir) yang ada dahulu, adalah Hyang Cahya Muhammad (Nur Muhammad ~ Cahaya Terpuji/Cahaya Perwujudan Tuhan pertama kali yang merupakan cikal-bakal semesta raya ~ Purusha dalam istilah Weda), beserta seluruh para sahabatnya (maksudnya seluruh Atma-Atma semua), akan tetapi masih berwujud Ruh, berada didalam kandungan Lintang Johar (Lintang ~ Bintang, Johar/Jauhar ~ Mutiara, maksudnya juga Nur Muhammad tersebut), ketahuilah Lintang Johar itu, sumber segala Ruh makhluk.
34.Babonira saking Urip, dadi saking Nur Muhammad, lintang rêmbulan srêngenge, ora liya asalira, pan saking Nur Muhammad, mangka Lintang Johar iku, dadi pusêre Muhammad.
(Nur Muhammad atau Lintang Johar) adalah perwujudan Hidup (Allah), semesta raya ini berasal dari Nur Muhammad, bintang rembulan matahari, tiada lain sumbernya dari sana, berasal dari Nur Muhammad, sedangkan Lintang Johar, ibarat pusar (tempat keluarnya) seluruh semesta.
35.Yen sira maido mami, dadi nampikakên sira, mring Kuran sêsêbutane, Kasan Beêari miyarsa, rumaos kaungkulan, mangkana denira muwus, Wis Gatholoco minggata.
Jikalau kamu membantahku, sungguh sama saja kamu menolak, kepada ajaran Al-Qur’an, Kasan Besari (Hassan Bashori) mendengarnya, merasa kalah, beginilah dia akhirnya berkata, Sudah Gatholoco minggatlah kamu dari sini!
36.Gatoloco anauri, sun linggih langgare Allah, kabênêran panggonane, iki aneng têngah jagad, ingsun sênêng kapenak, linggih langgar karo udut, ngênteni prentahing Allah.
Gatholoco menjawab, Aku duduk di musholla Allah, sangat nyaman tempatnya, aku merasa dipusat semesta, aku merasa nyaman, duduk didalam musholla sembari menghisap candu (spiritualitas), sembari menunggu perintah Allah.
37.Sakala Kasan Bêsari, sidhakep kendêl kewala, puwara alon wuwuse, wus dadi prasêtyaningwang, kalamun bantah kalah, kabeh iki darbekingsun, sira wajib mengkonana.
Seketika Kasan Besari (Hassan Bashori), bersendekap sembari diam, lantas terdengar suaranya, Sudah menjadi janjiku, jikalau aku kalah berdebat, maka semua ini akan menjadi milikmu, dirimu wajib memilikinya.
38.Ingsun rila lair batin, langgar wisma barang-barang, pasrah sah duwekmu kabeh, santri murid ing Cêpêkan, ingkang sênêng ngawula, mara sira anggêguru, wulangên ilmu utama.
Aku rela lahir batin, musholla rumah berikut seluruh perabotan, aku berikan kepadamu semua, para santri murid Cepekan, jika memang hendak tetap berguru, silakah berguru kepadamu, ajarilah ajaran utama.
39.Para Kyai mitra mami, ingsun sumarah kewala, apa kang dadi karsane, manira saiki uga, nêja lunga lêlana, kabeh keriya rahayu, Kasan Bêsari gya mangkat.
Para Kyai sahabatku semua, aku sudah pasrah, apa yang menjadi kehendak-Nya, diriku sekarang juga, hendak berkelana, semoga yang aku tinggalkan disini mendapat keselamatan, Kasan Besari (Hassan Bashori) segera berangkat.
40.Nalangsa rumasa isin, saparan kalunta-lunta, katiwang-tiwang lampahe, ingkang kantun ing Cêpêkan, Gatholoco sineba, para murid tigang atus, andêr samya munggeng ngarsa.
Sangat-sangat malu, terlunta-lunta dalam perjalanan, sedih dalam pengembaraan, yang ditinggalkan di Cepekan, Gatholoco dihadap, seluruh murid sebanyak tiga ratus orang, bersila rapi berada dihadapan.
NB :
URIP ~ KANG NGURIPI ~ KANG GAWE URIP
PARAMASHIWA ~ SADASHIWA ~ ATMA
BRAHMAN ~ PURUSHA ~ ATMAN
ALLAH ~ (NUR) MUHAMMAD ~ RASUL (MUHAMMAD)
ALLAH BAPA ~ ALLAH PUTRA ~ ROH KUDUS
Mohon direnungkan…..
_________________

SERAT GATHOLOCO (12)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
41. Gatholoco sukeng galih, angandika mring sakabat, Sanak-sanakingsun kabeh, yen sira arsa raharja, poma-poma elinga, aywa tiru lir gurumu, anggêpe sawênang-wênang.
Gatholoco gembira dalam hati, berkata kepada seluruh sahabat (murid), Wahai saudaraku semua, apabila dirimu ingin mendapat ketentraman, ingat-ingatlah kata-kataku, jangan meniru tingkah laku gurumu (Kyai Hassan Bashori), sewenang-wenang kepada sesama.
42. Kang mangkono ora bêcik, ngina-ina mring sasama, umat iku padha bae, pintêr bodho bêcik ala, bêja lawan cilaka, wong kuli tani priyantun, lanang wadon ora beda.
Tingkah yang demikian tidaklah patut, menghina sesama manusia, seluruh umat itu sama, pintar bodoh tampan buruk, yang beruntung dan yang sengsara, kuli petani priyayi (bangsawan), lelaki maupun perempuan tiada beda.
43. Wus pinêsthi mring Hyang Widdhi, tan kêna ingowahana, papêsthene dhewe-dhewe, mulane bêcik narima, aywa katungkul sira, urip iku bakal lampus, aneng dunya ngelingana.
Sudah menjadi ketetapan Hyang Widdhi, tak bisa dirubah, takdir dari setiap makhluk, oleh karenanya terimalah, jangan terus merasa tidak puas, hidup ini pasti bakal mati, hidup didunia selalu ingat.
44. Aja jubriya lan kibir, sumêngah nggunggung sarira, open dahwen panastene, karêm dora pitênahan, jail silib melikan, angapusi agal alus, anggluweh dhêmên sikara.
Jangan Jubriya (Riya : Suka pamer) dan Kibir (Takabbur : Sombong), senantiasa menganggap diri yang paling unggul, suka mencampuri urusan orang suka sirik dan gampang tersinggung, suka berbohong dan memfitnah, jahil suka selintutan dan gampang mengingini milik orang lain, suka menipu baik secara kasar maupun halus, seenaknya dan suka bertengkar.
45. Aja pisan ladak êdir, watak angkuh nguja hawa, aja warêg mangan sare, nglakonana sawatara, ingkang sabar tawakal, ingkang sumeh aja nepsu, ngajeni marang sasama.
Jangan sesekali berlebihan, angkuh dan suka menuruti keinginan badani, jangan suka banyak makan dan banyak tidur, jalanilah secukupnya, sabarlah dan tawakallah, yang ramah dan jangan jadi pemarah, hargailah sesama manusia.
46. Aja sira gawe sêrik, aja sira gawe gêla, aja gawe wêdi kaget, iku aran najis karam, nyandhang mangan ingkang sah, iku lakune wong ilmu, tan kêna kanthi sêmbrana.
Jangan membuat sakit hati sesame, jangan membuat kecewa sesame, jangan suka menakut-nakuti dan mengagetkan sesame, semua itu najis dan haram yang sesungguhnya! Itulah sesungguhnya yang disebut memakai pakaian dan memakan makanan sah (halal), dan itu pula jalan yang harus ditempuh oleh pelaku spiritual, tidak bisa dibuat sembarangan.
PUPUH VI
Kinanti
1. Kudu ingkang nrimeng pandum, sumarah karsaning Widdhi, manusa darma kewala, saikine sun takoni, apa mantêp trusing driya, ngaku bapa marang mami.
Harus menerima kepada ketentuan hidup (karma yang kita terima), pasrah kepada Hyang Widdhi, manusia sekedar menjalani, sekarang aku hendak bertanya, apakah kalian benar-benar telah mantap lahir batin, mengakui aku sebagai bapa kalian?
2. Lamun sira wus tuwajuh, gugunên pitutur iki, nanging sira aja samar, tan kêna maido ilmi, yen maido kêna cêndhak, uripe kamulyanneki.
Jika memang telah mantap lahir batin, ikutilah nasehatku ini, akan tetapi janganlah gampang meremehkan ilmu orang, jika gampang meremehkan ilmu orang maka akan mendapat kesempitan, sempit kemuliaan diri.
3. Kabeh sira anakingsun, badhenên pasemon iki, Lamun bêngi ana apa, Yen awan ingkang ngêbêki, Apa ingkang ora nana, Satuhune iya êndi.
Semua anak-anakku, jawablah perlambang yang aku uraikan ini, Ada apakah ‘ditengah keheningan malam’? Apakah ‘yang meliputi terangnya siang hari’? Apakah sesuatu yang ‘tidak ada’ itu ? Sesungguhnya dimanakah (‘yang ada ditengah keheningan malam’, ‘yang meliputi terangnya siang’ dan ‘yang tidak ada’ tersebut?)
4. Doh tanpa wangên iku, Cêdhak tan senggolan iki, Yen adoh katon gumawang, Yen cêdhak datan kaeksi, Lamun isi ana apa, Yen suwung luwih mratani.
Sangatlah jauh tanpa batasan pasti, Sangatlah dekat namun tak bersentuhan, Jikalau jauh terlihat berpendar, Jikalau dekat tiada terlihat, Jika diumpamakan sebuah ‘isi sesuatu’ apakah itu? Jika diumpamakan ‘kosong’ lebih dari kekosongan dan meliputi semuanya.
5. Lêmbut tan kêna jinumput, Agal tan kêna tinapsir, Ingkang amba langkung rupak, Kang ciyut wiyar nglangkungi, Bumbung wungwang isi apa, Sapa neng ngarêpmu kuwi.
Sangat halus hingga tak bisa dijumput (dijumput ~ diambil dengan dua jari dengan sangat hati-hati karena sangat kecilnya), Sangat nyata tapi tak bisa dinyatakan, Sangat lebar namun juga sempit, Sangat sempit tapi lebarnya melebihi semua yang lebar, Sitengah bilah bambu apa ‘isi’-nya? Bahkan dihadapanmu sekarang (siapakah Dia?)
6. Yen lanang tan nduwe jalu, Yen wadon tan duwe bêlik, Iya kene iya kana, Iya ngarêp iya buri, Iya kering iya kanan, Iya ngandhap iya nginggil.
Jika lelaki tapi tak memililiki kelamin laki-laki, Jika perempuan tak memiliki kelamin perempuan, Ada disini dan ada disana, Ada di depan juga ada dibelakang, Ada dikiri juga ada dikanan, Ada di bawah juga ada diatas.
7. Baitane ngêmot laut, Kuda ngrap pandhêgan nênggih, Tapaking kuntul ngalayang, Pambarêp adhine ragil, si Wêlut ngêleng ing parang, Kodhok ngêmuli lengneki.
Perahu memuat seluruh samudera, Kuda berlari kencang ditempat pemberhentiannya (banyak yang salah tulis dalam setiap primbon ungkapan ini, yaitu KUDA NGÊRAP ING PANDÊNGAN, padahal yang benar KUDA NGÊRAP ING PANDHÊGAN (Kuda berlari kencang ditempat pemberhentiannya/kandangnya. PANDHÊGAN ~ TEMPAT BERHENTI = GÊDHOGAN), Jejaknya burung bangau yang tengah terbang melayang, Yang sulung juga yang bungsu, Belut mempunyai rumah didalam batu cadas, Katak menyelimuti rumahnya sendiri.
8. Wong bisu asru calathu, Jago kluruk jro ndogneki, Wong picak amilang lintang, Wong cebol anggayuh langit, Wong lumpuh ngidêri jagad, Aneng ngêndi susuh angin.
Orang bisu tapi keras suaranya, Ayam jago berkokok didalam telurnya, Manusia buta menghitung bintang dilangit, Manusia cebol menggapai langit, Manusia lumpuh berkeliling dunia, Dimanakah kediaman angin?
9. Aneng ngêndi wohing banyu, Myang atine kangkung kuwi, Golek gêni nggawa diyan, wong ngangsu pikulan warih, Kampuh putih tumpal pêthak, Kampuh irêng tumpal langking.
Dimanakah inti air, Dimanakah pusatnya tumbuhan kangkung, Mencari api membawa pelita, Mencari air memikul air, Kemben putih tertutup warna putih, Kemben hitam tertutup warna hitam.
10. Tumbar isi tompo iku, Randhu alas angrambati, mring uwit sêmbukan ika, Sagara kang tanpa têpi, Rambut irêng dadi pêthak, ingkang pêthak saking ngêndi.
Biji ketumbar berisi wadhahnya, Pohon randhu hutan merambat, kepada tumbuhan simbukan (simbukan adalah jenis tumbuhan rambat, tapi malah dirambati pohon randhu hutan), Lautan yang tak bertepi, Rambut hitam berubah putih, warna putih darimana datangnya?
11. Irênge mring ngêndi iku, Kalawan kang diyan mati, urube mring ngêndi ika, golekana kang pinanggih, yen tan wêruh siya-siya, durung sampurna kang ilmi.
Dan kemanakah hilangnya warna hitam tadi? Dan lagi jika pelita padam, kemanakah perginya nyala api? Carilah hingga ketemu, manakala tidak bisa mengetahui akan sia-sia, tidak sempurna ilmu kalian.
12. Ingkang sarah munggeng laut, gagak kuntul saba sami, duk mencok si kuntul ika, si gagak ana ing ngêndi, gagak iku nulya têka, si kuntul mibêr mring ngêndi.
Benda padat memenuhi samudera, burung gagak dan burung bangau ikut datang, manakala bangau bertengger diatas benda padat, burung gagak tiada kelihatan, manakala burung gagak yang datang, burung bangau terbang kemana? (Benda padat ~ Jasad materi. Samudera ~ Dunia materi. Burung gagak ~ Suksma Sariira/Nafs. Burung Bangau ~ Atma Sariira/Ruh)
13. Prayoga kudu sumurup, kabeh sira anak mami, pralambang iku rasakna, kang katêmu padha jati, sajatining rasa ika, rasa jroning jalanidi.
Oleh karenanya harus bisa memahami, wahai kalian semua anak-anakku, seluruh perlambang ilmu sejati ini renungkanlah, jika bisa memahami akan menemukan kesejatian, sejatinya rasa, rasa sejati didalam samudera (hidup).
14. Sasmitanên ingkang wimbuh, kawruhana ucap iki, kalawan pangrungunira, sarta paningalmu ugi, tan ana ucap dwi ika, dadi solah tingkahneki.
Segala rahasia akan cepat tersingkapkan, benar-benar perhatikan ucapanku ini, dengan sepenuh pendengaran, serta sepenuh penglihatan kamu, tiada lagi kebenaran kedua yang menjadi sifatnya (sifat kebenaran sejati itu tunggal, tak mendua).
15. Ora sak tan sêrik iku, tan têsbehmu Dzatullahi, kang krasa yen datan mangan, den krasa yen minum nênggih, sêmbahyanga den karasa, den krasa Dzatullah kuwi.
Jangan ragu jangan bimbang, bahkan pujianmu itu Dzatullah, rasakan benar-benar saat kamu tengah kelaparan (tak makan ~ ditengah penderitaan), juga rasakan benar-benar saat kamu meminum air (saat gembira), ditengah bersembahyang-pun rasakanlah, rasakanlah bahwa semua ini Perwujudan Dzatullah!
16. Kang wus sawural Allahu, iku aran Salat Daim, ana maneh ingaranan, Martabate Kasdu kuwi, lawan Takrul Takyin ika, mangrêtine Kasdu kuwi.
Yang sudah mampu melihat semua ini adalah Allah, itu yang dinamakan Sholat Da’im (Da’iman ~ Abadi/Tak terputus/Tak terbatas oleh waktu), ada lagi yang disebut martabat/uraian/tingkatan tentang Kasdu, dan Takrul serta Takyin, yang disebut Kasdu adalah.
17. Pikarêpe niyat iku, ciptane ingkang dumadi, dene Takrul têgêsira, pamêkasing niyat nênggih, dumadine panggraita, mangrêteni ingkang Takyin.
Maksud/fokus dari niyat, kesadaran yang menjadi pegangan, sedangkan Takrul artinya, akhir dari niyat tersebut, tercapainya kesadaran sejati, sedangkan Takyin.
18. Iku nyata yen satuhu, wasesane niyat kuwi, dumadine ingkang cipta, cêthane iku sayêkti, ingkang Kasdu kuwi Iman, ingkang Takrul iku Tohid.
Sungguh-sungguh melihat bukti, kuasa dari niyat, tercapainya puncak kesadaran, sesungguhnya, yang disebut Kasdu adalah Iman (Keyakinan), yang disebut Takrul adalah Tokid (Tauhid ~ Kesatuan Tunggal).
19. Kang Takyin Makrifat iku, kang Iman yen ana kuwi, ing niyat ingkang gumlethak, yêkti iku ora serik, tansah ningali ing Allah, kang Tohid nênge myang osik.
Yang disebut Takyin adalah Ma’rifat (Menyaksikan Kesejatian), iman yang ada, harus dibuat niyat penuh kepasrahan, hilangkan segala kebimbangan, hanya melihat kepada Allah semata, Tauhid adalah menyadari Kesatuan gerak dan diam (makhluk dengan gerak dan diam Tuhan).
20. Gletheke paningal iku, pamyarsa pangucapneki, nyata angên-angênira, ingkang ngglethakakên Widdhi, myarsa ngucapkên pêsthinya, Allah tangala ngimbuhi.
Menyadari dengan penuh kesadaran bahwa semua penglihatan ini, pendengaran ini berikut pengucapan ini, serta seluruh gerak pikiran-pikiran ini, semua adalah perwujudan Hyang Widdhi, mendengar hingga berkata, Allah yang menggerakkannya.
21. Dadi aja sak srik iku, tingalira mring Hyang Widdhi, ana dene kang Makrifat, iku nênge lawan mosik, anênggih paningalira, pangrungu pangucapneki.
Jangan ragu-ragu lagi, fokuskan kesadaran bahwa semua ini adalah Hyang Widdhi, sedangkan Ma’rifat, diam serta gerak kalian, penglihatan, pendengaran pengucapan.
22. Dadi lan ing dhewekipun, têgêse iku sayêkti, Bila têsbeh lire ika, tan loro kahanan-neki, apan mung Allah kewala, ingkang mosik mênêng kuwi.
Wujud dan kepribadian kalian, sesungguhnya nyata adalah, Bila tesbeh (billa tasbih : tak ada yang dipuji lagi), sesunguhnya tak ada dua, hanya Allah saja, yang diam dan bergerak ini.
23. Pamiyarsa lan pandulu, nyatane kahanan iki, poma aja sêrik lan sak, sasmita sariraneki, kang den ucap ingkang ngucap, tan liya Kang Maha Suci.
(Berikut) pendengaran dan penglihatan kita semua, sangat nyata keadaann ini semua (adalah perwujudan Allah semata)! Jangan ragu dan bimbang lagi, akan rahasia dirimu, apa yang kamu ucapkan dan yang mengucapkan, tak lain adalah Yang Maha Suci itu sendiri!
24. Kudu ingkang awas emut, ora nana liya maning, lamun sira tinakonan, apa pangajape Widdhi, mangkene wangsulanira, Pangawruhingsun mring Widdhi.
Senantiasa waspada dan ingat dalam kesadaran, bahwasanya tiada lain lagi (semua ini kecuali Allah). Apabila kamu ditanya Apa yang Hyang Widdhi kehendaki darimu? Jawablah, Menyadari Hyang Widdhi itu sendiri.
25. Kawimbuhan ilmunipun, Pangeran Kang Maha Suci, ana maneh soalira, apa ingkang den arani, sakêcap sarta satindhak, mênêng mung sagokan kuwi.
Sehingga tercurahkan ilmu, (Kesejatian akan hakikat) Tuhan Yang Maha Suci, ada lagi pertanyaan, siapakah yang, Mengucap dan Melangkah, Berdiam dan Bergerak ini semua?
26. Nulya saurana gupuh, ujar sakêcap puniki, kang ngucap nênggih Hyang Suksma, kang mlaku satindhak Widdhi, kang mênêng sagokan ika, ingkang wus angel nggoleki.
Jawablah, Yang Mengucap, adalah Hyang Suksma (Tuhan), yang Melangkah adalah Hyang Widdhi (Tuhan), yang Berdiam dan Bergerak, adalah Dia Yang Sulit Dicari.
27. Hyang Suksma ya dhirinipun, sarta lamun den takoni, pira Martabating Tingal, saurana tri prakawis, Tasnip ingkang kaping pisan, Insan Kamil kaping kalih.
Tak lain adalah Hyang Suksma sendiri, manakala ditanya, berapakah Martabat/tingkatan/uraian Penglihatan (Ruh)? Jawablah tiga perkara, Tasnip (Tasnif : Penilaian) yang pertama, Insan Kamil (Insanulkamil : Manusia Sempurna) yang kedua.
28. Kadil Kapri kaping têlu, Tasnip: Idhêp têgêsneki, Insan Kamil: Kang Sampurna, iku kaya Roh Ilapi, utawa Tasnip sêmunya, tingal luluh sampurnaning.
Kadil Kapri (Khadil : Mengecewakan, Qafri : Gurun, gurun yang mengecewakan~maksudnya penglihatan yang palsu) yang ketiga, Tasnip (Tasnif) artinya Idhep (Penilaian Kesadaran untuk melihat), Insan Kamil adalah (penglihatan) Yang Sempurna, sudah menjadi Ruh ilapi (Ruh Idhofi : Ruh penambah kesempurnaan), atau Tasnip maksudnya, penglihatan telah luluh sempurna (kepada Yang Dilihat).
29. Wahyu iku têgêsipun, ingkang paningale sidik, iku têtêp wahyunira, pramilane samya wajib, den wêninga prabedanya, anggenira aningali.
(Mendapat) wahyu (penglihatan sejati) maksudnya, bagi mereka yang penglihatan Ruh-nya jernih, maka disebut tetap mendapatkan wahyu, oleh karenanya wajib bagi kalian, mengetahui perbedaan (penglihatan Ruh diatas), disaat kalian hendak melihat Kesejatian.
30. Mring Nabi Wali Mukminu, Nabi têtêp tingalneki, dene para mundur ika, ing tingale Wali Mukmin, pira Martabating Lampah, wangsulana dwi prakawis.
Perbedaan (penglihatan) Nabi Wali maupun Para Mukmin, bagi yang sudah mencapai tingkat ke-Nabi-an akan stabil penglihatannya, sedangkan dibawah tingkatan itu masih labil, yaitu penglihatan Wali dan Mukmin, berapakah martabat/tingkatan/uraian dari Lelaku (Riyadloh/Sadhana/Pencarian spiritualitas) itu? Jawablah ada dua perkara.
31. Dhingin kaya gêni iku, kaping kalih kaya angin, sêmune kang kaya brama, pênêt panase pribadi, têgêse sira mrih enggal, panrima kasuwen dening.
Yang pertama bagaikan api, yang kedua bagaikan angin, yang dimaksud bagaikan api, mencari inti panasnya diri pribadi (berjuang membasmi panasnya kegelapan batin), dengan cara tersebut akan membuat diri kalian cepat, mencapai tingkat kepasrahan.
32. Ingkang angin têgêsipun, pênêt tan kêna pinurih, têgêse wus ora pisan, susah angulati malih, pira Martabating Badan, saurana tri prakawis.
Bagaikan angin maksudnya mencari sesuatu yang ‘Tak dapat dicari’, dimana ‘Yang tak tak dapat dicari’ tersebut sesungguhnya sekali-sekali, tidak perlu dicari jauh-jauh, berapakah martabat/tingkatan/uraian tentang Badan?
33. Wondene ingkang rumuhun, kaya tanggal ping Pat nênggih, ping dwi kaya tanggal Sanga, tanggal ping Patbelas ping tri, têgêse tanggal kaping Pat, tulis lair tulis batin.
Yang pertama-tama, bagaikan bulan muncul ditanggal Empat (memakai perhitungan sonar system), yang kedua bagaikan bulan muncul ditanggal Sembilan, yang ketiga bagaikan bulan yang muncul ditanggal Empat belas, maksud bagaikan bulan tanggal empat ( tangal empat jawa atau perhitungan kalender menggunakan sonar system, bulan tidak akan kelihatan) berarti lahir batin masih nampak tersirat (masih benar-benar tenggelam pada material dunia, masih diliputi kegelapan illusi)
34. Kaya tanggal Sanga iku, luluh sirna têgêsneki, kahananira Pangeran, tanggal ping Patbelas kuwi, dene sasêjane sama, kaya Kang Ndadekkên nênggih.
Yang dimaksud bagaikan tanggal Sembilan (tanggal Sembilan jawa atau menggunakan perhitungan kalender sonar system, bulan mulai muncul walau berbentuk sabit), yang material mulai luluh dan sirna oleh karena, keberadaan Tuhan (mulai nyata), bagaikan tanggal Empat belas (tanggal Empat belas jawa atau menggunakan perhitungan kalender sonar system), seluruh kehendak telah sama, manunggal sama dengan Yang Menciptakan Alam! (Illusi telah tersingkap, bagaikan Bulan Purnama. Tuhan telah mewujud nyata!)
35. Wus tumêka wangênipun, têkane kawula kuwi, ora nêja yen dadiya, dadi Gusti kang sayêkti, nanging yêkti dadi uga, pira Martabat Pamanggih.
Sudah mencapai tingkatan tertinggi, keberadaan Kawula (hamba), tak disengaja telah menjadi, keberadaan Gusti Yang Sejati, dan benar-benar terjadi, berapakah martabat/tingkatan/uraian dari Etika Tingkah Laku.
36. Saurana lima iku, kang dhingin Klêthêking ati, ingkang kaping kalihira, Katêpêking lampah nênggih, Panjriting tangis ping tiga, Kêthuk nutu ping pat nênggih.
Jawablah terdiri dari lima perkara, yang pertama bagaikan Kegelapan hati, yang kedua bagaikan Suara langkah kaki, yang ketiga bagaikan Jerit tangis, yang keempat bagaikan Suara ketukan orang menumbuk padi (jaman dahulu untuk memisahkan padi dengan kulitnya, harus ditumbuk disebuah tempat yang namanya Lesung. Menumbuk padi dalam istilah orang Jawa disebut Nutu. Disaat aktifitas menumbuk padi ini, suara ketukannya akan terdengar indah berirama. Apalagi jika yang melakukan aktifitas lebih dari satu orang. Suara yang terdengar sangat khas. Suara ketukan menumbuk padi ini dikenal dengan sebutan gamelan Lesung.)
37. Cleret Ngantih ping limeku, dene Panjriting wong nangis, lawan Klêthêking wardaya, myang Têpêking wong lumaris, tuhune iku pangucap, martanipun akir kadi.
Dan bagaikan Pelangi yang kelima, maksud dari Jerit tangis, dan juga Kekotoran hati, serta Suara langkah kaki, sesungguhnya adalah lambang dari kegelisahan batin yang tak terucapkan, jika mampu menyadari hal ini maka pada akhirnya.
38. Kaya Kapilaku iku, ing tekade kang wus tampi, Calereting Ngantih ika, lir Sipat Jamalullahi, Kêethuking nutu upama, wêdale pangucapneki.
(Harus dijadikan) Kaya Kapilaku (Haya’ alkafiilah : Untuk memastikan rasa malu ~ maksudnya segala kekotoran hati, jerit tangis/ketidak terimaan dan suara langkah kaki/degub gemuruh ketidak tenangan adalah hal-hal yang patut dijadikan obyek perasaan malu bagi yang ingin meningkatkan kejernihan diri. Kekotoran hati, Jerit Tangis/ketidak puasan dan Suara Langkah Kaki/degup ketidak tenangan adalah rintangan mencapai tingkat kesucian, seharusnya kita malu jika tetap memelihara hal-hal semacam itu), itulah ketetapan diri bagi yang hendak belajar berserah total, Pelangi maksudnya, bagaikan sifat Jamalullah (Jamil : Cantik ~ Jamalullah : Kecantikan Allah), Suara ketukan orang menumbuk padi, lambang dari Ucapan yang telah keluar.
(Maksudnya, tiga perlambang awal, 1. Kletheking Ati : Kekotoran Hati, 2. Katepeking Lampah : Suara Langkah/degup ketidak tenangan, 3. Panjriting Tangis : Jerit Tangis/ketidak puasan, adalah lambang ketidak murnian diri yang seharusnya sangat memalukan bagi manusia yang sadar. Ketidak murnian ini ada didalam diri yang berputar-putar bagai awan panas menggelora. Lambang ke empat yaitu Kethuking Nutu adalah Ucapan yang keluar dari orang yang sadar yang bisa menetralisir segala hal-hal negative yang bergelayut didalam diri, sehingga ucapan yang keluar terdengar positif dan indah, bagai suara orang menumbuk padi yang merdu. Dan jika hal ini bisa dibiasakan, maka diri kita nyata telah menjadi perwujudan Pelangi atau Jamalullah : Kecantikan Allah bagi sesama).
39. Nyata ora mamang iku, ora susah angulati, Hyang Agung Kang Maha Mulya, kang ngucap iku Allahi, poma aja pindho karya, puniku ingkang sajati.
Nyata tidak diragukan lagi, tidak usah susah-susah mencari, Hyang Agung Yang Maha Mulia, karena ucapan positif yang keluar dari manusia yang sadar semacam itu adalah ucapan Allah, jangan meragukan lagi, inilah yang sesungguhnya!
40. Martabate bumi iku, saurana tri prakawis, Dzating Roh Ilapi ika, kaping pindho Roh Jasmani, kaping têlu Tanpa Prenah, Tanpa Tuduh Tanpa Yekti.
Martabat/tingkatan/uraian dari bumi (maksudnya bumi adalah manusia ini), jawablah tiga perkara, yang pertama Dzat Roh Ilapi (Dzat dari Ruh Yang Menguatkan, maksudnya perwujudan dari Ruh Yang Menguatkan, tak lain adalah Nafs/Suksma Sariira. Nafs atau Suksma Sariira adalah perwujudan Atma juga sesungguhnya.) Yang kedua Roh Jasmani (Maksudnya adalah Jasad/Sthula Sariira, disini diistilahkan sebagai Ruhul Jasmani) dan yang ketiga Tanpa Tempat, Tanpa Arah dan Tanpa Ada (Maksudnya Ruh/Atma).
41. Kang aran Muhammad iku, kang Kakiki kang Majaji, iku nuli saurana, kang aran Muhammad Nabi, dene kang Kakiki iku, iya Dzatullah Ilapi.
Yang disebut Muhammad itu, apakah Kakiki (Hakiki : Intisari Gaib) atau yang Majaji (Maujudi : yang berwujud nyata), maka jawablah, yang dinamakan Muhammad itu adalah nama seorang Nabi, tapi hakekatnya yang disebut Muhammad itu, tak lain adalah Dzatullah Ilapi (Dzatullahi Al-idhofi : Dzat Allah Yang Menambah Kekuatan bagi semesta atau Energi Illahi).
42. Nabi Muhammad puniku, anênggih ingkang Majaji, Dzatullah Jasadi ika, kang Kakiki kang Majaji, loro-loroning atunggal, nyatane yen sira kuwi.
Nabi Muhammad itu, adalah yang berwujud sebagai manusia (ditanah arab), perwujudan Dzatullah, sedangkan Muhammad yang Hakiki dan Maujud, kedua-duanya adalah tunggal juga, semuanya ada didiri kalian (seluruh makhluk).
(Maksudnya Muhammad itu sesungguhnya adalah nama dari cahaya Allah, yaitu Nur Muhammad (Nur : Cahaya, Muhammad : Terpuji). Inilah inti sari setiap makhluk. Hakikat setiap makhluk. Secara hakikat dia melampaui segalanya, secara wujud nyata, berwujud seluruh material semesta termasuk jasad fisik manusia. Maka benarlah jika kita ini disebut perwujudan Nur Muhammad. Karena Nur Muhammad itu tak lain adalah Allah juga. Dan Ruh kita ini disebut Rasul Muhammad (Rasul : Utusan, Muhammad : Terpuji), percikan dari Allah juga. Oleh karenanya Allah, (Nur) Muhammad dan Rasul (Muhammad) adalah satu kesatuan tunggal, dalam Ajaran Syeh Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga, sering hanya disebut ALLAH, MUHAMMAD, RASUL saja. Ada lagi yang disebut Muhammad, yaitu seorang Nabi yang pernah hidup ditanah Arab dan yang mengajarkan agama Islam)
43. Ingkang Tanpa Prênah iku, lawan Tanpa Tuduh kuwi, ing Kakekate Dzatu’llah, tan liya pêsthi sireki, krana sajatine sira, poma aja pindho kardi.
(Kalianlah) perwujudan Yang Tanpa Tempat, Yang Tanpa Arah, kalian adalah perwujudan kesejatian Dzatullah, tiada lain kalian semua ini, itulah sesungguhnya kalian, jangan ragu-ragu lagi.
44. Martabat Nugrahan iku, lamun sira den takoni, pira nugrahaning Sadat, saurana tri prakawis, iku ingkang ping sapisan, Ngêningake Iman-neki.
Martabat/tingkatan/uraian Anugerah itu, manakala kalian ditanya, ada berapa Anugerah Sahadat, jawablah tiga macam, yang pertama Menjernihkan Iman.
45. Ping dwi Ngeningken Tyasipun, ana dene kang kaping tri, Nglampahake Panggaotan, Nugrahaning Salat nênggih, saurana tri prakara, Mêgat Karsa ingkang dhingin.
Yang kedua Menjernihkan Hati/Kesadaran, dan yang ketiga Menjalankan/mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. (Sahadat adalah kesaksian diri, dimana sahadat sejati adalah Tiada Yang Lain di Alam ini kecuali Allah, dan Ruh-ku ini adalah Utusan Allah. Kesaksian ini harus diimplementasikan kedalam kehidupan sehari-hari, dengan jalan, pertama Menjernihkan Keyakinan bahwasanya semua makhluk ini adalah perwujudan Allah dan utusan Allah, maka semua tiada beda, kedua menjernihkan Kesadaran, dimana kita harus benar-benar melihat aku adalah kamu kamu adalah aku, tak ada beda dan yang ketiga harus benar-benar dipraktekkan didalam kehidupan sehari-hari dengan jalan menebarkan Kasih tiada henti. Jika bisa melaksanakan hal ini, jelas bisa disebut Mendapat Anugerah dari memahami Sahadat Sejati), Anugerah Shalat sekarang jika ada yang bertanya, jawablah tiga macam, Mengontrol keinginan duniawi yang pertama.
46. Tinggal Cipta kalihipun, Amadhêp ingkang kaping tri, Nugrahaning Takbir pira, saurana tri prakawis, dhingin Kawruh dwi Kawruhnya, Jatining Wêruh kaping tri.
Meningalkan segala Kesadaran rendah yang kedua, dan yang ketiga Mantap lahir batin, Anugerah Takbir (Mengagungkan Allah) ada berapakah, jawablah tiga macam, pertama Pengetahuan yang kedua Yang Mengetahui, Yang ketiga Hakikat Yang Hendak Diketahui. (Maksudnya, manusia bisa disebut menerima Anugerah dalam memahami Cara Pengagungan Allah jika bisa menyadari Pengetahuan yang benar, memahami hakikat dirinya sebagai Yang Mencari Tahu, dan yang ketiga memahami siapa hakikat Yang Hendak Diketahui itu)
47. Pituturku durung rampung, nanging iku bae dhisik, krana ingsun arsa lunga, ora lawas ingsun bali, mrene maneh mulang sira, dimene imbuh mangrêti.
Wejanganku belum selesai, akan tetapi ini dulu, sebab aku hendak pergi, tidak akan lama aku akan kembali, kembali ke sini untuk mengajar kalian lagi, agar semakin bertambah kesadaran kalian.


SERAT GATHOLOCO (13)


Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

PUPUH VII
Gambuh
Sinom


yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA




1. Anak murid sireku, kabeh padha keriya rahayu, lilanana saiki manira pamit, Gatholoco mangkat gupuh, lumampah ijen kemawon.
Wahai semua anak muridku, semoga keselamatan ada padamu saat aku tinggal, sekarang relakanlah aku pamit, Gatholoco segera berangkat, berjalan pergi sendirian saja.

2. Midêr-midêr ngêlantur, sêjanira angupaya mungsuh, sagung pondhok guru santri den lurugi, binantah ing kawruhipun, yen kalah dipun pepoyok.

Berkeliling kemana-mana, niatnya hendak mencari musuh berdebat, seluruh pondhok pesantren didatangi, diajak berdebat tentang ilmu sejati, jika kalah diperolok-olok olehnya.


3. Ana ingkang gumuyu, kapok kawus santri kang tan urus, wus dilalah karsaning Kang Maha Luwih, Gatholoco tyas kalimput, mêngku takabur ing batos.

Ada yang ditertawakan, mentertawakan para santri yang kalah debat, sudah menjadi kehendak Yang Maha Lebih, Gatholoco hatinya terliputi, perasaan takabbur (sombong).


4. Pangrasanira iku, sapa mênang padon karo aku, padu kawruh ingsun punjul sasami, marmane manggih sêsiku, kasiku dening Hyang Manon.
Menurut anggapan dirinya, siapa yang bakal menang berdebat denganku, jika berdebat aku lebih unggul dari semua manusia, oleh karenanya mendapatkan balak, mendapatkan balak dari Hyang Manon (Tuhan)

5. Kang sipat samar iku, Gatholoco tan rumasa luput, yen andulu ingkang bangsa lair batin, kaelokaning Hyang Agung, karya lakon langkung elok.

Yang Bersifat Maha Samar, tapi Gatholoco tidak merasa salah, senantiasa merasa benar akan segala pemahamannya tentang ilmu lahir dan bathin, kebesaran Hyang Agung (Tuhan), membuat jalan hidup Gatholoco semakin mengherankan.


6. Gatholoco andarung, lampahipun têrus minggah gunung, Endragiri wastanira ingkang wukir, sadaya santri ing gunung, binantah kawruhnya kawon.
Langkah Gatholoco semakin jauh, berjalan terus mendaki sebuah gunung, Endragiri nama gunung tersebut, seluruh santri yang tinggal disana, berdebat dengannya dan kalah.

7. Jêjanggan para Wiku, Rêsi Buyut Wasi lan Manguyu, den lurugi bantah kawruh sarak ilmi, ingkang kawon den gêguyu, Gatholoco asru moyok.
Jejanggan dan Para Wiku (Bhikku), Resi Buyut Wasi dan Manguyu, semua didatangi diajak berbantah ilmu sejati, yang kalah ditertawakan, oleh Gatholoco tanpa segan-segan lagi.
(Cantrik, Cethi, Cekel, Jejanggan, Buyut, Wasi, Manguyu dan Resi adalah istilah tingkatan siswa dalam pendidikan spiritual di sebuah Padhepokan Jawa jaman Kabuddhan/Shiwa Buddha. Kedudukan tertinggi adalah Resi atau Wiku/Bhikku. Sekarang, sebutan ‘Cantrik’ dipakai oleh Padhepokan Islam untuk menamai siswa nya yang belajar, yaitu ‘Santri’. Sedangkan istilah ‘Padhepokan’ sendiri diubah menjadi ‘Pe-Santri-an/Pesantren’)


8. Solah tingkah kumlungkung, ngrengkel nakal rêmên nyrekal digung, watak edir ilmu sarak den pabêni, mila saya camahipun, ya ta gênti winiraos.

Kelakuannya telah berlebihan, ulet nakal suka menyangkal diagungkan, terjerat kesombongan semua aturan syari’at dikritik, sehingga jatuhlah kesadarannya, lantas kemudian diceritakan.


9. Ing Endragiri gunung, wontên endhang gentur tapanipun, apêparab Rêtna Dewi Lupitwati, sadaya punggawanipun, samya estri maksih anom.
Tersebutlah di Gunung Endragiri, berdiam seorang wanita pertapa, bergelar Retna Dewi Lupitwati (Lupit : barang untuk menjepit, Wati : wanita ~ barang milik wanita yang fungsinya untuk menjepit), semua muridnya, terdiri dari gadis-gadis belia.

10. Satunggal wastanipun, apêparab Dewi Mlênuk Gêmbuk, nama Dewi Dudul Mêndut kang satunggil, mêrak ati dhasar ayu, cantrik kalih ugi wadon.

Yang seorang bernama, Dewi Mlenuk Gembuk (Mlenuk : Barang kecil yang menonjol dan montok, Gembuk : empuk ~ barang kecil yang menonjol montok dan empuk), yang lain bernama Dewi Dudul Mendut (Dudul : Disogok, Mendut : Terayun ~ yang disogok bisa terayun-ayun), sangat cantik memikat hati, keduanya perempuan semua.


11. Satunggal namanipun, akêkasih Dewi Rara Bawuk, kang satunggal Dewi Bleweh kang wêwangi, grapyak sumeh kaduk cucut, neng ngarsa gusti tan adoh.
Yang lain bernama, Dewi Rara Bawuk (Rara : Gadis belia, Bawuk : Vagina ~ vagina gadis belia), dan yang lainnya bernama Dewi Bleweh (Bleweh : Berlobang dan berlendir), semuanya sangat gembira dan rukun hidup bersama, saat itu mereka tengah berada didekat gurunya.

12. Sang Rêtna dhepokipun, yeku dhepok ing Cêmarajamus, pratapane ing guwa Seluman wêrit, angkêr sinêngkêr barukut, botên sêmbarangan uwong.
Nama dari Padhepokan Sang Retna (Dewi Lupitwati), adalah Padepokan Cemarajamus, tempat tapanya berada di gua siluman yang gelap, angker rahasia dan tersembunyi, tidak sembarang manusia.

13. Bangkit uningen ngriku, yen tan antuk lilane Sang Ayu, dene lamun wus kêparêng den ideni, kaiden ingkang amêngku, sinome guwa katongton.
Boleh melihat tempat tersebut, jikalau tidak mendapatkan ijin Sang Ayu (Dewi Lupitwati), namun bila sudah diijinkan, diperbolehkan oleh yang punya, ‘sinom’-nya gua bisa dilihat. (Sinom ~ bisa berarti muda bisa berarti rambut tipis dipelipis. Jika sebuah gua rahasia mempunyai sinom/rambut tipis, maka bisa anda tebak sendiri apa maksudnya. Selain itu, menandakan pupuh selanjutnya adalah pupuh Sinom. Beginilah sastra kuno Jawa, ambiguitas-nya sangat indah sekali.)


PUPUH VIII


1. Ingkang samnya neng asrama, Rêtna Dewi Lupitwati, lagya sakeca ngandikan, lawan cêthi emban cantrik, kaget dupi umeksi, dhumatêng wau kang rawuh, sajuga janma priya, lênggah sandhing para estri, Mlênuk Gêmbuk sigra nabda atêtannya.
Yang tengah ada didalam asrama, Retna Dewi Lupitwati, tengah menikmati perbincangan, dengan Cethi Emban dan Cantrik-nya (maksudnya semua muridnya), terkejut semua begitu melihat, kepada seseorang yang tiba-tiba datang, nyata seorang lelaki, langsung duduk didekat para wanita, Mlenuk Gembuk segera bertanya.

2. Lah sira iku wong apa, wani malbeng Endragiri, rupamu ala tur kiwa, pinangkanira ing ngêndi, lan sapa kang wêwangi, angakuwa mumpung durung, cilaka siya-siya, apa tan kulak pawarti, lamun kene larangan katêkan priya.

Kamu itu manusia apa? Berani masuk ke Endragiri tanpa permisi. Wajahmu jelek dan buruk, darimanakah asalmu? Siapakah namamu? Jawablah sebelum, dirimu sia-sia celaka, apakah tidak pernah mendengar kabar, jika tempat ini tempat larangan bagi lelaki?


3. Gatholoco tansah nyawang, botên pisan amangsuli, mêndongong kendêl kewala, lir bisu mung clumak-clumik, malah angiwi-iwi, lingak-linguk kukur-kukur, dereng purun cantênan, nudingi mring cantrik estri, dangu-dangu sumaur ngucap mangkana.

Gatholoco hanya terpaku melihat (wanita-wanita cantik tersebut), tak sepatah katapun jawaban keluar dari mulutnya, termangu-mangu diam, bagai orang bisu hanya bibirnya berdecak-decak kagum, lantas bukannya menjawab tapi malah mencibir, duduk seenaknya dan menggaruk-garuk, tidak mau buka suara, namun kemudian dia menunjuk kepada Mlenuk Gembuk, dan menjawab begini.


4. Sun iki janma utama, nyata yen lanang sajati, kêkasih Barang Panglusan, lan aran Barang Kinisik, têtêlu jênêng mami, ananging ingkang misuwur, manca pat manca lima, tanapi manca nagari, Gatholoco puniku aran manira.

Aku ini manusia utama, nyata seorang lelaki sejati, namaku Barang Panglusan, nama lainku Barang Kinisik, ada tiga namaku, yang sangat dikenal, diseluruh empat penjuru mata angin bahkan lima penjuru mata angin, hingga ke mancanegara, Gatholoco itu namaku.


5. Omahku ing têngah jagad, pinangkane saking wuri, nuruti sêjaning karsa, pramilane prapteng ngriki, prêlu arsa pinangggih, marang sireku wong ayu, dhuh mirah pujaningwang, lamun condhong sun rabeni, Mlênuk Gêmbuk muring-muring asru sabda.
Rumahku dipusat semesta, aku datang dari belakang (tiba-tiba ada maksudnya ~ tidak ada yang menciptakan), menuruti kehendak, sehingga aku sampai juga disini, perlu untuk bertemu, dengan dirimu duh cantik, duh berlian merah pujaanku, jika mau aku nikahi dirimu, Mlenuk Gembuk marah-marah dan berbicara keras.

6. Gumêndhung si asu ala, lancang pangucap kumaki, dêksura tindak sêmbrana, adol bagus marang mami, ingsun tan pisan sudi, andêlêng marang dhapurmu, bêcik sira minggata, aja katon aneng ngriki, eman-eman panggonan den ambah sira.

Gila kamu anjing jelek, lancang ucapanmu dan sombong, seenaknya dan sembrono, menawarkan kebaikan kepadaku, diriku sekali-kali tak sudi, melihat wujudmu, lebih baik minggatlah, jangan terlihat disini, sayang tempat seindah ini kamu jejaki.


7. Wangsulane gêmang lunga, malah sira mirah nuli, nurutana karsaningwang, dhuh wong ayu sun rabeni, mangsuli manas ati, wuwuse saya dalurung, si anjing kêna sibat, tan kêna ginawe becik, Mara age tutugna dak kêpruk bata.

Gatholoco (menjawab) enggan pergi, malah jika mau, dirimu turutilah kehendakku, duh cantik aku akan menikahimu, (Mlenuk Gembuk) menjawab dengan kata-kata memanaskan hati, namun ucapaan (Gatholoco) semakin keterlaluan, si anjing dicaci maki, karena tidak bisa diberi sopan santun, Lanjutkan ucapanmu kalau ingin aku pukul dengan batu bata (kata Mlenuk Gembuk)!


8. Gatholoco saurira, wideng galêng (yuyu) dhuh maskwari, wong ayu bok aja duka, kuwuk mangsa kolang-kaling (luwak), ron kang kinarya kikir (rêmpêlas), wêlasana awakingsun, parikan jênang sela (apu), apuranên sisip mami, jalak pita (kapodhang) sun cadhang dadiya garwa.

Gatholoco menjawab (tapi dengan berpantun ‘wangsalan’ ~ wangsalan adalah pantun teka-teki kata khas Jawa), ‘wideng’ (atau gangsing, yaitu mainan kuno berbentuk bulat dan dimainkan dengan dihentakkan ditanah hingga berputar) yang ada di selokan sawah (binatang YUYU) duh intan adikku, wong ‘a-YU (cantik)’ janganlah marah, ‘kuwuk’ (kerang laut) yang suka makan buah kolang-kaling (binatang LUWAK), daun yang dibuat untuk menghaluskan sesuatu (REMPELAS), ‘we-LAS- ana (kasihanilah) a-WAK ingsun (diriku ini)’, tersebutlah bubur dari batu (APU ~ Kapur Sirih), ‘APU-ranen (maafkanlah)’ kelancanganku, burung Jalak berwarna kuning (burung KEPODHANG) aku ‘ca-DHANG (harap)’ berkenanlah menjadi istriku.


9. Baita kandhêg samudra (labuh), lara wirang sun labuhi, terong alit dhêdhompolan (ranti), bok iya nganti sawarsi, bibis kulineng tasik (undur-undur), sayêkti tan nêja mundur, isih cuwa atiku pan durung lêga.

Perahu berhenti diatas samudera (ber-LABUH), walaupun harus malu aku ‘LABUH-i (Jalani)’, buah terong kecil bergerombol (buah RANTI), walaupun ‘ngan-TI (hingga)’ setahun, burung bibis yang suka bermain dipasir (binatang UNDUR-UNDUR), sungguh-sungguh aku tak akan ‘mun-DUR’, masih akan kecewa hatiku dan belum akan lega (jika belum terlaksana keinginanku).


10. Lan maneh ngong ngrungu warta, gustimu Sang Lupitwati, misuwur lamun waskitha, pintêr mring sabarang ilmi, tan ana kang ngungkuli, sarta wus jumênêng Wiku, lamun kapara nyata, manira arsa nandhingi, bantah kawruh sakarsane ilmu apa.

Dan lagi aku mendengar kabar berita, gusti-mu Sang Lupitwati, sangat terkenal waskitha, menguasai segala ilmu, tak ada yang mampu mengunggulinya, serta sudah mencapai taraf Wiku/Bhikku, jika memang benar demikian, aku hendak menandingi, mengajak debat ilmu sejati sekehendak dia ilmu yang mana.


11. Mlênuk Gêmbuk saurira, Badhenên cangkriman mami, lan soale gustiningwang, Rêtna Dewi Lupitwati, soale êmban cantrik, yen sira ngrêti sadarum, najan rupamu ala, gustiku Sang Lupitwati, apa dene para cêthi cantrikira.

Mlenuk Gembuk menjawab, Tebaklah teka-tekiku, serta teka-teki gustiku, Retna Dewi Lupitwati, serta teka-teki seluruh emban dan cantrik beliau, jika dirimu mampu menjawab, walau buruk rupamu, gustiku Sang Lupitwati, berikut seluruh cethi dan cantrik beliau.


12. Mêsthine nurut kewala, kabeh gêlêm anglakoni, Gatholoco alon mojar, Apa têmên tan nyidrani, upamane ngapusi, apa sira wani tanggung, yen sira ora dora, sun jawabe ing samangkin, lah ucapna cangkrimane kaya apa.
Pasti akan menuruti kehendakmu, semua akan mau menjalani sebagai istrimu, Gatholoco pelan berkata, Benarkah tidak ingkar janji? Jika nanti ingkar, apakah kamu mau bertangggung jawab? Jika kamu tidak berbohong, akan aku jawab segera semua teka-teki kalian, segera ucapkanlah teka-tekinya seperti apa.

13. Mlênuk Gêmbuk alon mojar, Ana wit agung siji, pang papat godhonge rolas, kêmbange tanpa winilis, wohe amung kêkalih, mung sawiji trubusipun, mubêng wolu pangira, puniku ingkang sawiji, pan ana dene ingkang salah satunggal.

Mlenuk Gembuk pelan berkata, Tersebutlah sebuah pohon besar, berdahan empat dan berdaun dua belas, bunganya tak terhitung, buahnya hanya dua biji, hanya satu akarnya, tapi tumbuh bercabang delapan, itu teka-teki pertama, sedangkan teka-teki lainnya adalah.


14. Ingsun ningali maesa, kathahe amung kêkalih, nanging têlu sirahira, badhenên cangkriman kuwi, Gatholoco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, kêcap-kêcap kêthip-kêthip, Mlênuk Gêmbuk gumujêng alatah-latah.

Aku melihat kerbau, berjumlah dua ekor, akan tetapi mempunyai kepala tiga buah, jawablah teka-teki ini, Gatholoco mendengarkan, pura-pura tidak paham, terbengong-bengong celingukan, bibirnya komat-kamit dan matanya ketap-ketip, Mlenuk Gembuk tertawa terbahak-bahak.


15. Kowe maneh yen bisaa, ambatang cangkriman iki, dhapurmu ala tur kiwa, Gatholoco anauri, Mêngko dhisik pinikir, supaya bisa katêmu, mara padha rungokna, wong kabeh aneng ngriki, sun badhene bênêr luput saksenana.

Mana mungkin kamu bisa memahami, bahkan menjawab teka-teki ini, rupamu buruk dan cacat, Gatholoco berkata, Sabar aku tengah berfikir, agar menemukan jawabannya, sekarang dengarkanlah, semua yang ada disini, aku akan menebak teka-teki itu salah maupun benar saksikanlah.


16. Ananging kalamun salah, aja padha ngisin-isin, bismillah mbadhe cangkriman, cangkrimane wong mrak ati, wit agung mung sawiji, iku jagad têgêsipun, pang papat iku keblat, godhong rolas iku sasi, trubus siji êpang wolu iku warsa.

Jika nanti salah, jangan mengolok-olok, bismillah hendak menjawab teka-teki, teka-teki dari manusia yang memikat hati, sebatang pohon besar, itu lambang dari dunia, dahan empat itu lambang dari arah mata angin, daun dua belas itu lambang bulan, akar satu bercabang delapan lambang tahun (tahun hakekatnya terulang satu kali, tapi dinamakan berbeda-beda setiap tahun hingga berjumlah delapan tahun yang disebut satu windu ~ tahun alip, ehe, jimawal, je, dal, be , wawu, jimakir ~ lantas berputar ke tahun alip lagi)


17. Kêmbang tanpa wilang lintang, minangka woh loro kuwi, anane surya rêmbulan, lan maneh ingkang sawiji, sira niku ningali, kêbo loro ndhase têlu, iku wus dadi lumrah, kêbo alam dunya iki, lanang wadon kêtêl wulu sirahira.

Bunga yang tak terhitung adalah lambang bintang, sedangkan buahnya hanya dua itu tak lain adalah matahari dan rembulan, sedangkan teka-teki satunya lagi, kamu melihat kerbau, dua ekor berkepala tiga, itu sudah lumrah didunia, kerbau yang ada di dunia ini, kepala ketiga adalah kepala yang juga ditumbuhi bulu.
(jika dua ekor kerbau jantan dan betina ada dalam satu tempat, maka kepala mereka jika dihitung ada tiga, yang satunya adalah kepala ‘penis’ kerbau jantan yang ditumbuhi bulu).


18. Gatholoco alon ngucap, Apa bênêr apa sisip, mangkono pambatangingwang, mring cangkriman iki, Mlênuk Gêmbuk miyarsi, wus kabatang soalipun, rumasa yen kasoran, sedhot mundur sarwi nglirik, alon ngucap saiki narima kalah.

Gatholoco pelan berkata, Apakah benar atau salah, begitulah jawabanku, untuk menjawab teka-teki ini, Mlenuk Gembuk mendengar, sudah terjawab teka-tekinya, merasa terkalahkan, seketika mundur sembari melirik, dan berkata sekarang mengaku kalah.


19. Dudul Mêndut sigra mapan, mesam-mesêm angesêmi, wus ayun-ayunan lênggah, Gatholoco nulya angling, Soal apa sireki, sun badhene cangkrimanmu, Dudul Mêndut angucap, Mangkene cangkriman mami, mara age badhenên ingkang pratela.

Dudul Mendut segera maju, tersenyum-senyum memikat, sudah berhadap-hadapan dengan Gatholoco, Gatholoco lantas berkata, Teka-teki apa darimu, akan aku jawab juga, Dudul Mendut berkata, Beginilah teka-teki dariku, segera tebaklah dengan benar.


20. Ing ngêndi prênahe Iman, ing ngêndi prênahe Buddhi, ing ngêndi prênahe Kuwat, apa Kang Luwih Pait, lan Ingkang Luwih Manis, Luwih Atos saking watu, apa kang Luwih Jêmbar ngungkuli jêmbaring bumi, apa ingkang Luwih Dhuwur saking wiyat.

Dimanakah kedudukan Iman? Dimanakah kedudukan Buddhi? Dimanakah kedudukan Kuat? Apa yang Lebih Pahit dari semua yang pahit? Apa yang Lebih Manis dari semua yang manis? Apa yang Lebih Keras dari batu? Apa yang Lebih Luas melebihi luasnya bumi? Dan Lebih Tinggi dari langit?


21. Apa ingkang Luwih Panas, ngungkuli panasing gêni, Luwih Adhêm saking toya, Luwih Pêtêng saking wêngi, êndi aran Ningali, lan êndi Kang Luwih Dhuwur, êndi Kang Luwih Andhap, apa ingkang Luwih Gêlis, akeh êndi Wong Gêsang karo Wong Pêjah.

Apa yang Lebih Panas, melebihi panasnya api? Yang Lebih Dingin dari air? Lebih gelap dari malam? Mana yang Melihat? Dan mana Yang Lebih Tinggi? Dan mana Yang Lebih Rendah? Apa yang Lebih Cepat? Banyak mana manusia Hidup dan manusia Mati?


22. Wong Sugih lawan Wong Nistha, Wong Jalu lawan Wong Estri, Wong Kapir lawan Wong Islam, mara badhenên saiki, Gatholoco nauri, Prênahe Iman puniku, aneng Jantung nggonira, ing Utêk prênahe Buddhi, Otot Balung prênah panggonane Kuwat.

(Banyak mana) yang Kaya dan yang Miskin, yang Laki-laki dan yang Wanita, yang Kafir dan yang Islam, segera jawablah sekarang. Gatholoco menjawab, Kedudukan Iman (Keyakinan) ada di Jantung, di Otak kedudukan Buddhi, Otot dan Tulang tempat kedudukan Kekuatan.


23. Prênahe Wirang ing Mata, Ing Dunya Kang Luwih Pait, batine wong malarat, dene Ingkang Luwih Manis, batine wong kang sugih, lamun Wong Kang Luwih Lumuh, Kang Blilu tan wêruh Sastra, ingkang aran Aningali, iku Janma Ingkang Wruh Ilmuning Allah.

Tempat Malu ada di Mata, tempat yang Lebih Pahit adalah di Dunia, menurut mereka yang melarat, sedangkan yang Lebih Manis, menurut mereka yang kaya, yang Lebih Bebal, adalah mereka yang bodoh tak memahami sastra suci, yang disebut Melihat, adalah manusia yang memahami ilmu Allah.


24. Ing ngêndi Kang Luwih Pêrak, Ing Dunya Kang Luwih Gêlis, ingkang Luwih Bungahira, iku Marmaning Hyang Widdhi, kang Amba Luwih bumi, yêkti Pandêlêng puniku, Landhêp Luwih Kang braja, iku Nalare Wong Lantip, Ingkang Adhêm Luwih toya Ati Sabar.

Dimanakan yang Lebih Dekat (kebahagiaan dan kesengsaraan ~ dualitas), di dunia ini juga yang Lebih Cepat, yang Lebih Bergembira (dan yang Lebih Sengsara), itu semua kehendak Hyang Widdhi, yang Luas melebihi bumi, adalah Penglihatan ini, yang Tajam melebihi besi, adalah Kesadaran manusia yang sudah terjaga, yang Dingin melebihi air adalah Hati yang Sabar.


25. Luwih Atos saking sela, Atine Wong Dhangkal pikir, Atine Wong Kang Brangasan, Panase Ngungkuli gêni, Wong Jalu lan Wong Estri, yêkti akeh Wadonipun, sanajan wujud lanang, tan wêruh tegese estri, kêna uga sinêbut sasat wanita.

Lebih Keras dari batu, adalah Hati manusia yang Kesadarannya sempit, Hati manusia yang penuh keinginan, panasnya melebihi Panas Api, Laki-laki dan Wanita, jelas banyak Wanita-nya, walau berwujud laki-laki, jika tidak memahami makna wanita sejati, bisa disebut juga wanita.


26. Wong Urip lan Wong Palastra, têmêne akeh kang Mati, sanajan wujude Gêsang, kalamun wong tanpa Buddhi, iku prasasat Mati, Wong Sugih lan Wong Nistheku, mêsti akeh kang Nistha, sanajan Sugih mas picis, lamun bodho tanpa Buddhi tanpa nalar.

Yang Hidup dan yang Mati, sungguh lebih banyak yang Mati, walau terlihat hidup, namun jika tanpa Buddhi (Kesadaran), sungguh dia Mati, yang Kaya dan yang Melarat, banyak yang Melarat, walau kaya harta benda, manakala bodoh tanpa Kesadaran dan tanpa kecerdasan.


27. Kêna sinêbut Wong Nistha, tan duwe pakarti benjing, kalamun ing rahmatullah, Wong Islam lawan Wong Kapir, Islam Kapir mung lair, yen tan ana anggitipun, mênawa datan wikan, pranatanira Agami, têtêp Kapir yêktine janma punika.

Bisa disebut manusia Melarat, tidak memiliki aktifitas lebih, untuk memahami kasih Allah, yang Islam dan yang Kafir, Islam dan Kafir hanya bisa dibedakan, manakala tidak mampu membangun Kesadaran, manakala tidak memahami, intisari Agama, tetap Kafir manusia yang seperti itu.


28. Wong iku nyata pintêran, tan kêna den mêjanani, Dudul Mêndut mundur sigra, sarwi awacana aris, Wus bênêr ora sisip, saikine ingsun têluk, Rara Bawuk gya mapan, mangkana denira angling, Ndika-bêdhek Gus Nganten cangkriman kula.

Orang ini memang pintar, tak bisa dikalahkan, Dudul Mendut segera undur, sembari berkata pelan, Benar jawabanmu, sekarang aku mengaku kalah, Rara Bawuk segera maju, begini katanya, Sekarang tebaklah teka-tekiku manusia Bagus.

SERAT GATHOLOCO (14)


Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

yang disimpan oleh

PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :

RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMAR SHASHANGKA





29.Kabeh ingkang sipat gêsang, kang ana ing dunya iki, Pangucape Pirang Kêcap, mangka Leklu iku Klimis, Gatholoco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, gedheg-gedheg angucemil, Rara Bawuk gumujêng alatah-latah.

Semua manusia yang hidup, yang ada didunia ini, berapakah banyak ucapan yang keluar dari mulut mereka? Sedangkan Leklu pasti Klimis, Gatholoco mendengar, pura-pura tidak memahami, terlolong celingukan, menggelengkan kepala kebingungan, Rara Bawuk tertawa terbahak-bahak. 


30.Sarwi kêplok bokongira, angencêpi ngisin-ngisin, Sira maneh yen bisaa, anjawab cangkriman mami, dhapurmu anjêjinggis, kaya antu lara ngêlu, Gatholoco angucap, Mbuh bênêr mbuh luput iki, sun badhenên dhiajêng cangkrimanira.

Sembari menepuk pantatnya, mencibir dan mengolok-olok, Mana mungkin kamu bisa, menjawab teka-tekiku, wujudmu saja jelek sekali, mirip hantu sakit kepala, Gatholoco berkata, Entah benar entah salah, akan aku jawab diajeng teka-tekimu ini. 


31.Ucape kang sipat gêsang, kang ana ing dunya iki, Pan Amung Salikur Kêcap, nora kurang nora luwih, dene sastra kang muni, pan iya amung salikur, kabeh ucaping jalma, kang ana ing dunya iki, Leklu Klimis iya iku tegesira.

Ucapan yang keluar dari mulut manusia yang hidup, yang ada disunia ini, hanya ada Duapuluh satu macam, tidak lebih dan tidak kurang, sedangkan seluruh catatan tentang mereka, juga hanya terdiri dari Dua puluh satu buah, itulah jumlah ucapan manusia, yang hidup didunia ini, Leklu Klimis itu artinya. (Maksud Gatholoco, seperti yang pernah diterangkannya pada bagian tiga, pupuh Dandanggula II, pada (syair) 29, bahwasanya seluruh manusia didunia ini berjumlah Duapuluh Satu. Maksudnya, Angka Dua melambangkan mereka yang masih terjerat dualitas duniawi (suka-duka, sedih-senang, kaya-miskin dll), sedangkan angka Satu melambangkan mereka yang telah mampu lepas dari jeratan dualitas duniawi. Maka begitu pula ucapan yang keluar dari mulut mereka, pastinya juga cuma ada Dua puluh satu buah. Angka Dua melambangkan ucapan mereka yang masih terjerak dualitas, dan angka Satu melambangkan ucapan mereka yang telah lepas dari jeratan dualitas. : Damar Shashangka) 


32.Têlek neng Alu lêsungan, yen Dicêkêl yêkti Amis, salawase durung ana, têlek ingkang mambu wangi, Rara Bawuk miyarsi, yen kajawab soalipun, rumasa katiwasan, ora wurung dirabeni, sêntot mundur sumingkir sêmu kisinan.

TeLEK neng aLU lesungan, yen di ceKeLI yekti aMIS (Tahi yang ada di alat penumbuk padi, manakala dipegang pasti berbau amis), selamanya belum ada, tahi yang berbau wangi, Rara Bawuk mendengar, dan menyadari teka-tekinya telah terjawab, merasa kalah dan pasrah, sudah pasti akan dinikahi (oleh Gatholoco), seketika undur menyingkir sembari malu. (LEKLU KLIMIS ~ teLEK neng Alu lesungan yen diceKeLI yekti Amis (Tahi yang ada dialat penumbuk padi, manakala dipegang pasti berbau amis, maksudnya sesuai dengan yang pernah diwejangkan Gatholoco pada bagian 12, pupuh Kinanthi VI, pada (syair) 35-38. Disana diterangkan tentang Martabating Pamanggih (Uraian tentang etika tingkah laku) yang terdiri dari lima hal, yaitu : 1. Kletheking Ati (Kekotoran Hati), 2. Katepeking Lampah : Suara Langkah/degup ketidak tenangan, 3. Panjriting Tangis : Jerit Tangis/ketidak puasan, adalah lambang ketidak murnian diri yang seharusnya sangat memalukan bagi manusia yang sadar. Ketidak murnian ini ada didalam diri yang berputar-putar bagai awan panas menggelora. 4. Kethuking Nutu adalah Ucapan yang keluar dari orang yang sadar yang bisa menetralisir segala hal-hal negative yang bergelayut didalam diri, sehingga ucapan yang keluar terdengar positif dan indah, bagai suara orang menumbuk padi yang merdu. Dan jika hal ini bisa dibiasakan, maka diri kita nyata telah menjadi 5. Cleret Ngantih : Perwujudan Pelangi atau Jamalullah : Kecantikan Allah bagi sesama. Tahi yang ada dialat penumbuk padi, adalah lambang dari kekotoran batin. Dalam menumbuk padi, pasti terdengar suara, ini lambang dari ucapan yang keluar. Jika alat menumbuknya sudah kotor, maka suara yang keluar juga akan kotor. Itu maksud simbolisasi TAHI YANG ADA DIALAT PENUMBUK PADI, MANAKALA DIPEGANG PASTI BERBAU AMIS : Damar Shashangka). 


33.Angucap Ingsun wus kalah, saprentahmu sun lakoni, gantya Dewi Bleweh mapan, lênggah nêja bantah ilmi, Sang Dewi Bleweh angling, Badhenên cangkrimaningsun, Isine alam dunya, kabeh Ana Pirang Warni, lawan Pira Rasane lamun Pinangan.

Berkata Aku sudah kalah, apapun keinginanmu aku jalankan, kini ganti Dewi Bleweh maju kemuka, duduk hendak berbantahan ilmu, Sang Dewi Bleweh berkata, Jawablah teka-tekiku ini, Berapakah jumlah isi alam dunia ini? Dan berapakah jumlah rasa seluruh isi alam dunia ini jika dimakan? 


34.Sun andulu Wujudira, adêge Wolung Prakawis, Pikukuhe Raga Tunggal, Sipat Papat Keblat Kalih, Patbêlas Ingkang Keri, Kang Loro Tutup-tinutup, samya Manjêr Bandera, Kêkalih pating karingkih, lan badhenên, mangrêtine dadi paran.

Aku menatap Wujudmu, terlihat Delapan Macam, Mewujud dalam Satu Raga, Mempunyai Empat Keblat (mata angin) dan, ditambah Empat Belas macam yang sangat penting, Yang Dua sangat dirahasiakan, Karena keduanya tempat mengibarkan Bendera, Keduanya sangat sensitif, nah tebaklah, bagaimana maksudnya? 


35.Gatholoco duk miyarsa, reka-reka tan mangrêti, mung dhêlêg-dhêlêg kewala, Dewi Bleweh ngisin-isin, lenggak-lenggok nudingi, malerok sarwi gumuyu, Sira masa bisaa, ambatang cangkriman mami, wong dhapurmu saru kiwa irêng mangkak.

Gatholoco begitu mendengarnya, pura-pura tak mengerti, hanya terdiam saja, Dewi Bleweh mengolok-olok, melenggak-lenggokkan kepala dan menuding, menatap dengan tatapan menghina serta tertawa, Mana mungkin kamu bisa, menjawab teka-tekiku, wujudmu saja memalukan cacat hitam jelek bagai kain yang warnanya luntur. 


36.Gatholoco saurira, Mêngko sun pikire dhisik, bismillah mbadhe cangkriman, cangkrimane gêndhuk kuwi, Isine Dunya Amung Sanga Kathahipun, ingkang kinarya ngetang, angkane mung Sangang Iji, ora nana ingkang luwih saking sanga.

Gatholoco menjawab, Sabarlah aku tengah berfikir, bismillah menjawab teka-teki, teka-teki gadis ini, Isi dunia hanya ada sembilan buah jumlahnya, sebab jelas angka yang dibuat untuk menghitung, Cuma ada sembilan buah, tidak ada angka yang melebihi dari angka sembilan. 


37.Sawuse jangkêp sadasa, bali marang siji maning, iku tandhane mung sanga, isine dunya iki, kabeh mung sanga kuwi, Kahanane Rupa iku, yêktine Nem Prakara, wijange sawiji-wiji, Ireng Biru Putih Kuning Ijo Abang.

Manakala jumlah sudah genap sepuluh, maka angkanya akan kembali ke angka satu lagi, itu bukti bahwa seluruh dunia ini, hanya berjumlah sembilan buah, semua hanya sembilan jumlahnya, Keberadan wujud itu, hanya ada Enam Macam, uraiannya satu persatu adalah, Hitam Biru Putih Kuning Hijau Merah.


38.
Liya iku ora nana, rupa ingkang manca warni, iku Padha Ngêmu Rasa, dene kabeh kang binukti, ing alam dunya iki, Rasane Mung Ana Wolu, Lêgi Gurih kalawan, Pait Gêtir Pêdhês Asin, Sêpêt Kêcut ganêpe wolung prakara.

Selain daripada warna itu tidak ada lagi, semua yang berwarna warni adalah campuran dari keenam warna dasar tersebut, seluruh Wujud memiliki Rasa, buktinya, didunia ini, Rasa hanya ada Delapan, Manis Gurih serta, Pahit Getir Pedas Asin, Sepat Kecut jumlah totalnya ada Delapan. 


39.Adu Bokong têgêsira, gênah lamun Asu Ganjing, padha adu bokongira, Ngadêg Suku Wolung Iji, Keblatira Kêkalih, Madhêp Ngalor lawan Ngidul, Sipate iku Papat, Matanira Patang Iji, lawangane Bolongan Ana Patbêlas.

Beradu pantat maksudnya, jelas adalah Anjing yang tengah Kawin, mereka akan beradu pantat (Menyindir isi dunia yang suka bentrok karena keyakinan. Selaras dengan pepatah Jawa REBUT BALUNG TANPA ISI (Berebut tulang tanpa guna ~ merebutkan sesuatu yang kosong tak berisi. Yang suka bentrok karena keyakinan berbeda, Gatholoco mengatakan bagaikan Anjing Kawin, ribut melulu), berkaki empat tapi berjumlah delapan buah (karena ada dua ekor anjing ~ maksudnya walau memiliki Kesadaran, Perasaan, Pikiran dan Memori yang sama, tapi seolah mereka yang sedang bentrok memiliki Kesadaran, Perasaan, Pikiran dan Memori lain dan berbeda karena masing-masing sudah terdoktrin sedemikian kuatnya.) Arah mata angin hanya dua, hanya Utara atau Selatan ( Maksudnya, walau sebenarnya arah mata angin itu ada empat, bahkan bisa dikatakan delapan, bahkan sembilan jika dihitung arah tengah, bahkan sebelas jika mau dihitung arah bawah ditambah arah atas, namun bagi mereka yang punya doktrin fanatis semacam itu, arah mata angin bagi mereka hanya dua saja, utara atau selatan. Kafir atau non kafir. Golonganku atau diluar golonganku : Damar Shashangka), padahal mereka sama-sama memiliki Empat Belas Lobang kehidupan yang tiada beda. 


40.Cangkêm Irung miwah Karna, Silite kalawan Prêji, gung-gunge kabeh Patbêlas, kang Tutup-tinutup sami, Panjine Dakar Prêji, pating krêngih êndêmipun, dene Umbul Pulêtan, Bandera Buntute Kalih, ting Jalênthir lir Bandera Karo pisah. 

(Satu lobang) Mulut (Dua lobang) Hidung serta (Dua lobang) Telinga, (Satu lobang) Kemaluan dan (Satu lobang) Anus, total jumlahnya Empat Belas (ditambah Kesadaran, Pikiran, Perasaan, Memori dan yang Keempat Belas adalah Ruh/Atma : Damar Shashangka). Yang senantiasa Dirahasiakan, adalah Kemaluan dan Anus, sangat sensitif memabukkan, sedangkan maksud Bendera dikibarkan, adalah sama dengan sebuah tiang bendera yang dipasangi dua macam bendera sekaligus, sehingga berkelebat tidak karuan kekanan dan kekiri manakala terhembus angin. (maksudnya adalah, pada masa dulu, jika tengah menantang perang atau menyatakan kalah perang, diisyaratkan dengan mengibarkan bendera merah atau putih. Ini adalah isyarat menyampaikan maksud/hasrat untuk berperang atau menyerah kalah. Jika kemaluan dilambangkan tempat mengibarkan bendera, artinya kemaluan adalah tempat mengibarkan hasrat sexual, mengibarkan hasrat keinginan untuk bersetubuh dan bersenggama. Gatholoco menambahkan, kemaluan itu ibarat tiang untuk mengibarkan bukan hanya satu buah bendera hasrat, tapi dua buah, karena hasrat sexual manusia kadang sangat tidak karu-karuan berkelebat tak tentu arah bagai dua buah bendera yang dikibarkan sekaligus dalam satu tiang dan terkena angin dalam saat bersamaan. : Damar Shashangka) 



41.Apa bênêr apa ora, mangkono pambatang mami, mara age wangsulana, Dewi Bleweh duk miyarsi, kajawab soalneki, sakalangkung gêtun ngungun, nggarjita jroning nala, pinasthi kalawan takdir, awakingsun kinanti wong kaya sira.

Apakah benar atau salah, begitulah jawaban dariku, nyatakanlah sekarang, Dewi Bleweh begitu mendengar, bahwasanya telah terjawab teka-tekinya, seketika kecewa bercampur heran, berkata didalam hati, sudah menjadi takdir hidupnya, harus ‘Kinanthi’ (Digandeng ~ maksudnya diperistri, selain itu juga menyatakan secara tersirat bahwa pupuh selanjutnya adalah Pupuh Kinanthi : Damar Shashangka) oleh manusa jelek seperti dia.


PUPUH IX

Kinanti



1.Dewi Bleweh nulya mundur, sarwi awacana manis, Ingsun wus rumasa kalah, sakarêpmu sun-lakoni, manira manut kewala, ora sumêja nyêlaki.

Dewi Bleweh lantas undur, sembari berkata manis, Diriku mengaku kalah, sekehendak hatimu akan aku turuti, aku akan menueut saja, tidak akan membantah lagi.


2.
Namung kantun kusuma yu, Rêtna Dewi Lupitwati, mapan lênggah arsa bantah, Gatholoco nabda aris, Sireku keri priyangga, êmbane kalawan cantrik.

Tinggal sang bunga yang canti, Retna Dewi Lupitwati, segera mempersiapkan diri hendak berbantahan, Gatholoco berkata, Hanya tinggal kamu seorang, emban dan cantrikmu.


3.
Kalah bantah padha mundur, sira Dewi Lupitwati, apa nutut apa berani, sa-buddhi-mu sun kêmbari, Rêtna Dewi angandika, Apa saujarmu kuwi.

Telah kalah dan mundur, kamu Dewi Lupitwati, apakah mampu apakah mundur, sampai dimana kesadaranmu akan aku imbangi, Retna Dewi berkata, Apa yang kamu ucapkan? 


4.Yen sira ngarani têluk, yêktine têluk wak mami, yen sira ngarani bangga, sabênêre ingsun wani, mung iki cangkrimaning-wang, kathahe têlung prakawis.

Jika kamu mengatakan aku telah tunduk, benar aku hampir kamu tundukkan, tapi jika kamu mengatakan apakah aku berani, sungguh aku masih bernai, hanya ini teka-teki dariku, jumlahnya tiga macam. 


5.Badhenên ingkang dumunung, têgêse Wong Laki Rabi, lan têgêse Wadon Lanang, tegese Sajodho kuwi, Gatholoco saurira, Ora susah nganggo mikir.

Jawablah dengan tepat, apa maksud dari Pernikahan, dan apa maksud Wanita dan Lelaki, apa maksud Jodoh itu? Gatholoco menjawab, Tidak usah berfikir diriku.


6.
Prakara cangkriman iku, tegese Wong Laki Rabi, ingkang aran Wadon Lanang, ingsun uga wus mangrêti, mung remeh gampang kewala, rungokna pambatang mami.

Untuk menjawab teka-teki ini, arti dari Pernikahan, yang dimaksud Wanita dan Lelaki, aku sudah memahami dari dulu, hal yang remeh belaka, dengarkan jawaban dariku.


7.
Têgêse Wong Lanang iku, Ala kang têmênan kuwi, iya iku ananingwang, rupane Ala ngluwihi, Wadon iku têgêsira, gênah Panggonane Wadi.

Arti dari LA-nang (Lelaki) itu, adalah ciptaan yang sangat a-LA (Buruk), dilambangkan dengan wujudku ini, seperti wujudku inilah wujud lelaki itu, WA-don (Wanita) itu adalah tempat WA-di (Rahasia). (Maksud Gatholoco, lelaki atau Lanang, adalah sebuah ciptaan yang buruk. Karena makhluk yang bernama lelaki diliputi oleh watak keras dan egoisme. Dilambangkan secara nyata dengan rupa Gatholoco sendiri. Seperti itulah sebenarnya makhluk yang dinamakan lelaki. Sedangkan wanita atau Wadon adalah makhluk yang diliputi dengan kerahasiaan dan ketidak jelasan, terlalu mempergunakan perasaan. Walau terlihat lembut, tapi sama juga jeleknya dengan keegoisan seorang laki-laki. Yang satu egois secara keras, yang satu egois secara lembut : Damar Shashangka)


8.
Wadine Wong Wadon iku, Wujude Wujudmu kuwi, sabênêre Luwih Ala, dunung sarta asalneki, acampur kalawan priya, tuduhna kang ala iki.

Rahasia wanita itu, wujudnya seperti wujudmu itu (cantik), akan tetapi tetap juga buruk sebenarnya, asal dan keberadaanya sekarang ini, jika bercampur (bertemu/menikah) antara lelaki, maka akan terlihat keburukan ini semua. 


9.Mula Rabi aranipun, Wong Lanang Amêngku Estri, rahab ngrahabi sadaya, kang ala lawan kang bêcik, mula lanang aranira, aja nglendhot marang estri.

Maka dinamakan RA-BI (Nikah), Lelaki menikahi Wanita, saling RA-hab ngraha-BI (saling ber-interaksi) dari semua watak yang ada, baik watak yang buruk maupun watak yang jelek, dan bisa dikatakan Jodoh manakala lelaki, tidak memaksakan kehendaknya kepada wanita (maksudnya saling mengingatkan untuk mengikis watak dasar yang buruk dari kedua makhluk ciptaan ini : Damar Shashangka) 


10.Mung iku pambatangingsun, apa bênêr apa sisip, Lupitwati aturira, Pukulun pêpundhen mami, saestu lêrês sadaya, marmane amba samangkin.

Hanya itu jawaban dariku, apakah benar atau salah? Lupitwati menjawab, Duh yang mulia sesembahan hamba, sungguh benar semua, oleh karenanya hamba sekarang.


11.
Nrimah kawon sampun têluk, sumanggêng karsa nglampahi, muhung asrah jiwa raga, tan pisan nêja gumingsir, ing dunya prapteng dêlahan, têtêp mantêp lair batin.

Menerima kalah dan tunduk, bersedia menjalani, memasrahkan jiwa raga, tidak akan tergoyahkan lagi, mulai dunia hingga mati, akan mantap lahir batin.


12.
Gatholoco sukeng kalbu, gumujêng sarwi mangsuli, Tuturira sun tarima, lan maneh wiwit saiki, sireku kabeh kewala, têtêp dadi garwa-mami.

Gatholoco gembira dalam hati, tertawa sembari berkata, Aku terima janjimu, dan mulai dari sekarang, kalian semuanya, akan ku ambil sebagai istriku.


13.
Mulane sira sadarum, kudu manut gurulaki, sabarang parentahingwang, abot entheng aywa nampik, lamun nampik siya-siya, tan wurung sida bilahi.

Oleh karenanya kalian semua, harus menurut kepada suami, semua yang diperintahkan, berat maupun ringan jangan membantah, manakala membantah, akan mendapatkan kecemaran.


14.
Wus lumrah wong lanang iku, wajibe mêngkoni rabi, sanajan rupane ala, nanging pantês den ajeni, sinêmbah mring garwanira, krana aran gurulaki.

Sudah lumrah seorang lelaki, harus menikah, walaupun buruk rupa, akan tetapi sebagai seorang suami patut dihargai, dipatuhi oleh istrinya, oleh karenanya disebut Gurulaki (Seorang suami dalam tradisi Jawa disebut Gurulaki. Artinya selain Guru umum yang pernah atau telah memberikan pelajaran ilmu pengetahuan maupun spiritual kepada seorang wanita, sang suami-pun wajib pula disebut guru baginya jika dia kelak sudah menikah : Damar Shashangka). 


15.Solah tingkah murih patut, satiti angati-ati, tan kêna kanthi sêmbrana, yen sêmbrana ora bêcik, sanajan lunga sadhela, kudu pamit marang mami.

Harus belajar beretika, berhati-hati, tidak boleh seenaknya, jika seenaknya itu tidak baik, walaupun keluar rumah sebentar, harus memberitahu kepada suami.


16.
Kajaba kang kadi iku, rungokna pitutur mami, amurih salamêtira, aywa karêm karya sêrik, den sabar aywa brangasan, ngajenana mring sêsami.

Selain daripada itu, dengarkan nasehatku, agar diri kalian mendapatkan keselamatan, jangan suka membuat kebencian, belajarlah sabar dan jangan berangasan, hargailah semua manusia.


17.
Upama sira katêmu, marang pamitranmu yayi, kalamun sira micara, kudu ingkang sarwa manis, dimene rêna kang myarsa, aywa nganti den ewani.

Manakala diri kalian bertemu, dengan sanabat-sahabatmu duh adikku semua, jika berbicara, harus yang sopan dan manis, agar senang yang mendengarkannya, jangan sampai mengucapkan kata-kata yang membuat kecewa orang lain.


18.
Yen sira micara saru, utawa dhêmên ngrasani, mring alane liyan janma, sayêkti akeh kang sêngit, datan sênêng malah ewa, sinêbut wong kurang buddhi.

Jika kalian berkata tidak sopan, atau suka bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain, bakalan banyak yang membenci, tidak ada yang menyukai kalian, kalian akan disebut manusia kurang budi (kesadaran).


19.
Upamane ana tamu, den enggal sira nêmoni, kang sreseh nuli bagekna, linggihane ingkang rêsik, sireku kang lêmbah manah, sokur bisa nyugatani.

Jikalau ada tamu datang, bersegeralah menemui, yang sopan dan sambutlah, berikan tempat duduk yang bersih, harus sabar dan merendahkan diri, sukur-sukur jika bisa memberikan hidangan.


20.
Sanajan tan bisa nyuguh, nanging sumeh ulat manis, têmbunge grapyak sumanak, rumakêt sajak ngrêsêpi, supaya tamune suka, sênêng ora gêlis mulih.

Walaupun tidak mampu memberikan suguhan, akan tetapi jika sopan dan berwajah manis, ucapannya bersahabat dan menyenangkan, tidak mengambil jarak dan menyenangkan hati, (lakukanlah itu) agar sang tamu bergembira, dan betah.


21.
Yen sira sêmu marêngut, kang mradayoh yekti wêdi, kinira kalamun ladak, utawa kinira êdir, den arani ora lumrah, datan kurmat mring sêsami.

Jikalau dirimu berwajah judes, yang bertamu akan takut, dikira kalian sombong, atau dikira pemarah, akan dikatakan wanita tidak lumrah, tidak bisa menghormati sesama.


22.
Watak andhap asor iku, wêkasane nêmu bêcik, raharja sugih têpungan, kineringan mring sêsami, linulutan pawong mitra, akeh ingkang trêsna asih.

Watak merendahkan diri itu, akan menemukan kebaikan, tentram dan kaya teman, dihormati oleh sesama, dihargai oleh teman-teman semua, akan banyak yang menyayangi.


23.
Kang garwa samya tumungkul, sadaya matur wot sari, Dhuh pukulun kasinggihan, wulangipun gurulaki, saliring dhawuh paduka, sayêkti kawula pundhi.

Seluruh istri (Gatholoco) menunduk, semua berkata hendak menjalani, Duh yang mulia, nasehat dari seorang Gurulaki (suami), segala yang telah terucapkan, sungguh kami semua akan menjalani.


24.
Gatholoco alon muwus, Rehning sira wus ngantêpi, darma saking karsaningwang, kepengin arsa udani, pratandhane kang sanyata, apa bênêr sira estri.

Gatholoco pelan berkata, Dikarenakan kalian semua sudah mantap, setia bakti karena kehendak kalian sendiri sekarang aku ingin, hendak melihat, bukti nyata, apakah benar-benar kalian semua ini seorang wanita?


25.
Samengko mrih gênahipun, manira arsa nontoni, mring prenah têtêngerira, wujude ingkang sajati, sireku pada lukara, supaya cêtha kaeksi.

Sekarang agar nyata, aku hendak melihat dengan mata kepalaku sendiri, kepada tempat tanda seorang wanita, wujudnya yang sesungguhnya, kalian semua bukalah busana kalian, agar jelas terlihat.


26.
Para garwa alon matur, Dhuh pukulun kadi pundi, dene paring dhawuh lukar, kawula lumuh nglampahi, krana saking botên limrah, nalar saru tan prayogi.

Seluruh istri pelan berkata, Duh yang mulia bagaimana maksudnya? Memberikan perintah agar kami telanjang, kami malu menjalani, karena tidak lumrah hal itu dilakukan, sangat saru dan tidak baik.


27.
Gatholoco asru bêndu, Tuturmu padha ngantêpi, mantêp lair batinira, mituhu mring gurulaki, kaya paran ing samangkya, tan miturut prentah mami.

Gatholoco berkata, Bukankah kalian tadis udah mantap, lahir hingga batin, menuruti perintah Gurulaki, sekarang bagaimana, kok membantah perintahku?


28.
Lamun rewel datan manut, sireku bakal bilahi, sidane nêmu cilaka, katiban gitik panjalin, wong siji kaping limalas, lan maneh sun sêpatani.

Jika rewel tidak menurut, kalian bakal cemar, mendapatkan kecelakaan, tertimpa pukulan penjalin, setiap orang lima belas kali, dan akan aku kutuk nanti.


29.
Ananging yen padha manut, nurut marang karêp mami, sawuse lukar busana, nuli marang tilam sari, awakingsun pijêtana, supaya kêsêle mari.

Akan tetapi manakala semua menurut, menuruti keinginanku, setelah bertelanjang bulat, seterusnya menuju ke peraduan, pijitlah diriku ini, agar hilang rasa lelah yang kurasakan.


30.
Para garwa samya manut, tyas ajrih den supatani, sadaya lukar busana, Gatholoco dhuk umeksi, gumujêng alatah-latah, sarwi ngingkrang munggeng kursi.

Seluruh istri menuruti, dalam hati takut kalau dikutuk, semua membuka busananya, Gatholoco begitu melihat, tertawa terbahak-bakak, sembari duduk diatas kursi.


31.
Mangkana denira muwus, Saiki katon sajati, wus cêtha nyata wanita, têngêre wadon kaeksi, warna-warna datan padha, ana gêdhê ana cilik.

Beginilah dia berkata kemudian, Sekarang sudah terlihat yang sesungguhnya, benar-benar jelas kalian seorang wanita, bentuk kewanitaan kalian sudah terlihat, beraneka bentuknya tidak sama, ada yang besar ada pula yang kecil.


32.
Rehning cêtha wus kadulu, wujudnya sawiji-wiji, akarya rênaning driya, ing samêngko sun lilani, kabeh padha tutupana, ngagêma busana maning.

Karena aku sudah melihatnya, bentuk satu persatu milik kalian, membuat diriku senang, sekarang aku mengijinkan, tutupilah lagi, pakailah busana kalian kembali.


33.
Yen sireku arsa wêruh, marang sajatining laki, duwekingsun tingalana, becike apa saiki, utawa mêngko kewala, sakarêpmu sun turuti.

Jikalau kalian ingin melihat, kepada bentuk milikku, lihatlah kemari, sekarang juga, atau nanti, terserah kalian.


34.
Lamun sira ngajak ngadu, duwekmu lan duwek mami, manira manut sakarsa, gêlêm bae ingsun wani, sira ngajak kaping pira, manira saguh ngladeni.

Jika kalian semua mengajak untuk mengadu, milik kalian semua dengan milikku, aku akan menuruti, aku berani walau kalian semua mengajak berapa kali, aku sanggup melayani.


35.
Rêtna Dewi alon matur, Pukulun pêpundhen mami, prakawis nalar punika, amba tan kapengin uning, dhumatêng wujuding priya, nuwun gunging pangaksami.

Retna Dewi pelan berkata, yang mulia sesembahan hamba, masalah itu, kami tidak ingin melihat, kepada bentuk barang milik lelaki, kami memohon maaf.


36.
Kang awit pamanggih ulun, kirang prêlu angingali, kawula datan mêntala, lan malih botên prayogi, pramilane botên susah, paduka paring udani.

Sebab menurut kami, kurang perlu untuk melihat hal itu, kami sangat malu, dan lagi tidak baik, oleh karenanya tidak usah saja, jika yang mulia hendak menunjukkannya.


37.
Gatholoco alon muwus, Dhuh wong ayu mêrak ati, sumeh sêmune prasaja, susileng solah rêspati, wangsalan iki rungokna, wulang mring sira wong manis.

Gatholoco pelan berkata, Duh cantik yang menawan hati, yang manis dan sangat sopan, yang beretika dan menyenangkan hati, pantun ini dengarkanlah, ini wejanganku kepada kalian semua.


SERAT GATHOLOCO (15)


Diambil dari naskahasli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA


PUPUH X
Dandanggula

1. Jayengsastra êmpaning lêlungid (carik), sirik agêng jênênging wanudya, luput barangreh wurine, wruh ing wêkasanipun, teja panjang kang ngêmu warih (kluwung),sinjang agêming priya (bêbêd), kang kêdah sinawung, pawestri kathah rubêdnya,taji sawung (jalu) ganda pangusaping lathi (lênga krawang), kaluputekawangwang.
Mahir dalam tulis menulisdan memegang rahasia (CARIK), 'si-RIK' (Larangan) besar bagi seorang wanita,tidak memikirkan hasil akhirnya, tidak memperhitungkan untung ruginya (hanyamemperturutkan kesenangan atau foya-foya), cahaya panjang yang mengandung air(KLUWUNG/PELANGI), sinjang (kêmben) yang dipakai pria (BĒBĒD), yang harus 'sina-WUNG'(Diingat), seorang wanita banyak 'ru-BED' (batasan secara kodrati), taji(senjata) milik ayam (JALU) bau yang diusapkan dilidah (Lênga KRAWANG), batasankodrati itu jelas 'kawang-WANG' (terlihat).
2. Putran-dhênta(pratima) ron aglar ing siti (uwuh), pêlêm agung kang galak gandanya (kuweni),ewuh aya pratikêle, wanita tindak dudu, kuda mijil ing Tamansari (Kalisahak),piring siti (pinggan) upama, dadyan dhewekipun, angrusak badan priyanggan, saritala (malam) dhadhaking ron (talutuh) sun wastani, nalutuh alam dunya.
Boneka indah (PRATIMA)daun yang berguguran menumpuk ditanah (UWUH/SAMPAH), mangga besar yang kerasbaunya (KWENI), 'e-WUH' (susah) 'PRA-tikele' (pemikirannya), bagi wanita yang telah melakukan kesalahan(karena sebuah kesalahan yang dilakukan seorang wanita sangat dipandang tidakpatut dalam tatanan masyarakat), Kuda disebuah taman sari (KALISAHAK), piringdari tanah (PINGGAN) seandainya, maka jadilah wanita tersebut, 'angru-SAK'(merusak) badan 'priyang-GAN'(diri sendiri), sari tala (MALAM yang dibuatmembathik) kotoran daun (TLUTUH/GETAH) aku katakan yang demikian itu, akanmenjadi 'nalu-TUH' (jatuh kehormatannya) 'al-AM' (dialam) dunia.
3. Kismarêmpu (lêbu) atmaja Jumiril (Umarmaya), marma estri tan kalêbu wêca, Nata Prabuing Tasmitên (Gêniyara), kaca kang tanpa ancur (ram), gawe eram ingkangningali, pantês yen piniyara, talatahing laut (muwara), ing tekad angayawara,jamang wastra (têpi) ojating wong awêwarti (kaloka), nêtêpi ing saloka.
Tanah yang hancur(LEBU/DEBU) putra Raja Jumiril (UMARMAYA), ' MARMA' (Oleh karenanya) seorangwanita yang buruk tidak akan jadi pilihan, Raja diraja dinegara Tasmiten(GENIYARA), kaca yang tidak tajam (RAM), membuat 'e-RAM' (kagum) bagi yangmelihatnya, sungguh patut untuk diambil istri (wanita yang tidndak-tanduknyasenantiasa waspada), wilayah tengah lautan (MUWARA/MUARA), membuat lelaki yangmelihat dalam hati jadi 'ngaya-WARA' (tidak karu-karuan karena sangat memikat),hiasan kemben (TEPI) suara orang yang memberikan kabar (KALOKA/BERKUMANDANG),sungguh seorang wanita yang 'nete-PI' (mematuhi) 'salo-KA' (SLOKA/ sastrasuci).
4. Gingsiringwulan purnama siddhi (grahana), bêbayi sah kang saking tuntunan (puput),graitanên sauntase, ingkang tumibeng luput, tambang palwa (wêlah) ingsun wastani,parikan jênu tawa (tungkul), pan aja katungkul, ing solah kang tanpa karya, mênyankuning (wêlirang) kang toya saking jasmani (kringêt), engêta kawirangan.
Hilangnya bulan purnama(GRAHANA/GERHANA), bayi yang telah lepas dari tangan (PUPUT/mulai bisaberjalan), 'GRA-itanen' (renungkanlah) seluruhnya, apa saja yang akan membuatkamu jatuh pada 'lu-PUT' (kesalahan), tambang perahu (WELAH) aku sebut, syairjenu tawa (TUNGKUL), jangan sampai 'ketung-KUL' (lalai), pada 'so-LAH'(perbuatan) yang sia-sia, kemenyan berwarna kuning (WELIRANG/BELERANG) air yangkeluar dari badan (KRINGET/KERINGAT), 'e-NGET-a' (Ingat-ingatlah) akan 'kawi-RANG-an'(malu).
5. Ing NgajêrakPapatih Nata Jin (Sannasil), pulas langking kang kinarya sastra (mangsi),keksi-eksi wêkasane, tanpa asil ing laku, sêmbahyange janma minta sih (salathajat), katrapaning manusa (dhêndha), dhêndhaning Hyang Agung, tanpa kajatingpanyipta, yasa ranu (bale kambang) Narendra Bojanagari (Suryawisesa), kumambanging wisesa.
Patih Jin di negaraNgajerak (SANNASIL), cairan hitam yang bisa dibuat menulis sastra (MANGSI/TINTA),'kek-SI ek-SI' (terlihat jelas) juga akhirnya, tiada 'a-SIL' (hasilnya/sia-sia)bagi diri sendiri, sembahyang manusia meminta anugerah (SALAT KAJAT/HAJAT),hukuman uang bagi manusia (DHENDHA/DENDA), 'DHENDHA' (Hukuman) Hyang Agung,tiada 'ka-JAT' (diingini/dikehendaki) akan nyata datang, membuat tempatditengah danau (BALE KAMBANG) Raja Bojanegara (SURYAWISESA) 'kumam-BANG'(terkatung-katung) ditengah 'wi-SESA' (Kuasa : maksudnya Kuasa Tuhan yangmenjatuhkan hukuman)
6. Janmawirya (mukti) salendro jroning pring (suling), dipun eling-eling wong ngagêsang,aja manggung mukti bae, dhuh babo jamang wakul (wêngku), sêkar pandhan mawurkasilir (pudhak), najan têdhaking Nata, sajagad winêngku, barat gung mrataweng wrêksa(prahara), jarot pisang (sêrat) ana mlarat ana sugih, wus kaprah alam dunya.
Manusia yang berkecukupan(MUKTI/KAYA) senandung didalam bilah bambu (SULING/SERULING), harus di-'Eling-Eling'(diingat) manusia hidup, jangan hanya mengejar 'MUKTI' (kekayaan) saja, duh ibumahkota tempat nasi (WENGKU), bunga pandhan yang beterbangan jika tertiup(PUDHAK), walaupun 'te-DHAK' (keturunan) bangsawan, seluruh dunia 'wineng-KU'(dimiliki), angin besar merobohkan pepohonan (PRAHARA), serat pada buah pisang(SERAT) ada yang mela-RAT ada yang kaya, sudah 'ka-PRA-h' (lumrah) dialam duniaini.
7. PutriMandura (Sumbadra) kang nyamang kudi (karah), najan trahing janma sudra papa,lamun bêcik pamarahe, Aji Nata Salyeku (Candrabhirawa), putêr alit ginantang nginggil(prêkutut), patut sira anggowa, candhongna ing kalbu, Wiku Raja ing Kusniya(Bawadiman), Sarkap putra (Samardikaran) den gêmi simpên wêwadi, ywa kongsikasamaran.
Putri dari negara Mandura(SUMBADRA), mahkota kampak (KARAH), walaupun keturunan orang 'SU-DRA' papa,jika baik 'pama-RAH-e' (kelakuannya), Aji (kesaktian) Raja Salya(CANDRABHIRAWA), burung puter kecil yang ditaruh diatas (burung PREKUTUT), 'pa-TUT'(layak) dijadikan tauladan, 'CAN-dhongna' (ikatkan) dalam hatimu, Raja Wiku dinegara Kusniya (BAWADIMAN), putra Sarkap (SAMARDIKARAN) harus bisa menyimpan 'we-WADI'(rahasia rumah tangga), jangan sampai 'kasama-RAN' (terlena).
8. Tawonagung kang atala siti (tutur), wikan nugraha wulang akherat (swarga), yen siranggotutur kiye, nyuwargakkên bapa biyung, nyarambahi mring kaki nini, salawase raharja,mitra karuh lulut, yen kêna godhaning setan, sapu gamping (usar) garwa HyangGuru Pramesthi (Bathari Durga), durgama karya sasar.
Tawon besar yang berumahdidalam tanah (TUTUR), anugerah dari Yang Maha Berwenang diakherat(SWARGA/SURGA), jikalau kalian pakai 'TUTUR'(Nasehat) ini, bakal 'nyu-WARGA-aken' (membuat surga) bagi ayah dan ibu, bahkan kepada kakek dan nenekkalian, selamanya sejahtera, seluruh teman segan, tapi manakala tergoda setan,sapu batu kapur (USAR) istri Hyang Guru Pramesthi (BATHARI DURGA), 'DURGA-ma'(membuat halangan) hingga akhirnya 'sa-SAR' (sesat).
9. Widenggalêng (yuyu) Kumbayana siwi (Aswatama), têgêse estri ayu utama, pratandha sêratpangrêmbe (pengêt), cipta tyas tan kawêtu (graita), kang wus lêpas graitalantip, nget-engêt ing kawignyan, pangumbaring puyuh (jajah), anjajah saruningbadan, jala panjang (krakad) suluke wayang kalithik (sêndon), yen kalêdon ingtekad.
Mainan gangsing yang adadipematang (YUYU) putra Kumbayana (ASWATAMA), seorang wanita harus 'a-YU u-TAMA'(cantik lahir batin), surat pangrembe (surat berisi peringatan/PENGET), katahati yang belum keluar (GRAITA), yaitu merekalah yang sudah mampu 'GRAITA'(berfikir) dewasa, 'NGET e-NGET' (senantiasa mengingat) kepada keutamaan, arealterbang burung puyuh yang dilepaskan (JAJAH), 'an-JAJAH' (memenuhi) seluruhbadan (lahir batin), jala ikan yang panjang (KRAKAD) suluk/nyanyian jeda padapertunjukan wayang klithik (SENDON), jika 'kale-DON' (terlena) pada 'te-KAD' (kehendak~ maksudnya watak yang buruk akan menjajah lahir batin jika terlena tekadnya)
10. Kênthangrambat (katela) gancaring wong ngringgit (lakon), têtuladha estri kang utama,kang prayoga lêlakone, singa lit munggeng kasur (kucing), kenya putri Kartanêgari(Susilawati), yen tan susileng priya, pan kuciweng sêmu, dêkunging sabda tanaga(taklim), gugur parlu (batal) nora batal ing wêwadi, wong taklim sapadanya.
Tanaman kentang yangmerambat (KETELA) jalan cerita orang yang memainkan wayang (LAKON), akanmenjadi 'TE-tu-LA-dha' (suri tauladan) seorang wanita yang utama, yang baik 'le-LAKON-e'(perbuatannya), singa kecil yang suka tidur di kasur (KUCING), seorang permausuriraja Kertanegari (SUSILAWATI), jikalau tidak 'SUSI-leng' (menghormati) suami,akan membuat 'KUCI-weng' (kecewa), luruhnya tenaga suara (TAKLIM/SALAM HORMAT),gugurnya yang fardlu' (BATAL) jika tidak 'BATAL' (gugur) menyimpan rahasia,semua orang akan 'TAKLIM' (menaruh hormat) kepadanya.
11. RêtnaDewi matur awot sari, saking dhawuh piwulang paduka, muhung nuwun pangestune,mugi-mugi jinurung, badan kula bangkit nglampahi, Gatholoco ngandika, dhuh sirawong ayu, ayune ayu têmênan, aywa kaget ingsun lilanana pamit, saiki ingsunlunga.
Retna Dewi berkata "Hendakmenjalani, segala nasehat dan petunjuk paduka, mohon restu, agar semogamendapat tambahan kekuatan, bagi saya untuk kuat menjalani", Gatholoco berkata,"Dhuh kalian semua yang cantik, benar-benar cantik lahir batin, jangan terkejutaku relakan pamit sekarang, aku hendak pergi."
12. Kranaprêlu kangên arsa tilik, anak murid ing pondhok Cêpêkan, besuk bali mrenemaneh, sira keri rahayu, Gatholoco mangkat pribadi, ing marga tan winarna,kacarita sampun, dumugi pondhok Cêpêkan, para murid dupi miyat ingkang prapti,sukeng tyas kanthi kurmat.
Karena ada keperluankangen dan hendak menjenguk, anak muridku yang ada di pondok Cepekan, kelak akuakan pulang lagi kemari, tinggallah dengan selamat." Gatholoco berangkatsendirian, dijalan tidak diceritakan, sudah sampai, di pondok Cepekan, paramurid begitu melihat siapa yang datang, gembira hati dan memberikan hormat.


SERAT GATHOLOCO (16) - TAMAT


Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADENTANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMARSHASHANGKA



PUPUH XI
Kinanti


1. Gatholoco praptanipun, ing Cepekan pondhok santri, langkung sukaning wardaya, aningali para murid, samya sanget kurmatira, dhumateng Sang Gurunadi.
Kedatangan Gatholoco, dipondok pesantren Cepekan, sangat suka didalam hati, begitu melihat para murid,sangat patuh menghormati, kepada Sang Gurunadi (Guru Kehidupan).
2. Nulya minggah langgar gupuh, sesalaman genti-genti, riwusnya samya salaman, para murid nilakrami, wilujeng rawuh paduka, Gatholoco anauri.
Segera naik keataslanggar, bersalaman berganti-ganti, selesai bersalaman, seluruh murid menanyakankabar, keselamatan atas kedatangan (Gatholoco), Gatholoco menjawab.
3. Iyasaking pandongamu, ingsun ginanjar basuki, sasuwene ingsun tilar, sira kabehanak murid, apa padha kawarasan, santri murid awot sari.
Atas doa kalian semua, aku dianugerahi keselamatan, selama aku tinggal pergi, kalian semua anak muridku,apakah selamat juga, seluruh santri menjawab mengiyakan.
4. Pangestu brekah pukulun, palimarmaning Hyang Widdhi, sadaya kawilujengan, maksih langgeng kados lami, Gatholoco angandika, Kapriye wulangku nguni.
Atas restu dan berkah paduka, sehingga anugerahHyang Widdhi, membuat kami semua disini selamat sejahtera, tetap tidak berubahseperti dulu, Gatholoco berkata, Bagaimana dengan yang aku ajarkan dulu?
5. Apasira isih emut, sokur lamun ora lali, aturnya maksih kemutan, Kawula sanget kapengin, nuwun mugi kasambungan, lajengipun kados pundi.
Apakah kalian semua masih mengingatnya? Sukurlah jika tidak lupa. Semua menjawab masih ingat, Kami bahkan ingin, agar ditambah wejangan, wejangan selanjutnya bagaimanakah?
6. Gatholoco alon muwus, Panjalukmu sun turuti, sireku aywa sumelang, uga bakal sun sambungi, lah mara padha rungokna, manira tutur saiki.
Gatholoco pelan menjawab, Permintaan kalian akan aku turuti, jangan khawatir, akan aku tambah wejanganku, nah sekarang dengarkanlah, aku hendak memberikan wejangan.
7. Nugrahaning Buddhi iku, saurana Tri Prakawis, Cipta Ning kang kaping pisan, Panggraita kaping kalih, Sang Panyipta kaping tiga, Kanugrahaning Roh kuwi.
Anugerah Buddhi(Kesadaran), ada tiga macam, Cipta Ning (Pikiran menjadi hening) yang pertama, Panggraita (Perasaan murni) yang kedua, Sang Panyipta (Yang Mencipta) ketiga (maksudnya siapa saja yang Kesadarannya meningkat, maka dapat ditandai dengan tiga hal, Pikiran liar menjadi hening, Perasaan menjadi murni dan Kesadaran hanya akan menjadi perwujudan Sang Pencipta yang murni, tidak neko-neko, tidakcemas, tidak khawatir hanya menjadi perwujudan Kesadaran murni Sang Pencipta/Tuhan: Damar Shashangka), Anugerah Roh itu.
8. Sauranaiku Telu, ana dene ingkang dhingin, Urip Tan Kalawan Nyawa, ingkang kaping kalih kuwi, Ora Angen-Angen liyan, Allah Kewala kaping tri.
Ada tiga juga, yangpertama, Hidup tanpa nyawa (maksudnya hidup tanpa kehidupan selayaknya makhluk biasa. Makhluk biasa hidup ditandai dengan adanya nafas, yang telah mendapat anugerah kembalinya kemurnian Roh, maka dia telah hidup tanpa nafas, hidup tanpa darah, hidup tanpa detak jantung, hidup tanpa pergerakan paru-paru, dll.Nafas, pergerakan paru-paru, detak jantung, mengalirnya darah, adalah tanda-tanda makhluk BERNYAWA, namun siapa saja yang telah murni Roh-nya, maka dia telah HIDUP TANPA MEMBUTUHKAN SARANA-SARANA PENUNJANG ITU SEMUA, dan bisa disebut TELAH HIDUP TANPA NYAWA : Damar Shashangka), yang kedua, tak ada yang disadarinya lagi, kecuali hanya ALLAH saja dan yang ketiga.
9. Tan ana woworanipun, ingkang Wahdatilwujudi, Nugrahan Sakarat pira, saurana Tri prakawis, kang dhingin Adhepanira, Idhep ingkang kaping kalih.
Tak bisa dibedakan lagi, yang disebut Wahdatulwujud (Kesatuan Wujud ~ Wujud Allah dan wujud Roh telah melebur jadi satu : Damar Shashangka), Anugerah Sekarat ada tiga, yang pertama Arah Hadapmu (Adhep), Pikiran yang bulat (Idhep) yang kedua.
10. Madhep ingkang kaping telu, lamun sira den takoni, Nugrahaning Iman pira, saurana TriPrakawis, Sokur ingkang kaping pisan, Tawakal ingkang ping kalih.
Niat yang mantap (Madhep) yang ketiga (maksudnya manusia bisa dikatakan mendapatkan anugerah disaat kematian jika saat itu tiba Arah Hadap jiwa hanya satu kepada SUMBER ABADI,Pikiran hanya bulat kuat kepada SUMBER ABADI, dan Niat hanya satu terarah kepada SUMBER ABADI ~ Adhep, Idhep, Madhep, jika tidak maka dia akan kembali jatuh kedunia, akan terlahirkan kembali karena pikirnnya dipenuhi keduniawian : DamarShashangka), Anugerah Iman, ada tiga macam, Bersyukur yang pertama, Tawakkal (Pasrah) yang kedua.
11. Sabar ingkang kaping telu, pira Nugrahaning Tokid, saurana Dwi Prakara, krana Tetep ingkang dhingin, Wadi kaping kalihira, Nugrahan Makrifat Jati.
Sabar yang ketiga (manusiabisa disebut mendapatkan anugerah keimanan jika sudah mampu bersikap Sukur, Pasrah dan Sabar : Damar Shashangka), Anugerah Tokid (Tauhid), ada dua macam, Krana Tetep (Tetap Tunggal Adanya) yang pertama, dan Wadi (Rahasia) yang kedua (maksudnya manusia bisa disebut mendapat anugerah akan Tauhid jika memahami bahwa semua ini TETAP DALAM SATU KESATUAN TAK TERPISAHKAN dan memahami RAHASIA BAHWA TIADA YANG LAIN SELAIN TUHAN DISELURUH ALAM INI : Damar Shashangka), Anugerah Makrifat Sejati.
12. Sira sumaura gupuh, iku namun saprakawis, Ana Ing Kahananira, Anenggih Karsa:Rasaning, Rasa Wisesa Prayoga, Martabate Kramat kuwi.
Jawablah dengan cepat, hanya ada satu macam, Berada Pada Keberadaan-Nya, dan kehendak makhluk, menjadi rasa sejati yang berwenang dalam kemurnian sempurna, Martabat/Tingkatan/Uraian Kramat (Karomah/Kemuliaan) itu.
13. Mangretine ana Telu, Karem Apngal Para Mukmin, Para Wali Karem Sipat, a-Karem Dzat Para Nabi, lire Karem Ing Dzatullah, ya sok ana asihaning.
Sungguh ada tiga tingkat, Lebur dalam Apngal (Af-'al : Perbuatan/Aktifitas Tuhan) bagi para mukmin, bagi para Wali lebur dalam Sipat (Sifat : Watak Tuhan), sedangkan para Nabi lebur kedalam Dzat ( Dzat : Keberadaan Sejati Tuhan). Yang dimaksud dengan lebur kedalam Dzatullah (Dzat Allah), senantiasa dalam KASIH-NYA.
14. Ingkang Karem Sipat iku, uga ana gumletheking, lire Karem Apngalullah, mila ana obah osik, yen sebit paningalira, ening kabuka sayekti.
Yang lebur dalam Sifat, senantiasa dalam KEDAMAIANNYA, yang lebur dalam Apngalullah (Af-'alullah :Perbuatan Allah), seluruh diam dan geraknya untuk Allah, jika tajam kesadarannya, dan hening kekotoran batinnya, akan mampu membuka rahasia sejati.
15. Ing Sipat Jalal puniku, Jamal Kamal Kahar nenggih, dumadine imanira, sakbul gumletheking ati, dadine oleh sampurna, sampurnaning gesang nenggih.
Membuka kesejatian Jalal (YangAgung), Jamal (Yang Cantik) Kamal (Yang Sempurna) dan Kahar (Yang Kuasa), akan menjadi iman kalian yang nyata (keyakinan yang benar-benar telah menyaksikan sendiri), menjadikan Kedamaian jiwa, memperoleh kesempurnaan, kesempurnaan hidup yang sesungguhnya.
16. Martabate Nyawa iku, lamun sira den takoni, kathahe namung satunggal, iya iku Roh Ilapi, mung sawiji marganira, tegese Urip puniki.
Martabat/Tingkatan/UraianNyawa (Hidup), jika kalian ditanya, jawabannya hanya ada satu, yaitu Roh Idhofi (Ruh Yang Menguatkan), hanya satu keberaadaannya, sesungguhnya (Roh Idhofi) itu tak lain adalah HIDUP ini.
17. Ora nana Urip telu, ingkang mesthi mung sawiji, lamun sira tinakonan, endi Allah ing saiki, iku nuli saurana, sapa ingkang ngucap kuwi.
Tak ada HIDUP bercabang tiga, hanya ada satu, jika kamu ditanya, dimanakah Allah sekarang? Jawablah, Siapakah yang berani bertanya tadi?
18. Aja ta sireku umyung, yen sira dudu Hyang Widdhi, yektine ingkang den ucap, kang ngucap tan liyan Widdhi, nanging kudu kawruhanana, ing Panarima sayekti.
Janganlah kamu bingung (hai yang bertanya), JIKA DIRIMU BUKAN PERWUJUDAN HYANG WIDDHI/ALLAH (LANTAS SIAPAKAH DIRIMU), SESUNGGUHNYA APA YANG KAMU UCAPKAN, BERIKUT YANG MENGUCAPKAN TAK LAIN SEMUA ADALAH HYANG WIDDHI ITU SENDIRI. Akan tetapi harus benar-benarkamu sadari sendiri hal itu, dengan segala pemahaman total yang ada pada dirimu.
19. Ana ingkang Nrima iku, Kaya Toya lawan Siti, lawan ingkang Kaya Udan, apa dene Kaya Wesi, kalawan Kaya Samudra, ingkang Kaya Lemah Warih.
Pemahaman total itu,bagaikan Air dan Tanah, dan juga bagaikan Hujan, bagaikan Besi pula, juga bagaikan Samudera. Yang dimaksud bagai Tanah dan Air.
20. Den Rumesep tegesipun, Ora Pegat Kang Rohani, tegese kang Kaya Udan, Datan PegatTingalneki, ana maneh Kaja Tosan, Sakarsanira Mrentahi.
Resapilah segala pemahaman itu, tiada putus jiwamu (siang malam) meresapi tentang kesatuan wujud itu, yang dimaksud bagaikan Hujan, tak terputus melihat segala isi dunia adalah wujud-Nya (bagaikan rintik hujan yang sambung menyambung tiada putusnya), dan yang dimaksud bagaikan Besi, sekehendak yang membuat.
21. Ginaweya arit wedhung, pethel wadhung kudi urik, Ora Owah Sipatira, Isih bae Wujudneki, ingkang upama Samudra, Pituduh ingkang prayogi.
Hendak dibuat jadi celurit linggis, palu kampak senjata, Tapi tidak terpengaruh sifat besinya, tetap berwujud besi (begitu juga walau berwujud bermacam-macam, jangan terkecoh bahwa semua itu hanya perwujudan dari Tuhan semata), yang bagaikan Samudera, telah mendapatkan kesadaran yang sesungguhnya.
22. Puniku mesthine antuk, ing ujar sakecap tuwin, ing laku satindak lawan, ameneng sagokan nenggih, lamun wis Kaya Samudra, Ora Owah Tingalneki.
Telah menyadari, bahwa setiap ucapan, setiap langkah, diam dan gerak, semua bagaikan Samudera (dengan ombaknya ~ tak terpisahkan mana Tuhan mana Hamba), Tiada lagi Goyah Kesadarannya.
23. Sira andulu dinulu, ora nana tingal kalih, ora nana ucap tiga, dadi sampurna salating, weruh paraning sembahyang, weruh paraning ngabekti.
Yang melihat (Hamba) dan Yang Dilihat (Gusti), tiada lagi dua, tiada lagi ucapan bercabang tiga, inilah kesempurnaan shalat, tahu arah menyembah, tahu arah berbakti yang sesungguhnya.
24. Nyata bener ora kusut, lan weruh paraning osik, weruh paraning neng-ira, weruh paraning miyarsi, weruh paraning pangucap, weruh paran ngadeg linggih.
Nyata berdiam dalam Benar yang tanpa kesalahan, tahu asal gerak hati, tahu asal diamnya hati, tahu asal pendengaran, tahu asal pengucapan, tahu asal berdiri dan duduk kita siapa yang menggerakkan.
25. Lan weruh paraning turu, weruh paranira tangi, weruh paraning memangan, weruh paran nginum warih, weruh paran ambebuwang, weruh paran sene nenggih.
Tahu asal tidur, tahu asal jaga, tahu asal makan, tahu asal minum, tahu asal membuang kotoran, tahu asal membuang air seni.
26. Weruh parang seneng nepsu, weruh paraning prihatin, weruh paran ngidul ngetan, mangalor mangulon kuwi, weruh paraning mangandhap, weruh paraning manginggil.
Tahu asal kesenangan dan nafsu, tahu asal jiwa yang penuh kekuatan menahan hawa nafsu, tahu tempat selatan dan timur, utara barat sesungguhnya, tahu arah bawah, tahu arah atas yang sesungguhnya.
27. Weruh paran tengah iku, weruh paranira pinggir, weruh paraning palastra, weruh paranira urip, weruh kabeh kang gumelar, kang gumreget kang kumelip.
Tahu arah tengah, tahu arah pinggir, tahu tujuan kematian, tahu tujuan hidup, tahu segala hal yang mewujud, yang bergerak dan yang berkelip-kelip ini semua.
28. Tan samar weruh sadarum, anane samita iki, sira kabeh poma-poma, anakingsun para murid, sireku aywa sembrana, weruha rasaning tulis.
Tiada samar lagi mengetahui semuanya, semua wejanganku ini, wahai kalian semua ingat-ingatlah,oh anak muridku, jangan sampai ceroboh, harus memahami inti sari tulisan.
29. Dene sira yen wis weruh, kekerana ingkang werit, aywa umyung pagerana, aywa sembarangan kuwi, nganggo duga kira-kira, aywa dumeh bisa angling.
Jikalau kalian sekarang sudah memahami, jagalah benar-benar, jangan gampang diucapkan dan pagarilah,jangan sembarangan diucapkan, harus memakai kira-kira dan tempat yang sesuai, jangan hanya asal bisa bicara.
30. Lan maneh aywa kawetu, mring wong ahli sarak nenggih, yen maido temah kopar, karana rerasan iki, ora amicara sarak, amung Sajatining Ilmi.
Dan lagi kalau bisa jangan sampai terdengar, kepada ahli Sarak (Syari'at), jika berbantahan dengan merekaakan sia-sia, sebab wejangan ini, tidak lagi membahas sarak (syari'at), akan tetapi membahas Sejatinya Ilmu.
31. Ingkang renteng ingkang racut, tan ana kaetang malih, caritane soal ika, padha anggitening batin, dadi wijange sadaya, sira ingkang ahli buddhi.
Yang tertata dan yang terjaga, tak ada lagi yang perlu diwejangkan, tentang hal ini semua, masukkan dalam batinmu masing-masing, sehingga kamu bisa membuktikannya sendiri, wahai kalian ahli Buddhi (Ahli Kesadaran)!


(Selesai)



Sumber: Dari berbagai sumber

6 comments:

Unknown said...

Persis dgn apa yg dipapar kan oleh GURU BESAR MASNATA GIMBAR ALAM

yanqo nata de coco said...

Rahayu rahayu rahayu

Unknown said...

So good from damar sashongko

Abdillah said...

The best

pipit prihyatna said...

Defensifnya nenek moyangku,Such beautiful teaching

kohar-junaidi said...

Karya yg bermakna sangat dalam.Salam..